Pesan Moral Aneh Kisah Nabi Luth

Sodom.630x300

Kisah Nabi Luth pasti dikenal oleh penganut agama rumpun Ibrahim, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Kisah ini ada dalam Qur’an dan Kitab Perjanjian Lama.

Apa pesan moral kisah tersebut?

Penganut Islam dan Kristen dapat dengan cepat menyebutkannya: hubungan seks sesama jenis adalah dosa yang sangat dibenci Allah. Untuk perbuatan tersebut Allah telah mengirim azab yang memusnahkan kaum Luth.

Tetapi adakah pesan moral lain yang bisa diambil dari cerita di kedua kitab suci tersebut?

Ada. Dan ini sungguh mengejutkan karena pesan tersebut adalah hal yang tidak bisa diterima oleh norma-norma yang wajar dimasa kini.

Pesan Moral Aneh

Untuk Kitab Perjanjian Lama, saya akan mengutip Kitab Genesis sebagai berikut:

Gen 19:1  Sesudah bertamu pada Abraham, kedua malaikat itu pergi ke Sodom dan tiba di sana pada waktu malam. Lot sedang duduk di pintu gerbang kota, dan setelah melihat mereka, ia bangkit untuk menyambut mereka. Lalu sujudlah ia di hadapan mereka,
Gen 19:2  dan berkata, “Tuan-tuan, silakan singgah di rumah saya. Tuan-tuan dapat membasuh kaki dan bermalam di rumah saya. Besok kalau mau, Tuan-tuan dapat bangun pagi-pagi dan meneruskan perjalanan.” Tetapi mereka menjawab, “Terima kasih, biar kami bermalam di sini saja, di lapangan kota.”
Gen 19:3  Lot memohon dengan sangat, dan akhirnya mereka masuk bersama dia ke dalam rumahnya. Lot menyediakan hidangan lezat dan memanggang roti secukupnya, lalu makanlah mereka.
Gen 19:4  Tetapi sebelum tamu-tamu itu pergi tidur, orang-orang Sodom mengepung rumah itu. Semua orang laki-laki di kota itu, baik yang tua maupun yang muda, ada di situ.
Gen 19:5  Mereka berseru kepada Lot, dan bertanya, “Di mana orang-orang yang datang bermalam di rumahmu? Serahkan mereka, supaya kami dapat bercampur dengan mereka!”
Gen 19:6  Lot keluar dari rumahnya, dan sesudah menutup pintu,
Gen 19:7  ia berkata kepada orang-orang Sodom itu, “Saudara-saudara, saya minta dengan sangat, janganlah melakukan hal yang sejahat itu!
Gen 19:8  Coba dengar, saya punya dua anak perawan. Biar saya serahkan mereka kepada kalian dan kalian boleh melakukan apa saja dengan mereka. Tetapi jangan apa-apakan tamu-tamu saya ini; sebab saya wajib melindungi mereka.”
Gen 19:9  Tetapi kata orang-orang Sodom itu kepada Lot, “Pergi! Engkau orang asing mau mengatur kami? Ayo, pergi! Kalau tidak, engkau akan kami hajar lebih berat daripada kedua orang itu.” Lalu mereka mendorong Lot dan menyerbu hendak mendobrak pintu.
Gen 19:10  Tetapi kedua tamu itu mengulurkan tangan mereka dan menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu.
Gen 19:11  Mereka membutakan semua orang yang ada di luar rumah itu, sehingga orang-orang itu tidak dapat menemukan pintu itu lagi.

 

Untuk Qur’an ada di Al-Hijr

Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya, (61)
ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. (62)
Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. (63)
Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. (64)
Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. (65)
Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. (66)
Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.(67)
Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), (68)
dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. (69)
Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (70)
Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (71)

 

Apa yang aneh?

Dalam kedua versi tersebut, penduduk kota (laki-laki) datang untuk meminta tamu Luth (dua malaikat yang gagah) agar diserahkan untuk melayani nafsu bejat mereka. Dalam pengaruh nafsu, mereka menantang Luth untuk menyerahkannya.

Apa reaksi Luth untuk melindungi tamunya?

Gunung Sodom dan tiang batu yang tercipta dari istri Lot karena menengok ke belakang
Gunung Sodom dan tiang batu yang konon tercipta dari istri Lot karena menengok ke belakang

Inilah pesan yang sangat tidak bisa dimengerti: Luth menawarkan dua anak gadisnya yang perawan sebagai pengganti dua orang malaikat tamunya.

Astaga! ayah macam apa Luth ini. Ia rela menyerahkan dua orang anak gadisnya kepada gerombolan beringas, demi dua orang tamu yang baru dikenalnya (walaupun itu malaikat).

Dalam kisah ini tercermin bahwa orang tua berhak menentukan nasib anak gadisnya, berhak bahkan untuk mengumpankannya ke mulut gerombolan yang dirasuki nafsu liar.

Apakah pesan kedua ini dapat diterima oleh kaidah moral sekarang? Saya rasa tidak. Tanpa ukuran agama apapun, tindakan Luth untuk menyerahkan anak gadisnya tidak dapat diterima.

Ada lagi yang aneh? Ada bahkan ini jauh lebih absurd.

Keanehan Lebih Lanjut Kisah Luth

Keanehan kisah Luth tidak berhenti disini saja. Kisah berikutnya menimbulkan pertanyaan lebih jauh. Untungnya kisah ini hanya ada di Perjanjian Lama, dalam Qur’an kisah ini tidak dicantumkan. Beruntunglah umat Islam, karena tidak perlu kerepotan untuk menjawabnya.

Dalam Perjanjian Lama, kisah Lot terus berlanjut dengan absurd. Lihat cuplikan Kitab Genesis berikutnya:


Gen 19:17  Sesudah itu seorang dari malaikat itu berkata, “Larilah, selamatkan nyawamu! Jangan menoleh ke belakang dan jangan berhenti di lembah. Larilah ke pegunungan, supaya kalian jangan mati!”

Gen 19:23
  Matahari sedang terbit ketika Lot sampai di Zoar.
Gen 19:24  Tiba-tiba TUHAN menurunkan hujan belerang yang berapi atas Sodom dan Gomora.
Gen 19:25  Kedua kota itu dihancurkan, juga seluruh lembah dan semua tumbuh-tumbuhan serta semua penduduk di situ.
Gen 19:26  Tetapi istri Lot menoleh ke belakang, lalu dia berubah menjadi tiang garam.

Gen 19:30
  Karena Lot takut menetap di Zoar, maka pergilah ia ke pegunungan bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan, lalu tinggal di dalam sebuah gua.
Gen 19:31  Anak perempuan yang sulung berkata kepada adiknya, “Ayah sudah tua, dan di seluruh negeri ini tak ada orang laki-laki yang dapat mengawini kita supaya kita mendapat anak.
Gen 19:32  Mari, kita buat ayah mabuk, lalu kita tidur dengan dia supaya kita mendapat anak.”
Gen 19:33  Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu anak yang sulung tidur dengan ayahnya; tetapi ayahnya begitu mabuk sehingga tidak tahu apa yang terjadi.
Gen 19:34  Keesokan harinya, anak yang sulung berkata kepada adiknya, “Tadi malam saya sudah tidur dengan ayah! Nanti malam kita buat dia mabuk lagi. Lalu tidurlah kau dengan dia. Nanti kita masing-masing mendapat anak.”
Gen 19:35  Demikianlah pada malam itu mereka membuat Lot mabuk, dan anaknya yang kedua tidur dengan dia. Dan Lot terlalu mabuk lagi sehingga tidak tahu apa yang terjadi.
Gen 19:36  Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu karena ayah mereka sendiri.
Gen 19:37  Anak yang sulung melahirkan anak laki-laki yang dinamakannya Moab. Dia menjadi leluhur orang Moab yang sekarang.
Gen 19:38  Anak yang kedua melahirkan anak laki-laki juga yang dinamakannya Ben-Ami. Dia menjadi leluhur bangsa Amon yang sekarang.

 

Perhatikan apa yang terjadi. Kedua anak Lot membuat ayah mereka (Lot) mabuk dan menggauli mereka agar mereka mendapat keturunan. Dan itu berhasil.

Astaga! keluarga macam apakah Lot ini?

Lot dibujuk dua anak gadisnya
Lot dibujuk dua anak gadisnya

Apakah pantas mereka disebut keluarga yang suci, hingga kisahnya diabadikan di kitab suci yang menjadi panutan umat Islam, Kristen dan Yahudi? Selain penolakannya terhadap perilaku seks yang tidak wajar, adakah yang patut dicontoh dari keluarga Luth ini?

Inilah salah satu kisah dalam kitab suci yang mendapat sorotan keras dari kelompok-kelompok kritikus agama.

Kisah ini memang absurd.

Mungkin anda mempunyai jawabannya?

Baca Juga:

386 komentar

  1. Wisya Reply

    Kalau saya baca2 cerita nabi. Semua sebuah contoh filosofi hidup yg baik. Yang ditokohkan oleh para manusia yang disebut nabi. Di semua wilayah yg memiliki beradabam pasti punya hal tersebut termasuk Indonesia. Tinggal tokoh2 tadi disampaikan mengikuti perkembangan zaman atau tidak. Kalau kaca mata saya kalau cerita2 nabi staknan berhenti di tempat dan membosankan para agamawan takut melakukan perombakan sesuai dengan peradaban karena takut akan Allah SWT (terbelenggu dengan kisah usang abad 15). Kalau cerita Batman, Superman dari dunia barat cerita2 itu up to date tidak membosankan. Semua menyampaikan kebaikan dan visi kemanusiaan agar dicontoh para manusia dan tidak dijadikan dogma agama begitu saja. Nah sekarang hak Anda masig2 untuk menilainya. Sing penting jangan saling menghina dan menjelekkan dalam sebuah diskusi ini. Mari toleransi menghargai pendapat orang lain tidak harus memaksakan diri kepada yg lain atas apa yg diyakini. Nanti Nadal koyo timur tengah gelut bae gara2 mimpin dengan sebuah keyakinan.

    • Judhianto Post authorReply

      @Wisya: setuju..
      Agama memang alat untuk membuat manusia bisa menjadi lebih baik. Unggulnya agama bukan dilihat dari spektakulernya kisah-kisah atau ajarannya, melainkan seberapa efektifnya ia menjadikannya penganutnya sebagai orang yang baik dan unggul.

      • kusuma Reply

        @Judhianto dikatakan dalam Al-Qur’an Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal). sudah diterangkan dengan jelas, KAWINLAH, SECARA HALAL, bukan berarti diminta untuk menyetubuhi mereka secara brutal, melainkan untuk menikah dan berhubungan secara HALAL, Terimakasih juga sudah diusahakan untuk menunjukkan kebenaran dari kitab Alloh yang paling benar, sesungguhnya tiada yang lebih indah dari kitab Al-Qur’an, dan Alloh pun akan tetap menjaga kesucian dari Al-Qur’an sampai hari kiamat. sekali lagi saya ucapkan beribu ucapan terimakasih.

        • Judhianto Post authorReply

          @Kusuma: silakan baca komentar-komentar sebelumnya. Anda mengulang komentar yang sudah dibahas sebelumnya.

  2. Syamsul Arifin Reply

    Memang sudah jadi kebiasaan bangsa kita, suka jadi pengamat… Padahal mereka tidak tahu apa2..
    Makanya gak heran tukang becakpun ikut-ikutan jadi pengamat.. 🙂

    • Judhianto Post authorReply

      @Syamsul Arifin: kenapa anda takut sekali dengan pendapat yang berbeda?
      Kita hidup di era demokrasi, dimana kebebasan berpendapat harus dijamin. Orang hanya boleh ditindak ketika ia melanggar hukum.

      Kalau anda punya pendapat yang lebih baik, tentunya anda tidak akan takut dengan pendapat yang buruk karena anda yakin bahwa orang akan lebih memilih pendapat anda daripada pendapat yang buruk.

      Silakan saja tukang becak bicara dan menganalisa masalah politik atau agama, itu hak mereka.
      Kalau anda tidak sependapat, ya beri saja pendapat yang lebih baik gak perlu memukul sang tukang becak. Kalau tidak mau repot, ya abaikan saja.

      • Syamsul Arifin Reply

        @Judhianto.. Saya tidak takut bahkan tidak keberatan dengan pendapat yang berbeda selama orang yang berpendapat itu ngerti betul..
        Masa tukang becak ikut-ikutan jadi pengamat politik.. kan lucu jadinya.

        Jika ada seorang pengamat yang bukan pada tempatnya, ya semuanya jadi salah mas…
        Karena cara berfikir manusia itu pada umumnya hanya sebatas ruang geraknya saja..

        Masa tukang becak ikut-ikutan mengamati kerja Presiden… Hahhahah…

        • Judhianto Post authorReply

          @Syamsul Arifin: Saya tidak takut bahkan tidak keberatan dengan pendapat yang berbeda selama orang yang berpendapat itu ngerti betul..
          ==> kalau tidak keberatan tetunya tidak ada kata “selama”, ini seperti pemilu di Korut dimana tiap orang boleh milih pemimpin siapa saja “selama” yang dipilih Kim Jong Un.

          Kebebasan berpendapat dalam demokrasi itu seperti pasar. Siapa saja boleh berjualan, biarlah pasar menentukan yang laku yang mana.

          Sama seperti tukang becak bicara agama. Kalau isinya benar kenapa ditolak, kalau isinya ngaco ya siapa suruh dengarkan.
          Jika orang lebih mendengarkan tukang becak daripada omongan MUI, ya MUI harus mawas diri kenapa omongannya dianggap mutunya dibawah omongan tukang becak. Bukannya mengatur hanya yang bergelar ustad saja yang boleh ngomong agama.

          Memang berisik, tapi kita harus membiasakan diri dengannya.

          • Syamsul Arifin

            @Judhianto, Kenapa saat orang lain menilai anda hanyalah lelucon, justru anda yang keberatan jika anda mengerti demokrasi?
            Bukankah orang lain juga bebas menilai anda dan mengatakan anda hanyalah tukang becak dll?

          • Judhianto Post author

            @Syamsul Arifin: dimana saya mengatakan “saya keberatan”?
            Yang saya sampaikan adalah penilaian saya tentang komentar anda berikut:

            Memang sudah jadi kebiasaan bangsa kita, suka jadi pengamat… Padahal mereka tidak tahu apa2..
            Makanya gak heran tukang becakpun ikut-ikutan jadi pengamat..

            Yang saya sampaikan bahwa kebebasan berpendapat harus diberikan pada setiap orang – walaupun mereka sama sekali tak memiliki kompetensi untuk mengeluarkan pendapat tersebut.

            Bila ada yang mengatakan saya tukang becak, sopir angkot atau bahkan presiden RI — ya silakan saja.
            Memangnya hidup saya ditentukan oleh pendapat orang itu?
            🙂

        • ayakusni Reply

          @Syamsul Arifin: di Solo ada pejabat dibina oleh tukang tambal ban, dalam rangka gerakan politik di Solo. Pada era 60-an. Anda mungkin ingin bukti, sayangnya keduanya sudah mati.
          ayakusni

  3. andik Reply

    @Syamsul Arifin: Arsy adalah singga sana.TUHAN itu tak terikat ruang dan waktu.Jadi singga sana TUHAN ada diluar alam semesta.Jadi di alam semesta ini yang namanya TUHAN itu tidak ada.TUHAN adanya diluar alam semesta.Masihkah anda bisa menertawakan saya.atau saya yang menertawakan anda.

  4. wisya Reply

    Kadang saya prihatin yang ngasih ceramah mohon ma’af tukang becak, latar pendidikan minim. Hanya menghafal beberapa ayat dah dapat julukan Ustd. Saya ketemu non muslim yg beri ceramah di mimbar gak asal2an orang, punya latar belakang pendidikan (biarpun kadang gak ada bedanya tk becak) tapi setidaknya lebihlah kwalitas berpikirnya. Jadi wajar dalam setiap pemahaman dan pemikiran beda. Jadi kembali ke topik cerita diatas tidak pantad ditiru, malaikat disitu tidak berguna sebagai tentara dan mahkuk tuhan yg tunduk dgn manusia. Harusnya malaikatlah yg harus melindungi manusia pilihan Tuhan. Jadi ketok ngapusi cerita tersebut. Jadicerita tersebut hanya sebuah pesan moral memperlakukan tamu.

    • faruq Reply

      Maaf sekali… Saya baca komen anda rasanya ada yg seret di tnggorokan saya… Menurut saya siapapun yang brrbicara kalau memang benar, knpa ditentang atau diremehkan?

      • Wisya Reply

        jadi menurut sdr cerita itu benar? sehingga membuat sdr seret begitu prend saya gak msl bila cerita itu benar dan ada buktinya. siapapun yang cerita, tapi mslnya cerita diatas hanyalah sebuah mitos atau cerita yang berupa pesan prends. Jadi kalau yang menyampaIkan orang yang kurang dalam latar belakang pendidikan jadi sangat menggelikan. Jujur aja kalau orang berpendidikan meyakini cerita tersebut merupakan kejadian sesungguhnya, alangkah kasihan aja, belajar apa saja selama ini

  5. Syamsul Arifin Reply

    @Andik, sepertinya anda salah memahami Arasy…
    Arasy itu adalah ciptaan Tuhan..
    Bagaimana mungkin kalau ciptaan Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu?

    Dan perlu anda tahu bahwa Arasy bukan tempat tinggal Tuhan sebagaimana anda pahami..
    Hal ini sama dengan istilah Bait Allah… Bait Allah bukan tempat tinggal Allah…

    Oh ya.. dari mana anda dapat informasi kalau Arasy Tuhan itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sementara informasi dari Tuhan di kitab suci-Nya tidak mengatakan demikian?

    Silahkan anda menertawakan anda sendiri…. ok!!

    • Zulfikar Reply

      Tuhan atau apalah sebutan/nama yang deberikan manusia kepada Tuhan adalah Bukan Sesuatu. Jadi jangan “memanusiakan Tuhan”. Hanya sebagai rebungan

    • Rivan joyo Reply

      Jika segala sesuatu harus ada penciptanya ,yaitu Tuhan . Sedangkan Tuhan merupakan 1 dari segala sesuatu . harus ada juga donk penciptanya .

  6. andik Reply

    @Syamsul arifin: anda salah persepsi.atau saya yang salah menjelaskan,saya ulangi.Arsy adalah singga sana TUHAN. TUHAN itu tak terikat ruang dan waktu.Alam semasta ini terikat ruang dan waktu.Jadi Arsy TUHAN itu ya alam semesta ini.Jadi TUHAN ada diluar atau di atas alam semesta ini.anda baca ayat kursi berulang ulang bung.

    • Syamsul Arifin Reply

      @Andik, mungkin juga saya yang salah memahami penjelasan anda..
      Tapi kayakanya penjelasan anda di atas tidak seperti ini..

      Mengenai Arasy, Tuhan sendiri yang menjelaskan sebagaimana Firman-Nya berikut ini :
      QS 11:7. Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air,………..

      Yang jadi pertanyaan saya, apa dasar anda yang mengatakan bahwa itu hanyalah lelucon?

      Apakah semua pemberitahuan Alquran harus sesuai dengan cara berpikir anda sehingga anda menganggapnya tidak logis?

      • Judhianto Post authorReply

        @Syamsul Arifin @Andik: kalau menuruti detil ayat penciptaan, mungkin akan ada pertanyaan:
        * Allah melayang di atas air, berarti sudah ada atas dan bawah? sedangkan atas dan bawah adalah persepsi manusia yg diakibatkan oleh gravitasi bumi yang didiami manusia. Bagi astronot di luar angkasa, konsep atas-bawah sama sekali tak relevan.
        * Jika bumi (dan semesta) belum diciptakan, apakah Allah menghuni semacam planet yang memberikan sensasi atas dan bawah?
        * Jika Allah melayang diatas air, berarti sudah ada air sebelum semesta dicipta? air ini apa sama dengan air kita, kalau tidak sekarang dimana air itu?
        * Allah melayang di atas air menimbulkan persepsi bahwa Allah melayang diatas semacam lautan air, berarti ada yang lebih besar dari Allah, yaitu lautan dan planet yang memberi sensasi atas dan bawah bagi Allah.

        Nah itulah problemnya kalau kita terlalu menganggap serius detil Qur’an (dan semua kitab suci).
        Problem yang sama akan kita dapati jika kita memakai kaca pembesar untuk meneliti bagian-bagian detil Qur’an dan kitab suci yang lain.

        Dimasa lalu, dihadapan umat yang takut bertanya (atau ditakut-takuti), untuk problem kitab suci, para ulama bisa dengan mudah mengeluarkan jurus andalan berikut:
        * Kalau gak logis, biasanya ditambal dengan: tak ada yang tak mungkin bagi Allah.
        * Kalau ada pertentangan aturan, biasanya ditambal dengan: dalil nasikh-mansukh
        * Kalau tak dimengerti, biasanya ditambal dengan: akal manusia tak akan mampu memahami kehendak Allah.

        Bagi saya kisah-kisah dalam kitab suci hanyalah dongeng penghantar tuntunan moral untuk menjadi orang baik. Tidak perlu ada hubungannya dengan realitas atau fakta sejarah.

        Jika masih berguna, kita bisa pertahankan. Jika tidak, ya diabaikan saja…

        • Syamsul Arifin Reply

          @Judhianto.. Rupanya Anda salah baca kitab yang mengatakan Tuhan melayang-layang diatas air..
          Memangnya di Alqur’an ada ayat seperti itu?
          Tolong tunjukan ayatnya!!!

          • Judhianto Post author

            @Syamsul Arifin: sebagaimana tulisan saya, saya mengutip secara bebas Alkitab dan al-Qur’an.
            Tuhan melayang-layang diatas air adalah ungkapan eksplisit Alkitab dalam Kejadian 1:1 s/d 1:3

            Saya menggunakan kutipan tersebut untuk menjelaskan konteks “atas-bawah” yang dipakai Allah dan “air” yang sudah ada sebelum semesta diciptakan.

            Untuk Qur’an sendiri tidak ada ungkapan eksplisit seperti itu, tapi ungkapan senada dapat kita ambil seperti ayat yang anda kutip di komentar sebelumnya QS 11:7, saya kutip ulang bunyi lengkapnya:

            Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya (Huud:7)

            Apa yang bisa disimpulkan dari firman tersebut:
            1. Allah mencipta langit dan bumi dalam 6 masa
            2. Sebelum penciptaan, singgasana-Nya di atas air
            –> Jadi Allah duduk di singgasana yang terletak diatas air. ==> ada konteks atas-bawah dan genangan air.

          • ayakusni

            @Judhianto;@Syamsul Arifin:@Andik melayang di atas air tentu banyak variannya. ada yang lebih kecil melayang di atas sesuatu tapi juga ada yang melayang di atas yang lebih kecil. Deskripsi melayang, bolehlah, tetapi apa semena-mena gitu dalam sebuah genangan?
            Air itu sebenarnya apa sih? apakah unsur-unsur kimiawinya itu? Kalo kita bicara air, tentu banyak kandungannya. Ada pasir, ada hewan renik, kuman dan bakteri. Jadi gak 100% air!! Lalu apa harus dijelaskan termasuk yang ada dalam air??. Kitab itu akan semakin tebal penjelasannya.
            Masalah lain terkait itu, Big Bang yang sampai sekarang juga bagian dari penciptaan. Ledakan itu, maka pecahan-pecahannya berupa materi tidaklah bulat-bulat seperti planet (berdasar logika berbumbu fakta). Boleh jadi seperti ledakan mercon, batu yang dipalu. Yang bulat-bulat “hanya” yang ujud benda cair begitu, dan diduga kebanyakan planet termasuk galaksi bentuknya bulat (bulatan gitu mungkln ada lonjong). Ada yang menyimpulkan, Dunia ini sebagian besar berupa air, dengan segala bentuknya.
            Konsep atas dan konsep bawah, sederhana saja sesuatu yang diatas kepala ya disebut di atas. Walau ada yang menghubungkan dengan gaya gravitasi bumi sebagai pusat dunia. Sehingga pikiran menganggap “bersemayam di atas Arsy” menjadi bingung ketika berhadapan dengan “lebiih dekat dengan urat leher”. Otak manusia hanya mampu berpikir dikotomis, memisah dan memilah serta menyimpulkan secara dikotomis pula.
            Ayakusni

          • Judhianto Post author

            @Ayakusni: jadi ini masalah komunikasi? Tuhan yang berbicara dengan kalimat yang tak sepenuhnya dimengerti manusia?

            Kalau yang tak mengerti cuma 1 atau 2 audiens-nya, maka audiens-nya mungkin yang lemot. Tapi kalau yang tak mengerti itu hampir semuanya dan sudah berjalan lebih dari seribu tahun, bisa jadi yang menyampaikan pesan yang bermasalah. Tentunya akan jadi pertanyaan, mestinya Tuhan juga maha piawai untuk melakukan skills yang biasa dipakai manusia, yaitu menyampaikan maksudnya.

            Kan Dia Maha Segalanya.

          • ayakusni

            @Judhianto: Kenapa komunikasi? saya belum bisa menangkap maksudnya. Kalau dikaitkan dengan pemahaman mungkin bisa dimengerti, sederhana saja. Tidak ada tuhan atau ada Tuhan sama saja. Dalam konsep ketuhanan, maka semua bisa dilakukan. Karena Maha Segalanya. Artinya semuanya sudah diambil alih oleh Tuhan, tanpa nyuruh ciptaannya juga tidak masalah. Tentu ada pertanyaan. Apa sih maksudnya? gak jelas. Ini kata kunci, hasrat semua harus jelas, terpampang lalu dikaitkan dengan Tuhan, Menjadi lebih tidak jelas.

            Sementara itu, ribuan tahun manusia tidak mengerti bahasa Tuhan. Juga tidak cuma 1 dan 2 orang, kelompok atau bangsa. Ribuan tahun diterangkan. tentu dengan batasan-batasan perkembangan peradaban. Penjelasan ilmiah juga baru datang beberapa abad. Sehingga jawaban-jawaban atau keterangan juga melewati batas-batas budaya itu. Kita bisa mengingat film “The God Must be Crazy”.
            Wah kayanya kita dah keluar dari Topik. Kita kan sedang bicara Kisah Luth. Tapi saya tergelitik pada komentar atas komentar…
            Sorry. kita bisa bicara dalam topik yang lain. Sayang kalo ngelantur ngga fokus pada topik utama.
            Ayakusni

          • Judhianto Post author

            @Ayakusni: he he memang ngelantur jadinya… Intinya adalah ternyata kitab suci dari Tuhan yang maha tak terbatas, ternyata terikat keterbatasan juga. Seperti hanya bisa dipahami melalui persyaratan budaya tertentu, tingkat pengetahuan tertentu, local dan bukan universal. 🙂

  7. andik Reply

    @Syamsul arifin:Saya percaya anda mungkin mengaji cukup lama.Anda mungkin hanya paham quran secara konteks tual.Saya juga mengaji,belajar filsafat,perbandingan agama.Contoh:bagi orang orang ahli syariat sholat itu pahalanya seluas langit dan bumi,diampuni dosanya,masuk surga.Bagi saya sholat itu mendekatkan diri kepada TUHAN dan hakekatnya menundukkan diri kita,memberi keselamatan bagi sesama,urusan pahala saya gak ngurus,urusan surga saya gak ngurus ndak dikasihpun nggak papa.Karena tujuan saya adalah TUHAN dan keselamatan umat manusia.Bukankah islam berarti selamat.Trus bagaimana kita bisa memberi keselamatan pada orang lain jika sesama islam saling adu jotos.Benarkah TUHAN menyuruh demikian?tidak. Ada satu hadist saya lupa riwayatnya:Surga itu bukan karena amalmu tapi karena rahmat Allah.Jadi mana yang lebih penting?ya Allah yang lebih penting.Karena TUHAN tidak ada dalam semesta ini maka kita dijadikannya Kholifah yang berarti belakang yang juga berarti pengganti TUHAN dalam melaksanakan kebaikan dan kasih sayang.Mungkinkah orang yang saling adu jotos bisa memberikan RAHMATAN LILALAMI.sebenarnya yang islamnya baik saya apa ANDA?

    • Syamsul Arifin Reply

      @andik.. saya tidak ngerti, anda ini sedang ngomong tentang apa.. bahas tentang Sholat menurut Syariat dan menurut pandangan anda?
      Atau bahas tentang amal dan rahmat Tuhan?
      Atau mungkin bahas tentang jotos-jotosan?

      Anda mengatakan Sholat itu sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.. Itu betul.. dan itu bukan hanya pendapat anda.. Syariatpun juga mengatakan begitu…
      Kemudian anda mengatakan urusan pahala anda surga anda tidak ngurus… Betul.. urusan pahala dan surga bukan urusan anda.. siapa sih yang mengatakan urusan pahala dan surga itu urusan anda?

      Kemudian anda mengatakan : tujuan saya adalah Tuhan dan kesalamatan manusia.. Ah masa anda peduli dengan keselamatan manusia? Apa saja selama ini usaha anda dalam membantu menyelamatkan manusia? Apakah anda sering beri sedekah saat melihat pengemis di pinggir jalan? Atau apakah anda sering membantu orang lain saat mereka dalam kesusahan, misalnya?

      Islam memang untuk keselamatan manusia… Tapi anda jangan campur aduk antara Islam dan oknum… ok!!!
      Wsslm

  8. wisya Reply

    Ayo kita fokus kembali pada topik diatas. Ayo kita abaikan dulu kitab2 suci diatas, kita simak tulisan diatas, tolong abaikan sumber ceritanya. Angap saja mas judi bercerita tentang kisah seseorang, nah pantas tidak perbuatan yang dilakukakn luth. Biar clear penilaian anda jangan menggunakan kacamata keyakinan agama. Tapi fikiran dan hati kita sendiri, pantas tidak yang dilakukan seorang ayah kepada anak2nya. Anggap tamunya bukan seotprang malaikat utusan allah swt. Mari belajar jujur untuk menilai kasus diatas dgn jujur, hanya ada 2 jawaban pantas dilakukan atau tidak pantas dilakukan. Gak usah bawa2 allah maupun qur’an krn semuantadi hanya imajinasi manusia saja, tks

  9. andik Reply

    Ya gak pantas dong bro!.Kisah tadi.Kalau dulu quran bisa mengoreksi kitab kitab yang terdahulu kenapa kita gak boleh?.Kalau mau dikoreksi ya banyak yang sudah tidak relefan.Makanya kita mau jadi umat terbaik,apa sok baik?.Mau mundur 1500 tahun apa mau maju menatap masa depan.Hidup ini sekali.Hidup adalah pilihan.Mau pilih yang baik atau yang buruk?itu pilihan anda.

    • Syamsul Arifin Reply

      @andik.. saya tidak paham apa maksud perkataan anda ” Mau mundur 1500 tahun apa mau maju menatap masa depan…..”, apakah menurut anda jika kita mentaati ajaran Islam sepenuhnya kita mundur kebelakang lagi atau bagaimana?

      Anda sepertinya tidak tahu kalau Islam itu diturunkan untuk memajukan manusia bukan menjadikan manusia mundur…
      Saya ingin tanya sama anda, siapakah pertama kali di muka bumi ini yang menganjurkan untuk menjaga kesehatan, kebersihan, kesopanan, kebersamaan, kerukunan dll?
      Apakah sebelum Islam datang kehidupan manusia jauh lebih bermoral, lebih mengetahui kebersihan, lebih rukun, lebih sopan dll?

      Coba anda pelajari lagi kehidupan manusia, khususnya di Mekkah, sebelum kedatangan Islam, apakah kehidupan manusia saat itu jauh lebih baik daripada setela kedatangan Islam?
      Makanya baca sejarah dulu dari awal biar anda ngerti apa yang anda ucapkan…ok!!

      • Judhianto Post authorReply

        @Syamsul Arifin: silakan melihat dalam skala waktu yang panjang dan dengan menggunakan fakta-fakta.

        Dalam sejarah keberadaan manusia, agama itu alat budaya yang usianya muda.

        Menurut temuan arkeologi, manusia sudah ada sejak 400 ribu tahun yang lalu, sedangkan bentuk ritual agama tertua yang bisa ditemukan jejaknya baru ada 70 ribu tahun yang lalu. Agama Ibrahimik (Yahudi, Kristen, Islam) baru ada sekitar 5000 tahun yang lalu.

        Artinya apa? manusia bisa berkembang selama 330 ribu tahun tanpa perlu agama dan Tuhan, dan kita asumsikan bahwa mereka sudah punya standar moralitas baik-buruk tanpa perlu dikait-kaitkan dengan Tuhan atau agama.

        Apakah agama membawa kemajuan di bidang moral dan peradaban? tentu. Tapi agama tidak selamanya bisa membawa kemajuan.

        Agama dan Tuhan pernah berperan sebagai faktor akselerasi peradaban manusia sampai paling tidak ke abad 17. Setelah masa itu, agama justru berperan sebagai faktor penghambat kemajuan masyarakat.

        Saat ini kita punya banyak alat ukur untuk mengukur kemajuan suatu masyarakat. Ada angka pengukur kemakmuran seperti Gini index dan human development index, ada angka pengukur kebebasan berpendapat seperti freedom index, ada pengukur tingkat korupsi seperti corruption perception index. Anda dapat mencari di Internet untuk menilai sendiri skor suatu negara.

        Apa yang bisa dilihat dari alat ukur modern ini adalah betapa agama justru memberikan sumbangan negatif terhadap kemajuan bangsa.

        Skor terbaik justru ada pada negara dengan jumlah ateis tertinggi, sedangkan negara gagal, penuh korupsi, miskin dan penuh penindasan justru ada pada negara-negara yang tingkat religiusitas rakyatnya tinggi.

        Anda suka strategic game Civilization? itu bagus untuk belajar tentang proses perkembangan peradaban dunia.
        Dalam game itu Religion akan obsolete oleh Science

        🙂

      • IRONIS Reply

        @Syamsul Arifin… Kenapa tuhan mengutus seluruh nabi di turunkan di tanah arab saja??? dan kenapa harus ada utusan dari tuhan ?? bukankan tuhan maha di atas maha ?? kenapa tuhan jadi takut kalo ciptaanya sendiri sudah keluar dari koridor yang di buat sebelum islam datang… sehingga harus ada utusan itupun hanya di arab kenapa bukan di irian atau di ambon… dan kenapa hanya pada jaman dulu saja ??

  10. wisya Reply

    Sip jawaban jujur mas andik, banyak orang beragama takut berbuat jujur dikarenakan oleh aturan2 agama yang kurang tolerans. Takut melanggar dikarenakan takut tersisi dari kelompoknya. Tks

  11. andik Reply

    Pada sebagian orang beragama.Agama adalah sesuatu yang turun dari langit dengan begitu saja.dan terjebak pada sikap primordialisme.Sibuk dengan segala birokrasi yang ada dalam agamanya,malah justru melupakan moralisme dari agama tersebut.Pada orang telah belajar perbandingan agama.Agama adalah proses budaya masyarakat dalam menyampaiakan pesan moral.Dia berusaha memperbaiki kesalahan2 yang ada dalam agamanya.Justru orang sebaik ini malah dianggap sesat,bid ah,kafir dan segudang umpatan jelek lainnya.Kalau mau belajar sejarah,bukankah agama yang ada sekarang ini adalah juga peninggalan jaman jahiliyah yang telah dimodifikasi oleh para nabi.Kalau para nabi bisa memodifikasi agama dan kitab suci kenapa para ulama tidak bisa?.Jawabnya adalah jika para ulama memodifikasi agamanya maka akan ketahuan jika agama adalah hasil karya manusia.Dan hal tersebut bisa mengakibatkan keguncangan psikologi yang amat dalam bagi yang terlalu fanatik.Bagi generasi muda sekarang agama adalah bahan lelucon,karena sudah tidak sesuai dengan jaman dan logika mereka.Mau pilih yang mana? memodifikasi atau biarlah seperti aslinya toh nanti akan hilang dengan sendirinya.Itu terserah anda.

  12. wisya Reply

    Jadi ingat kata ustad, anak muda jaman sekarang lebih mengidolakan messi si pemain sepak bola dari pada muhammad nabi besar junjungan kita utusan allah swt. Lalu saya mikir, la ya benar to, realita hidup yg anak2 muda sekaramg yang dilihat sepak bola, wajar dong, sesungguhnya palah aneh kalau anak zaman sekarang mengidolakan muhammad, emang siapa dia, prestasinya apa, kan kagak pernah ada yang lihat sepak terjangnya secara nyata. Harusnya aneh dong para agamawan yg memaksakan diri untuk mengidolakan muhammad yang dirinya sendiri kagak ngerti, mending ngidolakan gatot kaca, harjuna, patih gajah mada gak ada bedanyakan dengan muhammad sama2 gak hidup di zaman anak2 sekarang. Logoff ya

  13. Syamsul Arifin Reply

    @Judhianto..
    Maaf saya mau menanggapi bantahan anda mengenai Luth dan Putrinya..

    Anda benar-benar tidak mengerti mengenai penawaran Luth kepada kaumnya atas putrinya itu..
    Anda pikir, Luth menawarkan putrinya secara gratis tanpa mengikuti aturan Tuhan (nikah).. Ini benar-benar pemikiran yang hanya pantas dimiliki ibu-ibu yang kurang waras..

    Perhatikan di ayat sebelumnya Luth mengatakan : Qs 15:69. dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.”

    Kalau kita tahu definisi TAKWA dan sedikit saja memakai akal sehat kita, kita pasti tahu yang namanya bertakwa kepada Allah itu harus mengikuti aturan-aturan-Nya dan menjahui semua larangannya..
    Jadi, kalau sebelumnya Luth sudah memperingati kaumnya harus bertakwa kepada Tuhan, maka bagaimana mungkin dia menyerahkan putrinya dengan cara yang bertentangan dengan aturan Tuhan?
    Karena jika hal itu yang terjadi (penyerahan putrinya tanpa nikah), berarti Luth menutupi dosa yang satu dengan dosa yang lain sebagaimana keyakinan Kristen dosa mereka dihapus dengan dosa tuhannya.. Ini benar-benar lelucon..

    Pantas saja anda tidak bisa melihat pesan agung dikisah Luth itu.. karena ternyata anda benar-benar tidak ngerti apa2… Anda cuman ngertinya masalah keluarga saja..
    Dunia anda cuman ada di sekitar keluarga anda saja..
    Yahh.. kalau hidup anda cuman disekitar keluarga kecil anda, ya jelas gak nyambung pak..
    Orang macam anda ini biasanya walau punya jabatan dimasyrakat, anda cuman berusaha bagaimana caranya membahagiakan keluarga anda doang…
    Makanya anda mengatakan ” Jika Allah menginginkan saya mengorbankan keluarga saya, maka saya tolak permintaan yang gila itu….. “.. Wow… anda benar-benar tidak punya akal sehat.. Anda pikir semua yang anda miliki itu murni hasil kerja keras anda tanpa ada sadari siapa yang memberikan semua itu..
    Anda tidak usah sombong begitu..
    Coba anda buktikan saja detik ini apa benar anda bisa menolak permintaan Tuhan jika Dia menginginkan nyawa anda?
    Gak usah sombong dulu.. anda itu cuman manusia biasa kok… Heheeh
    Tuhan berhak mengambil apa yang diberikan kepada kita..
    Ayo buktikan mas, apa benar anda bisa menolak kehendak Tuhan jika Dia ingin mengambil apa yang telah Dia berikan kepada anda…?

    Cuman jadi manusia kerdil saja udah sombong banget….
    Inikah manusia modern itu?
    Saya rasa, sikap seperti anda ini bukan hanya dimasa sekarang saja, dimasa Fir’aunpun sudah biasa tuh…

    Wsslm

    • Judhianto Post authorReply

      @Syamsul Arifin: saya coba tangkap hal penting pendapat anda:
      1. Anda tidak membantah bahwa tindakan Luth yang menyerahkan putrinya begitu saja ke gerombolan beringas pengepung rumahnya, adalah tidak sesuai dengan sikap seorang ayah yang harus membela dan melindungi putrinya.
      2. Anda membela tindakan Luth sebagai cerminan sikap taqwa,
      3. Bagi anda taqwa berarti mengikuti semua perintah Allah.

      Problem yang ada dalam pendapat anda adalah:
      1. Allah sama sekali tidak mengeluarkan perintah apapun. Jika anda tidak setuju, silakan tunjukkan dimana Allah memerintahkan Luth untuk menyerahkan putrinya.
      2. Jika tidak ada perintah dari Allah, berarti tindakan Luth adalah keputusannya pribadi.
      3. Karena itu keputusan pribadi, maka saya menganggap Luth adalah bapak yang tidak bertanggung jawab. Itu bukan takwa.

      Untuk komentar yang lain tentang ibu-ibu, sombong, fir’aun – gak saya tanggapi.

      🙂

      • Syamsul Arifin Reply

        @Judhianto.
        Saya coba meluruskan anggapan salah anda mengenai Luth..
        Luth adalah utusan Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada suatu kaum yang berprilaku bejat..
        Jika tindakan Luth seperti yang anda pahami, berarti Luth bersekongkol dengan mereka bukan utusan dan beliaupun juga termasuk orang yang dibinasakan bersama mereka..
        Tapi nyatanya tidak demikian.. beliau dan keluarganya diselamatkan kecuali istrinya..
        Apakah Luth membantah Tuhan karena istrinya tidak ikut diselamatkan? Tidak!!
        Bagaimana jika hal itu terjadi pada anda, apakah anda menolak keputusan Tuhan karena istri anda tidak ikut diselamatkan? Anda pasti jawab ” Ya!!”, ya kan pak? Heheheh

        Jika anda menuduh Luth ingin menyerahkan putrinya secara gratis ( bukan dengan cara yang halal), maka sekaligus anda menuduh Tuhan tidak maha tahu karena telah menyelamatkan orang yang mendukung kejahatan..

        Maka dengan fakta ini, berarti cara berifikir anda salah total… Karena cara berfikir anda mendahulukan perasaan daripada akal sehat..

        Sekali lagi, anda bukan tempatnya ikut-ikutan menilai kisah di Alqur’an… Karena dunia anda hanya di sekitar keluarga anda…
        Wsslm

        • Judhianto Post authorReply

          @Syamsul Arifin: mohon anda berpikir dengan fakta-fakta yang ada, bukan main tebak motif.

          Luth menyerahkan putrinya dengan gratis? ya.
          Anda bisa baca di Alkitab:

          Gen 19:7 ia berkata kepada orang-orang Sodom itu, “Saudara-saudara, saya minta dengan sangat, janganlah melakukan hal yang sejahat itu!
          Gen 19:8 Coba dengar, saya punya dua anak perawan. Biar saya serahkan mereka kepada kalian dan kalian boleh melakukan apa saja dengan mereka. Tetapi jangan apa-apakan tamu-tamu saya ini; sebab saya wajib melindungi mereka.”

          Anda bisa baca di Qur’an:

          Al-Hijr: 71
          قَالَ – Berkata (Luth)
          هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي – ini putri saya
          إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ – bila kalian mau

          Apa yang saya sampaikan adalah yang tertulis di kitab suci. Silakan tunjukkan fakta lain yang ada, bukan sekedar main “pokoknya Luth benar, karena dia Nabi” tapi sama sekali tak bisa menunjukkan teks yang mendukung.

          Anda gak suka kan kalau dibilang tak mampu berpikir dengan nalar (dengan fakta) dan hanya mampu menuruti perasaan (main tuduh sana-sini, menyalahkan tanpa bisa buktikan)?

          • wisya

            Wuittt, ada yang gelap mata dan fikiran. Kenapa kita harus ragu dgn diri kita sendiri menilai sesuatu hal yang jelas gamblang, mencoba berbelit2 menjelaskan tanpa fakta, hanya sekedar percaya bahwa itu sesuatu yang baik menuru vesi kelompok, gampang banget sesungguhna untuk menelaahnya. Masak dengan kebesrannya allah tidak bisa menumpas kaum luth dan tega mengorbankan ciptaanya melalui luth, bukankah ini persekongkolan sang pencipta dan yang diciptakan yang menjijikan itu, bukankah manusia derajadnya lebih mulia dari malaikat. Kenapa tuhan gak menyuruh luth tuk menyerahkan malaikatnya saja “heran aku”. Jadi cerita2 dalam kitab2 tsb banyak yg bertolak belakang dengan kebesaranNya.

          • Syamsul Arifin

            @Judhianto.. Justru anda yang semestinya berfikir dengan fakta-fakta yang ada, bukan menafsirkan Alqur’an seenak perut anda..
            Fakta yang ada ialah :
            1. Luth diselamatkan oleh Tuhan. Berarti beliau orang pilihan-Nya.

            QS 21:74. dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,
            75. dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.

            2. Malaikat yang ada saat itu tidak menegur tindakan Luth (saat menawarkan putrinya). Jika benar tindakan luth itu bertentangan dengan ajaran Tuhan, maka beliaulah yang pertama kali di jewer oleh Malaikat, pak.

            3. Sebelumnya Luth sudah menasehati kaumnya agar mereka bertaqwa kepada Tuhan.. QS 15:69. dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.”

            In imenunjukan bahwa Luth bukanlah seorang germo yang biasa menyerahkan putrinya untuk pemuas nafsu seperti yang ada pahami dari Alkitab..

            Kalau anda menafsiri Alqur’an dengan Alkitab yang ada sekarang itu pak, ya jelas gak nyambung…
            Tuhanpun di Alkitab digambarkan punya kumis kok..

            Anda jangan hanya fokus pada ucapan penawaran Luth semata..
            Yang perlu anda lihat oknum yang menawarkan itu..

            Saya kasi gambaran begini pak, misalnya bpk suatu hari jalan2 sama putri kecil bapak di pasar atau tempat keramaian lainnya, tiba-tiba ada orang menyerahkan boneka mainan anak2 sambil mengatakan ” sayang anak.. sayang anak…”, Karena orang itu tidak mengatakan dijual, maka bpk mengambil boneka itu dengan senang hati dan pergi begitu saja sambil senyum2 karena dapat boneka gratis..

            Yang jadi pertanyaan, jika bpk ditegur oleh lelaki itu karena gak bayar, apakah bpk akan berdalih bahwa lelaki itu memberinya dengan suka rela karena tidak mengatakan untuk dijual tanpa melihat status lelaki itu sebagai penjual?
            Saya rasa siapapun tahu bedanya antara diberi cuma-cuma harus membeli melihat status sipemberi..
            Kalau yang memberikan boneka itu seorang penjual, maka itu bukan gratis pak walau gak ngomong di jual…
            Ngerti kan pak?

            Ya kalau gk ngerti keterlaluan dech…

          • Syamsul Arifin

            Pada suatu hari, pk Judhianto jalan2 tiba-tiba ada tukang becak mewarkan diri..” becak pak?”
            Judhianto : Oh ya.. kebetulan ni pk.. Tolong antar saya ke alamat ini ya pak
            Becak : Baik…!!

            Sesampainya ditempat, pk Judhianto turun dari becak dan merasa senang karena udah nyampe dialamat yang dicari-cari itu..

            Judhianto : Terima kasih ya pk.. Bpk ini sekali dech.. mau mengantar saya ke alamat ini.. Mudah-mudah besok ketemu lagi ya pak…
            Setelah ngomong begitu dia pergi begitu saja tanpa bayar .. Karena menurut dia, si tukang becak ini y

          • Syamsul Arifin

            Pada suatu hari, pk Judhianto jalan2 tiba-tiba ada tukang becak mewarkan diri..” becak pak?”
            Judhianto : Oh ya.. kebetulan ni pk.. Tolong antar saya ke alamat ini ya pak
            Becak : Baik…!!

            Sesampainya ditempat, pk Judhianto turun dari becak dan merasa senang karena udah nyampe dialamat yang dicari-cari itu..

            Judhianto : Terima kasih ya pk.. Bpk ini baik sekali dech.. mau mengantar saya ke alamat ini.. Mudah-mudah besok ketemu lagi ya pak…
            Setelah ngomong begitu dia pergi begitu saja tanpa bayar .. Karena menurut dia, si tukang becak ini yang tolol… Heheheee…

          • Judhianto Post author

            @Syamsul Arifin: sebelum menanggapi pendapat anda, saya akan jelaskan perbedaan mengenai apa yang disebut fakta (kisah yang tertulis) dan penafsiran terhadap kisah tersebut. Kata fakta sendiri dalam kisah inipun bisa dibongkar lagi maknanya – namun itu bisa kita kesampingkan dulu.

            Untuk kisah Luth yang tertulis pokok-pokoknya sebagai berikut:
            1. Allah berencana memusnahkan kota Sodom karena dosa-dosa penduduknya (Qur’an + Alkitab)
            2. Malaikat diutus untuk mengajak Luth keluar kota untuk menyelamatkan diri (Qur’an + Alkitab)
            3. Penduduk Sodom melihat malaikat tampan tersebut, dan ingin menggunakannya untuk pemuas nafsu (Qur’an + Alkitab)
            4. Allah tidak mengeluarkan respon apapun, malaikat tidak bertindak apapun (Qur’an + Alkitab)
            5. Luth mencegah mereka menjamah malaikat, sebagai gantinya berinisiatif menyodorkan anak gadisnya (Qur’an + Alkitab)
            6. Penduduk Sodom mengabaikan tawaran Luth, dan menyerbu malaikat, malaikat baru bertindak dengan membutakan mata para penyerbu (Alkitab)
            7. Malaikat mengajak Luth dan keluarganya meninggalkan kota tanpa menengok kebelakang, istri Luth dikutuk jadi tiang garam karena menengok ke belakang (Alkitab)
            8. Kota Sodom dihancurkan Allah (Qur’an + Alkitab)
            9. Karena ingin hamil, anak Luth membuatnya mabuk sehingga menggauli mereka (Alkitab)

            ==> itu yang disebut fakta tertulis.
            Kalau anda mengatakan saya menafsirkan seenak perut, tentu saya juga bisa mengatakan hal yang sama bahwa anda sama sekali tidak berpegang pada fakta, melainkan hanya mainan tafsir.

            Dari fakta tertulis tersebut, jelas ada hal yang tak bisa diterima dari Luth oleh standar moralitas modern, yaitu:
            1. poin nomor 4, yaitu diamnya Allah dan malaikatnya saat Luth menghadapi gerombolan yang hendak berniat jahat. Bukankan Allah selama ini mengaku maha Kuasa, maha berkehendak? kok jadi gagu gitu? takut? atau pecinta drama ketegangan?
            2. Poin nomor 5, yaitu Luth menyodorkan anaknya ke gerombolan jahat untuk menyelamatkan malaikat. Pantaskah seorang bapak melakukan ini?
            3. Poin nomor 7, yaitu istri Luth yang dijadikan tiang garam atas kesalahan yang sepele. Kok bukan gerombolan beringas yang sudah melakukan dosa besar yang dibuat jadi tiang garam?
            4. Poin nomor 9, yaitu incest Luth dengan anaknya. Kok Allah begitu permisif, hingga kisah ini diceritakan begitu saja, gak dihukum atau paling tidak ditegur?

            Pembelaan anda panjang lebar, menggunakan perumpamaan dan penilaian macam-macam kepada saya, pada hakikatnya hanyalah hasil penafsiran pribadi anda terhadap kisah Luth. Karena kalau anda bicara fakta (teks kitab suci), maka kisah Luth hanyalah yang ada di poin 1 sampai 9 yang saya sampaikan.

            Untuk gambaran yang anda sampaikan, saya gak berminat mengomentarinya. Itu tafsir anda.

            Saya bisa memberi tafsir yang lebih baik dari anda, tapi nanti anda bisa balas dengan yang lebih baik, yang memancing saya mengeluarkan tandingan lainnya. Gak akan berhenti, saya yakin anda punya energi yang cukup untuk itu 🙂

            Bagi saya kisah Luth mungkin pernah berguna pada masyarakat masa lalu, namun pada masyarakat modern, kisah ini membutuhkan akrobatik pembelaan luar biasa. Karena secara teks, sudah gak cocok dengan nilai masyarakat modern. Itu dibuang atau diabaikan saja.

  14. andik Reply

    @syamsul arifin;Sejarah yang mana yang harus saya pelajari dan versi siapa?.banyak sejarah yang saling berbenturan satu sama lain.Terus sejarah yang mana yang bisa dipercaya?.Yang namanya sejarah itu sudah berlalu dan kita tidak hidup pada masa itu.Banyak sejarah yang ditulis ratusan tahun setelah nabi wafat.Dan juga hadist bukhori ditulis 200 tahun setelah nabi wafat.Apa saya juga harus percaya bahwa nabi Muhamad bisa membela bulan dan ditaruh dilengan bajunya,INI KONYOL namanya.Dan satu lagi ini sering beredar pada umat islam,barang siapa yang akhir hidupnya bisa berucap Laa illah ha illallah maka masuk surga,Fir aun pun juga bisa! amantu birobbi musa wa harun(aku beriman pada Tuhannya musa dan harun)

  15. Syamsul Arifin Reply

    @andik.. anda tidak usah baca catatan sejarah versi manapun, yang anda harus baca sejarahnya.. Sejarah itu tidak ada yang mencatat…. Karena kehidupan masa lalu tanpa dicatatpun itu namanya sejarah…

    Anda boleh percaya tentang bulan pernah terbelah atau tidak…
    Tapi yang jelas, kejadian itu pernah terjadi.
    Apa buktinya?
    Buktinya ialah : jika hadist yang menerangkan kejadian itu tidak ada buktinya pada saat itu, tentunya ada bantahan dari sahabat lainnya..
    Bukankah semua sahabat Muhajir yang ada itu berasal dar Mekkah… tentunya mereka tahu dengan pasti bahwa kejadian itu tidak pernah ada…

    Dan masalah kalimat Lailaaha ilallallah itu ada hdistnya.. ada dasarnya…
    Terus, dasar anda apa?
    Apa dan tidak tahu yang namanya Iman itu bukan saat sekarat?
    Kalau sudah sekarat dan melihat Adzab Tuhan terus mau mengaku iman, itu namnya bukan iman….

    QS 2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka

    Silahkan anda belajar dulu lebih baik lagi, ya!!

    • IRONIS Reply

      @syamsul arifin: bulan pernah di belah…wow mengerikan sekali.. bulan di belah ini masalah serius dan seluruh dunia harus tau juga harus tercatat dalam fakta sejarah sepanjang jaman dan masuk rekor dunia… kalo buktinya di alquran da hadis sementara alquran dan hadis itu bukan buku sejarah tapi kitab agama .. kalo cuma di yakini bahwa bulan pernah di belah itu bukan fakta karena fakta itu harus ada bukti otentik dan saksi tanggal waktu juga tercatat dalam sejarah dunia” yakin itu tanpa bukti kalo ada bukti itu bukan yakin tapi fakta”

  16. andik Reply

    @Syamsul arifin:Saya kutip tulisan anda(anda tidak usah baca catatan sejarah versi manapun,yang anda harus baca sejarahnya,sajarah itu tidak ada yang mencatat).ANDA NGACO,disuruh belajar sejarah tapi sejarah gak ada yang mencatat,mau belajar dari mulut ke mulut.Mulut siapa yang bisa di percaya. Tentang bulan yang terbelah,tidak ada fakta ilmiah.Dipermukaan bulan banyak terdapat ARIADAEUS RILLE(parit sempit) itu bukan karena bulan pernah terbelah. Jadi Hadist itu palsu menurut saya. Lagi lagi anda salah menarik dalil:QS 2:3 itu menjelaskan tentang orang yang bertaqwa.,Bukan tentang talkin orang sekarat.Orang islam awam banyak yang ketakutan pada saat sekarat gak bisa mengucap Laa illah ha illallah.bukan berarti yang sekarat manggil2 anaknya masuk neraka.Nabi waktu mau meninggal yang di ucapkan umati umati.Ustad seperti anda ini yang merusak agama,yang membuat agama jadi kacau.Yang membodohi umat ya ustad seperti anda ini.Yang membuat orang jadi bodoh ya ustad seperti anda ini,LOGIKA NGAWUR,BERBICARA GAK ILMIAH,NARIK DALIL SALAH LAGI.

    • Syamsul Arifin Reply

      @andik mengatakan : Tentang bulan yang terbelah, tidak ada fakta ilmiah. Dipermukaan banyak terdapat ARADAEUS RILLE (parit sempit) itu bukan karena bulan pernah terbelah.

      ..> Tanggapan saya : aneh juga di bulan ada parit.. Tolong jelaskan, apa sebabnya adanya parit itu menurut penelitian yang anda anggap ilmiah itu? Apakah di bulan dulunya pernah ada sumber air? Hahahha… Betul-betul sangat ilmiah jika ada yang bilang di bulan itu pernah ada sumber air atau ciaran lainnya…

      Jadi anda percaya dengan pernyataan ilmuwan yang mengatakan celah itu bekas aliran air?
      Pernahkah anda berpikir apa mungkin di ruang hampa ada air mengalir?

      Mengenai iman… yang namanya Iman itu percaya dengan apa yang disampaikan Tuhan melalui rasul-rasul-Nya.. Kalau imannya bukan bukan berdasarkan penyampaian rasul, tapi karena menyaksikan sendiri, itu mah bukan iman namanya…

      Dan anda perlu tahu, saya bukan usradz dan bukan siapa2… jadi anda salah alamat..
      Menurut hemat saya, justru manusia macam anda ini yang membuat orang bodoh..
      Masa dibulan ada air atau barang cair lainnya?
      Kalau bukan bodoh, apa namanya?
      Bisa anda jelaskan?

  17. Syamsul Arifin Reply

    @Judhianto mengatakan : ==> itu yang disebut fakta tertulis.
    Kalau anda mengatakan saya menafsirkan seenak perut, tentu saya juga bisa mengatakan hal yang sama bahwa anda sama sekali tidak berpegang pada fakta, melainkan hanya mainan tafsir.

    >Tanggapan saya : Alqur’an sudah jelas mengatakan bahwa nabi Luth As telah diberi ilmu dan hikmah.. Berarti tindakan beliau bukan berdasarkan kebodohan seperti anda..

    Dari fakta tertulis tersebut, jelas ada hal yang tak bisa diterima dari Luth oleh standar moralitas modern, yaitu:
    1. poin nomor 4, yaitu diamnya Allah dan malaikatnya saat Luth menghadapi gerombolan yang hendak berniat jahat. Bukankan Allah selama ini mengaku maha Kuasa, maha berkehendak? kok jadi gagu gitu? takut? atau pecinta drama ketegangan?

    > Tanggapan saya : kebodohan apa lagi yang mau anda tunjukan?
    Apa anda ingin mengatakan bahwa Alqur’an itu bukan firman Tuhan?
    Saya sudah mengatakan, anda sama sekali bukan orang yang tepat ikut-ikutan jadi pengamat.

    2. Poin nomor 5, yaitu Luth menyodorkan anaknya ke gerombolan jahat untuk menyelamatkan malaikat. Pantaskah seorang bapak melakukan ini?

    >. Tanggapan saya : lagi-lagi anda hanya bisa baca teks tanpa ngerti maksudnya..
    Saya sudah ngasi contoh dengan penjual mainan anak2.. Dan orang paling tololpun pasti tahu jika mereka dikasi mainan oleh sipenjual itu walau tidak mengatakan di jual.. Beda jika yang ngasi itu Santa Claus, tokoh fiktif Kristen itu lho..,

    Di ayat itu jelas tujuan Luth yang menawarkan putrinya itu untuk menghentikan perbuatan bejat kaumnya yang menuntut hak bebas berprilaku dan bebas berbipikir seperti anda..
    Sebetulnya, bukan hanya di anda saja yang menuntut bebas berpendapat, tapi kaum Luth itu juga sama dengan anda… Makanya mereka menolak penawaran baik Luth sebagaimana anda.

    3. Poin nomor 7, yaitu istri Luth yang dijadikan tiang garam atas kesalahan yang sepele. Kok bukan gerombolan beringas yang sudah melakukan dosa besar yang dibuat jadi tiang garam?

    >Tanggapan saya: Anda mencampur aduk kisah di Alkitab dengan alqur’an..
    Ini benar-benar membuktikan anda tidak tahu apa2..
    Alqur’an tidak mengatakan istri Luth jadi tiang garam..
    Masalah tiang garam ini silahkan anda tanya saja Ahlul Kitab… !!
    Mengenai Istri Luth menurut Alqur’an bukan melakukan dosa sepele.. tapi juga dosa besar..
    Buktinya, dia binasa bersama kaum luth lainnya..

    4. Poin nomor 9, yaitu incest Luth dengan anaknya. Kok Allah begitu permisif, hingga kisah ini diceritakan begitu saja, gak dihukum atau paling tidak ditegur?

    >Tanggapan saya: Lagi-lagi anda menunjukan kebodohan anda…
    Pernahkah anda bertanya apa alasan Luth diselamatkan Tuhan jika beliau benar-benar seperti yang digambarkan Alkitab, apa karena namanya ” Luth”?
    Ini buktinya Alkitab telah dipalsu… Mungkin penulis Alkitab tidak tahu kalau penyelamatan atas diri Luth bukan semata-mata karena nama…
    Dan anda rupanya juga sama dengan penulis Alkitab…

    Pembelaan anda panjang lebar, menggunakan perumpamaan dan penilaian macam-macam kepada saya, pada hakikatnya hanyalah hasil penafsiran pribadi anda terhadap kisah Luth. Karena kalau anda bicara fakta (teks kitab suci), maka kisah Luth hanyalah yang ada di poin 1 sampai 9 yang saya sampaikan.

    >Tanggapan saya : Anda tidak mungkin mengambil kesimpulan dari suatu teks jika anda tidak menafsiri..
    Nah, karena anda salah tafsir, makanya anda salah menilai kisah itu..

    ———————–>
    Untuk gambaran yang anda sampaikan, saya gak berminat mengomentarinya. Itu tafsir anda.

    Saya bisa memberi tafsir yang lebih baik dari anda, tapi nanti anda bisa balas dengan yang lebih baik, yang memancing saya mengeluarkan tandingan lainnya. Gak akan berhenti, saya yakin anda punya energi yang cukup untuk itu 🙂

    Bagi saya kisah Luth mungkin pernah berguna pada masyarakat masa lalu, namun pada masyarakat modern, kisah ini membutuhkan akrobatik pembelaan luar biasa. Karena secara teks, sudah gak cocok dengan nilai masyarakat modern. Itu dibuang atau diabaikan saja.

    >Tanggapan saya : bukan hanya menurut anda saja tindakan Luth tidak berguna, bagi kaumnya juga tidak berguna.. Karena mereka juga menuntut kebebasan seperti anda..
    Tapi sayangnya anda tidak ngerti kalau kaum Luth itu sebetulnya sama dengan masyrakat modern yang menuntut kebebasan..
    Artinya, kaum luth sudah lebih dulu modern ketimbang anda kalau begitu..
    Berarti anda ini kesiangan… 🙂

    • Judhianto Post authorReply

      @Syamsul Arifin: he he he… sepertinya anda lebih nyaman di dunia tafsir-menafsir, berimajinasi atau mengarang bebas dibandingkan menghadapi fakta dan apa yang bisa dilihat setiap orang.

      Untuk tanggapan anda:

      • * Alqur’an sudah jelas mengatakan bahwa nabi Luth As telah diberi ilmu dan hikmah.. Berarti tindakan beliau bukan berdasarkan kebodohan seperti anda..
        ini seperti:
        ** Farhat Abbas adalah sarjana hukum … berarti tindakan Farhat Abbas pasti logis bernalar dan bukan berdasarkan kebodohan…
        ** SBY sudah jelas adalah Jendral dan penguasa tertinggi RI… berarti beliau pasti memerintah dengan tegas dan bukan dengan keluh kesah..
        Bagian pertama kalimat diatas (dan kalimat anda) memang benar, tapi bagian keduanya hanyalah asumsi yang harus didukung bukti agar bisa benar.

      • * kebodohan apa lagi yang mau anda tunjukan?
        Anda senang sekali mengobral perkataan bodoh atau tolol pada lawan bicara anda. Bila butuh seperti itu untuk mengesankan anda pintar, baiklah anda pintar! kurang? oke, anda pintar sekali! 🙂

      • * Saya sudah mengatakan, anda sama sekali bukan orang yang tepat ikut-ikutan jadi pengamat.
        saya tidak boleh, anda boleh? Bukankah agama dan agamawan setiap saat mengamati kehidupan orang, memberi komentar, mengatur-atur dan bahkan menghukum tanpa minta ijin orang yang bersangkutan? Saya hanya amati dan komentari tanpa pernah mengatur-atur atau bahkan menghukum; kok gak boleh? standard ganda?

      • * lagi-lagi anda hanya bisa baca teks tanpa ngerti maksudnya.. Saya sudah ngasi contoh dengan penjual mainan anak2.. Dan orang paling tololpun pasti tahu jika mereka dikasi mainan oleh sipenjual itu walau tidak mengatakan di jual..
        Sekali lagi yang anda sampaikan adalah pengertian anda -> di ayat mana Qur’an mengatakannya? jangan campur adukkan antara pemahaman/tafsir/karangan anda dengan apa yang dari Qur’an

      • * Di ayat itu jelas tujuan Luth yang menawarkan putrinya itu untuk menghentikan perbuatan bejat kaumnya yang menuntut hak bebas berprilaku dan bebas berbipikir seperti anda..
        Jangan ngarang! tolong tunjukkan ayat yang eksplisit mengatakan itu? bedakan antara tafsir dengan yang tertulis!

      • * Anda mencampur aduk kisah di Alkitab dengan alqur’an.. Ini benar-benar membuktikan anda tidak tahu apa2..
        Dengan menunjukkan dengan jelas ayat dari Qur’an dan Alkitab, paling tidak saya tahu tentang sumber informasi yang saya tulis.
        Dengan mengobral kata bodoh dan tolol, tanpa bisa menunjukkan ayat-ayat ; paling tidak saya tahu anda tidak tahu ayat yang bisa mendukung argumen anda.
    • Wisya Reply

      Seru deh diskusinya. Ini prasangka saya pribadi, haruskah saya percaya sama al’quran. Kalau dari sejarah terjadinya alqur’an aja masih “?”, banyak versi. Jarak penulisan al’quran serta adanya distandarisasikan versi Mesir dll. Betul kah dari Tuhan? Bukankah itu hanya sebuah buku yang menceritakan kisah manusia yg terlahir di timur tengah, serta pikiran2nya dan delusinya yang di tulis ulang oleh orang2 timur tengah dengan penambahan2 yg Kita sendiri tidak tau dan hanya didoktrin untuk meyakini bahwa itu dari Tuhan. Saya hanya prihatin kenapa harus dengan buta hati memaksakakam untuk meyakini, bukankah kita sudah dianugerahi rasa dan Fikiran yang sangat hebat untuk menyaring informasi yang benar dan salah. Apalagi kalau sudah menyebut Alquran seakan2 diatas segalanya dan selalu dianggap paling benar sampai2 rasa kemanusiaan dan Fikiran kita diabaikan dan dikalahkan. Kalau hal itu terjadi maka kekacauanlah yang selalu terjadi di Indonesia ini. Akankah seperti itu terus menerus.

    • Andik Reply

      Yang namanya kitab suci itu pasti ada unsur manusia.Jika tidak ada unsur manusia pasti tidak akan jadi kitab tertulis.JIka ada isi kitab yang bertentangan dengan kemanusiaan ya jangan di percaya.Agama manapun tidak menyelamatkan manusia di akherat nanti,tapi amal kebajikanlah yang menyelamatkan manusia diakherat.Agama hanyalah sarana untuk berbuat amal kebaikan.Agama hanya menyampaikan pesan moral,agar umatnya menjadi manusia yang bermoral,bukan sok baik dan sok benar sendiri.Agama bukanlah kitab Sain dan teknologi.Jika ada ayat dalam kitab suci yang tidak cocok dengan sain jangan coba coba untuk mencocokkannya,hal itu akan menjadikan kebodohan umat dan juga tanpa disadari akan merusak agama tersebut.Hal yang sering dilakukan para ustad adalah menolak sain ketika sain tersebut tidak cocok dengan kitab suci,ini adalah kebodohan terbesar para agamawan.Sumber segala kekacauan,terletak pada para ustad yang kurang intelektual dan pemahaman pada agamanya.Baru nyantri di pesantren pinggiran sudah jadi ustad ya kacau,yang terjadi bukan malah tentram tapi malah ruwet.Jika sain gak kenal Tuhan ya jangan salahkan sain,justru jika sain kenal Tuhan malah bahaya,bisa tiap tahun ganti agama dan kitab suci.Dulu ketika para wali menyebarkan islam,agama menjadi sumber moral tertinggi,karena para wali adalah seorang spiritualis sejati,tetapi para ustad sekarang bukanlah seorang spiritualis,mereka hanya belajar dari buku buku yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya,agama menjadi arabisasi dunia ya akhirnya jadilah agama semakin jauh dari kebenaran.

      • Zulfikar Reply

        Tambahan referensi untuk diskusi mengenai Al Quran coba download link dari Aidid Safar ini ; http://www.aididsafar.com/pdf/Terjemahan%20Arab%20Conspiracies%20Against%20Islam.pdf
        Melalui buku ini kita bersama dapat melihat Al Quran dari sudut pandang lain.
        Kebenaran yang hakiki hanya ada pada Tuhan itu sendiri tidak satu manusiapun yang berhak meng klaim kebenaran siapapun orangnya, hal ini sesuai dengan tuntunan Al Quran itu sendiri. Pendapat sesorang dari strata manapun termasuk ulama hanya sebagai referensi, makin banya referensi makin luaslah perspektif manusia terhadap keyakinannya kepada kitab suci.
        Tuhan memberikan “Free Will” kepada manusia ciptaannya dengan segala konsekwensi yang harus diterima manusia.
        Jadi benar pendapat Mahasiwa IAIN Medan yang dipecat kampusnya, bahwa “Penafsir Tunggal Al Quran hanya ada pada Nabi Muhamad, sementara beliau sudah tidak ada jadi Al Quran layak untuk di kritisi sehingga pemahaman tentang kebenaran Tuhan dan agama bukanlah DOGMA.

    • joe Reply

      KEPADA YG PUNYA WEBSITE INI SARAN SAYA ANDA BER TAUBAT DAN TAKUTLAH AKAN AZAB ALLAH YANG PEDIH KARENA ENGKAU TELAH MENAFSIRKAN AYAT-AYAT ALLAH DGN PEMIKIRAN MU YANG DANGKAL DAN TAK BER AHLAK DAN TELAH MENGHINA NABI ALLAH YANG MULIA DI SISINYA!!MUMPUNG MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK BERTAUBAT MAKA BERTAUBATLAH!! JIKA INGIN BERDEBAT TATAP MUKA SAJA LANGSUNG JANGAN BISA NYA BERDEBAT DI MEDIA ONLINE,HATI-HATI LAH MENJAGA LISAN MU,SAYA HANYA BERDOA SEMOGA ALLAH MENGAMPUNI DOSAMU YANG BESAR ITU KRN TELAH MENGHINA NABI ALLAH DAN MENGGINA AYAT-AYAT SUCI ALQURAN,seharus nya kamu byk belajar dari apa yg telahdi terangkan di alqur’an agar jadi pembelajaran buat kamu!! apakah kamu mau di azab oleh allah,jgn songong jadi manusia baru di kasih ilmu sedikit sdh berani menafsirkan isi ALQUR’AN DAN MENGHINA NABI ALLAH!!

      • Judhianto Post authorReply

        @Joe: terima kasih untuk menemukan kedangkalan pemikiran saya. Terima kasih pula untuk memohon ampun buat saya melalui do’anya.

        Untuk membantu saya dan pembaca yang lain, mohon kerendah hatiannya untuk menyampaikan kedalaman pemikiran anda tentang topik ini di ruang komentar ini. Tentu berguna bagi kita semua untuk menemukan apa yang salah dan apa yang benar.

    • toyoi Reply

      Apakah saya berdosa dan dapat azab dari allah bila memiliki pemikiran semacam diatas, lucu deh.coba ada yang bisa tunjukan dosa saya berapa banyak? Biar saya perbaiki dan saya seimbangkan kalau manusia memang diberi raport sama allah. Manusia yang labil dan ragu tetang kehidupan selalu berdelusi dengan hal2 yang tidak semestinya dipikirkan seperti pahala, surga dan neraka dll. Samapai saat inipun saya sebagai muslim bingung. Kenapa saya harus membagakan dan memuja2 muhammad! Kenal tidak, keluarga tidak, pemimpinku juga tidak dan kenapa harus mengaggab bahwa muhamad merupakan pilihan allah yang sempurna? Kenapa hanya dia yang di ciptakan sempurna, maha lemah allah untuk bisa mencipta muhammad2 lain yang lebih hebat di era yang serba canggih ini. Kita masih diwajibkan membuat karangan2 hebat tentang muhammad seperti yg di dakwahkan ustad dan agamawan.

    • Andik Reply

      @TOYOI:Di dunia ini semua bisa anda cari,seperti ilmu,harta,tahta,wanita,bahkan kesalahan orang pun bisa anda cari,karena itu ada diluar diri anda.Yang tidak bisa anda cari adalah:TUHAN,CINTA,KEBAHAGIAAN,KEBENARAN.Karena semua itu ada dalam diri kita sendiri,itu wilayah personal kita.Perhatikan kata kata ini dengan baik:…..aku ada karena AKU….AKU ada karena aku.Jika AKU tiada maka aku tiada.Jika aku tiada maka AKU tidak dikenal.Jika aku menonjolkan diriku maka AKU tiada.Jika aku menghilangkan aku maka AKULAH yang ada.Jika aku menonjolkan aku maka kekuasaanlah yang di inginkan,menjadi akulah pangeran sejagad.Renungkan kalimat tersebut kenapa saya menulis aku dengan huruf kecil,dan AKU dalam huruf besar,jika anda telah memahami maka anda akan memperoleh kebenaran sejati.Jika kebenaran tersebut telah anda peroleh jangan sekali sekali anda katakan pada orang lain,itu wilayah personal anda bukan untuk konsumsi publik.Semoga anda menemukannya.

    • rey Reply

      Assalamualaikum
      saudaraku….
      jangan “Menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.
      apakah kamu dapat melihat “kentut” …saudaraku……????
      hanya kamu dan Allah yang mengetahui apa yang ada dibenakmu…
      semoga kamu “mengerti”…saudaraku….
      Maka orang yang sombong, selalu berambisi untuk meninggikan dirinya di hadapan Allah Ta’ala dengan cara menolak syariat dan ajaran agama.
      Perkataan yang benar adalah dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam

      • Judhianto Post authorReply

        @Rey: selain menunjukkan anda paham “kentut”, apakah ada komentar lain yang relevan dengan isi tulisan saya?

        🙂

      • aninditya Reply

        rey : itu menurut pandangan anda, coba tanya orang lain yang tidak sepaham atau benda keyakinan dengan anda apa syariat yang anda usulkan memberikan manfaat bagi yang lain.(bagi saya tetap demokras pancasila yang tetap top markotop dan bermanfaat bagi bangsa indonesia).apa bedanya anda percaya tuhan dengan mbah saya yang percaya dengan nyi roro kidul sama2 di yakini memberikan berkahi

        • rinna Reply

          Meninggalkan jejak:
          Saya, dan anda semua tidak hidup dijaman Nabi Luth, dan meskipun kita diberi situasi yg serupa pasti pikiran kita berbeda. Q manusia biasa… kalo aku ada diposisi Nabi Luth saat itu, pasti aku akan membawa pergi semua keluargaku dari sana.
          Tapi, Nabi mempunyai tugas, yaitu menyadarkan kaum sodom yg ‘homo sex’, kalau q rasa,, Nabi hendak menyerahkan anak gadisnya,, yaitu dengan secara ‘halal’ kurasa bgt td postingan saudara, yaitu dgn adanya pernikahan. Hal ini dimaksudkan dapat menyadarkan mereka yg sodom bahwa hakekatnya perempuan/anak gadis Nabi Luth lebih pantas dinikahi dan digauli (sbg istri) dibandingkan dua orang tamunya yg tampan. Jika nabi menyerahkan tamunya, berarti dia lalai dr tugasnya dan mendukung praktik sodom. Jika anak gadisnya dinikahkan dgn kaum tersebut, tidak lain adalah dgn tujuan mulia menyadarkan kaum sodom. Dan putrinyapun adalah seorang pejuang, meski tdk dgn pedang dan panah. Bukannya perjuangan seseorang itu berbeda2? Seorang ibu kepada anak,, bagi yg blm punya anak, pasti akan menganggap seorang ibu yg berjuang jiwa dan raga tanpa imbalan, itu bodoh. Apalagi lako dilihat dr segi bisnis. Namun, itulah perjuangan.
          sebenarnya saya tdk benar tau apa yg.ada dibenak nabi saat itu. Namun, secara logika saya… itulah alasannya.
          untuk kasus inces,, nocomment. Saya g mempercayai kisah itu.
          thank.

          • Judhianto Post authorReply

            @Rinna: anda tidak membaca komen-komen sebelumnya sehingga mengulangi komentar yang sama.

            Mungkin anda harus belajar untuk membedakan antara membaca catatan peristiwa dan mengarang bebas. Catatan peristiwa adalah apa yang tertulis dan bisa diverifikasi sumbernya, sedangkan mengarang bebas adalah sebagaimana biasa direproduksi para ulama/pendeta untuk memperindah kisah tanpa dasar teks yang bisa dipertanggungjawabkan.

            Untuk kisah Luth, catatan peristiwa ada pada sumber-sumber berikut:

            • 1. Kitab Perjanjian Lama (PL). Ini dokumentasi sejarah bangsa Yahudi yang disusun sendiri oleh bangsa Yahudi jauh sebelum Islam lahir.
            • 2. Al-Qur’an (Q). Ini adalah kitab yang lahir belakangan di bangsa Arab, yang sebenarnya bukan pemilik asli kisah ini.
            • 3. Kisah Israiliyat (KI), yang berupa cerita turun temurun yang lebih mirip dongeng dari Arab. Sumber ini tidak bisa diandalkan karena ini adalah kisah dari mulut ke mulut yang beredar di bangsa Arab tentang bangsa Yahudi yang terpisah jarak tempat, budaya dan waktu (ratusan bahkan ribuan tahun). Ini seperti bila orang Malaysia modern menceritakan dongeng-dongeng tentang Raja-raja Majapahit (bangsanya beda, budayanya beda, jamannya beda) tentu lebih banyak ngawurnya.

            Yang anda sampaikan adalah sbb:

            • 1. Tugas Luth adalah menyadarkan kaum homo sex –> anda tak akan menemukan penjelasan tugas seperti ini di PL atau Q, paling-paling ada di KI yang direproduksi ulang dalam riwayat sahabat. Kesimpulannya ini mengarang bebas.
            • 2. Luth menyerahkan anaknya untuk dinikahi –> bila anda baca terjemahan asli PL dan Q, maka Luth menyodorkan anaknya begitu saja agar malaikat tamunya gak diganggu, kasarnya boleh perkosa anaknya asal tamunya gak disentuh. Perkataan dinikahi atau halal hanyalah karangan bebas yang ditambahkan agar Luth terlihat santun.
            • 3. Motif seperti pengorbanan dan segala macam yang anda tunjukkan sama sekali tidak mempunyai landasan teks. Itu tak lebih dari karangan bebas para ulama/pendeta yang anda reproduksi ulang.
            • 4. Sebenarnya kisah Nabi-nabi Qur’an asalnya dari Perjanjian Lama. 24 nabi yg dikisahkan Qur’an semuanya berasal dari kisah nabi-nabi Yahudi yang diseleksi dari Perjanjian Lama. Berbeda dengan Perjanjian Lama yang menampilkan tokoh-tokoh itu secara wajar dengan segala cacat-celanya, Qur’an menyensor habis kisah-kisah itu hingga hanya menampilkan tokoh-tokoh itu tanpa cacat. Kalau anda menolak episode incest Luth, ya sudah, berarti anda sejalan dengan Qur’an yg ingin para nabi bukan sebagai manusia biasa yang bisa punya cacat.
      • Zulfikar Reply

        Kitabullah sendiri mengajarkan manusia untuk menggunakan akalnya Q 10:100, jadi bikannya Dogma dari Ulama tetapi Ulama sebagai referensi saja.

    • ANDIK Reply

      @Judhianto:Saya akan kutip hadist nabi.Bukan seorang pendusta orang yang berbohong untuk mendamaikan antar sesama manusia.Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.(hadist riwayat Bukhori dan muslim).Inilah hasil dari kebohongan yang berabad abad itu,satu kebohongan yang disampaikan akan menimbulkan seribu kebohongan berikutnya.Ketika kita akan meluruskan sebuah kebohongan tersebut dengan mengatakan yang sebenarnya justru kita dikataka berbohong,karena kebohongan yang telah lalu,sudah dianggap sebagai kebenaran.Sehingga nilai sebuah kebenaran akan sama dengan nilai sebuah kebohongan di mata orang orang yang telah banyak dibohongi.Seperti mencampurkan serbuk besi dengan serbuk tembaga sulit untuk memisahkannya,dimana hanya sebuah magnet yang akan dapat memisahkannya.Hanya nurani yang bisa membedakan mana kebohongan dan mana kebenaran.

    • rio Reply

      Kalo kisah yg pertama, itu masih masuk nalar, secara tidak langsung Nabi Luth berdakwah mengajak kaumnya yang homoseksual untuk menikahi wanita secara normal,

      tapi kalo kisah yang kedua, tentang hubungan inses, ini yang ga masuk nalar. Saya sudah berkali2 bertemu dengan teman2 saya yang nasrani, dan menanyakan ayat2 tentang nabi Luth ini, dan kebanyakan mereka diam seribu bahasa alias malu tidak bisa menjelaskan, tapi ada pula yg mengatakan bahwa nabi juga manusia bisa berbuat salah.

      Tapi bagi saya sendiri, Old Testatement masih mengandung banyak misteri yang belum terpecahkan, karena hingga sekarang belum ada arsip bibel yang asli berbahasa hebrew kuno, walaupun telah ditemukan gulungan laut mati, itupun belum bisa menjawab keotentikan bibel, sepengetahuan saya kanonisasi bibel oleh gereja masih berbasis bahasa latin kuno, padahal masa Old Testatement itu pakenya bahasa Hebrew kuno. Parahnya lagi umat kristen di Indonesia baca Old Testatement itu pakenya bahasa Indonesia. Beda kasus dengan Umat Islam dengan Quran-nya yang berbahasa Arab dialek Quraisy persis yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Dan hingga kini umat Islam di seluruh dunia tetap baca Quran dengan bahasa arab dengan tajwid dialek Quraisy.

      Perlu kita garis bawahi proses penyalinan kitab suci itu adalah sesuatu yang vital dalam keimanan suatu agama. Karena itu kodifikasi wahyu Tuhan kepada umatnya, salah sedikit saja menyalinnya, maka berubalah makna wahyu Tuhan itu. Dalam kasus bibel, ada beberapa hal yang bisa dijadikan bahan diskusi (i) mengapa tidak ada bibel yg berbahasa asli hebrew kuno hingga kini (ii) apakah ada jaminan dalam proses penyalinannya selama berabad2 (iii) apakah ada jaminan kesamaan tafsiran wahyu apabila bibel itu dialih bahasakan ke banyak bahasa

      Dari analogi di atas, saya berpendapat kitab suci haruslah mengajarkan ajaran moral yang baik kepada umat, mengenai kisah hubungan inses nabi Luth dengan anaknya, saya punya firasat ini bukan kisah asli bibel, tapi hanya kisah tambahan, bisa saja ada beberapa suku Yahudi di Israel kuno yang tidak suka atau berperang dengan suku Moab di wilayah tenggara. Lalu membuat kisah tambahan dalam Old Testatement bahwa keturunan Moab adalah hasil hubungan inses Nabi Luth dengan anaknya. Ini hanya feeling saya saja loh… mohon maaf buat umat Kristen tentang komentar saya… mohon sanggahannya

      • Judhianto Post authorReply

        @Rio: ada dua hal yang anda komentari: kisah Luth dan otentitas Perjanjian Lama (Taurat)

        Untuk kisah Luth menyodorkan anak gadisnya, anda mengatakan

        itu masih masuk nalar, secara tidak langsung Nabi Luth berdakwah mengajak kaumnya yang homoseksual untuk menikahi wanita secara normal

        silakan baca ulang terjemahan asli Qur’an, isinya cuma Luth sodorkan anaknya agar tak ganggu tamunya, itu saja. Untuk ajakan dakwah, menikahi secara normal, itu tak ada. Itu hanya tafsir tambahan yang diberikan pada teks aslinya.

        Untuk otentitas kisah ini ada hal yang perlu kita perhatikan

        • 1. Kisah Luth pertama ada dalam Torah umat Yahudi. Torah dipercaya disusun oleh Musa dan diwariskan secara lisan. Kitab ini selesai disalin ke bentuk tertulis pada tahun 400 SM dalam bahasa Hebrew.
        • 2. Torah merupakan bagian dari kitab Tanakh, disamping itu ada Talmud yang merupakan kitab tafsir dan komentar dari para pemuka Yahudi.
        • 3. Agama Kristen dan Islam menggunakan kisah-kisah Torah sebagai landasan ajarannya. Kristen menyebut Torah sebagai Kitab Perjanjian Lama dan memasukkannya utuh-utuh sebagai bagian dari Bible. Islam memasukkan dan memodifikasi kisah-kisah Torah dalam Qur’an. Dari 25 rasul Islam, selain Isa dan Muhammad, semuanya merupakan nabi/rasul agama Yahudi.
        • 4. Sebagai dokumen tertulis, Torah sudah tidak berubah sejak 400SM, sedangkan Talmud dan beberapa kitab Yahudi lainnya berkembang terus karena sifatnya sebagai tafsir terhadap Torah yang tentu saja berkembang menurut jaman.
        • 5. Umat Islam seringkali menuduh Taurat dan Injil tidak otentik jika kisahnya tidak sesuai dengan selera mereka. Mereka mengacaukan Torah dengan Talmud yg memang berubah, mengacaukan Torah dengan bagian Perjanjian Baru Bible yg memang baru di kodifikasikan di tahun 325 saat Konsili Nicea. Padahal jika merujuk Torah sebagai sumber kisah-kisah itu, kitab itu sama sejak 400SM.
      • Judhianto Post authorReply

        @Atheis Jihaderz: secara umum takdir berarti bahwa sesuatu (peristiwa) sudah ditetapkan Tuhan sebelum sesuatu itu terjadi.

        Ada atau tidak? kalau kriteria ada itu adalah bisa dibuktikan dan di verifikasi, maka gak akan pernah ada buktinya. Percaya takdir itu sepaket dengan percaya Tuhan, gak ada buktinya, tinggal milih percaya atau tidak.

    • ddaiden Reply

      menurut saya,ada sedikit kekeliruan disini mungkin maksud dari nabi luth sendiri menawarkan anak perempuannya adalah untuk dinikahi dan tentunya dg halal dan nabi luth sendiri pun tau jika laki laki dan perempuan pada zamannya adalah tidak normal (gay dan lesbian) bahkan istrinya sendiri adalah seorang penghianat….terima kasih

      • Judhianto Post authorReply

        @Ddaiden: anda bicara teks atau tafsir?

        Kalau teks bisa dilihat, Luth mengumpankan anaknya agar gerombolan di luar tak mengganggu tamunya. Lihat teks berikut:
        Bible:
        Coba dengar, saya punya dua anak perawan. Biar saya serahkan mereka kepada kalian dan kalian boleh melakukan apa saja dengan mereka. Tetapi jangan apa-apakan tamu-tamu saya ini; sebab saya wajib melindungi mereka [Gen 19:8]

        Qur’an (terjemahan langsung):
        قَالَ – Berkata (Luth)
        هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي – ini putri saya
        إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ – bila kalian mau
        [Al-Hijr: 71]

        Tentang nikah dan halal, itu tak ada. Itu hanya sisipan dan tafsir penerjemah yang ingin menampilkan Luth agar sesuai dengan imajinasi tentang sosok nabi yang berperilaku mulia saja.

    • bintang Reply

      mgkinkah pesan yg yg ingin di sampaikan adalah bahwa berbuat tuhan (yg di maksudkan ) adalah sbagai sgala sgalanya? bahkan bila perlu mengabaikan nalar,bahkan kemanusiaan? jk mmg iya,waah betapa dasyat efek yg di timbulkan? fanatisme

    • Rhino86 Reply

      Dear Judhianto

      Sebagai seorang muslim, saya senang membaca cerita tentang Nabi dan Rasul-Nya. Memang pada saat membaca cerita tentang Nabi Luth versi Bible saya sadar bahwa standar moral pada zaman itu seharusnya tidak di samakan dengan zaman sekarang. Hanya saja inti yang bisa saya ambil adalah, Menjadi pemerkosa, zinah dengan banyak wanita, itu masih lebih baik daripada menjadi seorang Homoseksual, berbeda dengan lingkungan sosial pada saat ini, yang dimana menjadi Homoseksual itu lebih baik di banding menjadi pemerkosa karena tidak merugikan orang lain.

      Mohon berikan pendapat tentang opini saya.

      Terima Kasih

      • Judhianto Post authorReply

        @Rhino86: opini anda terlalu ekstrim, menjadi pemerkosa dan zina dengan banyak wanita tidak pernah diterima juga di masa lalu, itu selalu dianggap kejahatan.

        Yang membedakan hanyalah di masa lalu, itu tidak dianggap kejahatan bila dilakukan pada manusia yang kelasnya lebih rendah, misalkan budak (bangsa atau agama lain yang ditaklukkan). Di masa kini, persamaan di depan hukum adalah prinsip dasar. Menerima perbudakan atau memberikan hak secara berbeda atas nama agama atau ras sudah dianggap kejahatan sendiri.

        Untuk homoseksual, ini mungkin sekedar meletakkan prioritas hak pribadi.
        Di masa lalu, menegakkan agama dan norma masyarakat jauh lebih penting dari hak pribadi, walau itu berarti penindasan atas hak pribadi.
        Di masa kini, hak pribadi jauh lebih penting dari agama atau norma. Selama tidak mengancam secara nyata pribadi lainnya, setiap orang berhak mengklaim haknya (termasuk menjadi homoseks).

    • satria Reply

      diskusinya menarik yah… saya suka dengan logika berpikir pak judhiaanto tentang sejarah agama, tapi saya kurang sependapat agama itu sebagai akselerasi/penghambat suatu peradaban, sebenarnya perkembangan budaya manusialah sebagai aksekrasi/penghambat suatu peradaban

      menurut karen armstrong, seorang ahli sejarah agama, sebenarnya beratus2 ribu tahun yg lalu, sebenaranya manusia sudah berkepercayaan monoteis, mereka percaya bahwa di langit sana ada yg menciptakan semua ini, semua ini pasti ada sebab akibat.. sementara agama adalah perwujudan eksistensi dari kepercayaan tersebut, tentunya berkembang dengan kebudayaan di daerah masing2

      Khusus untuk agama samawi, Yahudi, Kristen dan Islam, saya rasa ada yang menarik dalam agama2 ini, massif, bertahan lama dan sangat mengakar. Mungkin pak Judhianto bisa menjelaskannya kenapa

      saya memiliki alasan sederhana, kenapa kita harus percaya Tuhan dan tidak boleh menjadi atheis

      (1) di Bumi ini, satu2nya makhluk yg bisa berbicara dan berbahasa vokal komplit itu hanya manusia saja, ini pertanyaan besar yg ga bisa dijelaskan secara science, padahal secara logika, simpanse bisa seperti manusia

      (2) di bumi ini, hanya manusialah yg bisa membuat peradaban besar, bisa membuat jalan aspal, bisa memasak, dan bisa pergi ke luar angkasa, ini pasti ada campur tangan yg di atas

      (3) di bumi ini, hanya manusia yg bisa berekspresi secara jelas, bisa marah, tertawa, sayang, membenci dan lain2nya

      (4) di bumi ini, hanya manusialah yg melakukan ritual pemakaman (dikubur, dibakar, dll) dan ini sudah dilakukan beratus2 ribuan tahun yg lalu, siapa yg mengajarkan semua ini…??

      Saya percaya hidup ini ga sekedar hidup doang… pasti ada makna misteri yg besar dalam hidup ini… Tuhan itu tidak bisa dijelaskan secara science… maka dari itu manusia harus percaya akan Tuhan tanpa harus pake logika, syukur2 bisa beragama agar hidupnya lebih berarti…. saya pribadi memilih Islam sbg way of life saya… mari kita senantiasa selalu bersyukur kepada Tuhan menurut kepercayaan dan agamanya masing2…

      • Judhianto Post authorReply

        @Satria: memang budaya bisa menghambat atau memacu peradaban, dan agama merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya.

        Islam ekspresi budaya Arab dan Kejawen ekspresi budaya Jawa, semuanya punya elemen yang bisa memacu peradaban atau menghambat kemajuan. Kacaunya Timur Tengah dan hampir tak adanya sumbangan wilayah tersebut untuk budaya modern menunjukkan mandeknya peradaban arab (yang digerakkan oleh Islam).

        Karen Armstrong menunjukkan bahwa beragama merupakan kecenderungan alami sebagiam besar manusia. Namun kita bisa juga melihat bahwa tidak beragama juga alami bagi sebagiam manusia walaupun sedikit. Kita bisa melihat suku Piraha di Amazon yang tidak mengenal konsep Tuhan https://agamajinasi.wordpress.com/2012/08/23/piraha-yang-bahagia-tanpa-tuhan/

        Mengapa agama samawi lebih tersebar dari yang lain?
        Mungkin ini berakar pada pandangan monoteis yang menganggap hanya ada satu Tuhan sehingga juga hanya ada satu kebenaran.

        Dengan melihat yang lain sebagai yang salah, yang perlu disadarkan, atau ditaklukkan agar menerima kebenaran yang tunggal; maka agama samawi mempunyai ambisi kuat untuk berdakwah, menyelamatkan dunia dan bahkan menaklukkan yang lain agar menerima kebenaran agamanya.

        Hal ini beda dengan agama dharma atau politeis yang bisa menerima bila ada yang menyembah Tuhan yang lain dan bila orang lain mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan mereka. Jika mereka melakukan ekspansi mereka tidak menggunakan faktor religius sebagai pendorongnya.

        Untuk alasan sederhana anda percaya Tuhan, bahwa karena hanya di Bumi ada manusia dan segala macam kerumitan budayanya, mungkin memang masih bisa digunakan saat ini.

        Namun sepertinya alasan itu mempunyai tantangan yang besar di masa depan.

        Kita percaya kita di Bumi adalah satu-satunya mahluk cerdas di semesta yang luas ini bukan karena kita tahu pasti bahwa tidak ada mahluk cerdas diluar sana, melainkan hanya karena kita tidak tahu apa yang di luar sana.

        Dari hasil explorasi semesta terakhir, setiap bintang sepertinya punya planet, dan itu berarti ada trilyunan planet di luar sana.

        Teknologi kita baru bisa melihat planet yang mengorbit matahari, belum yang mengorbit bintang.

        Akan tetapi saya yakin di masa depan, kita mampu meneliti isi planet yang mengorbit bintang lain. Dan saya yakin kita akan mendapatkan banyak kejutan dari trilyunan planet di atas sana. Entah planet yang bisa dihuni, planet yang memiliki kehidupan dan bahkan peradaban lain di luar sana. Dan jika itu terjadi, maka alasan anda menjadi tidak relevan lagi.

        Untuk siapa yang mengajarkan ritual pemakaman? mungkin kita juga bisa menanyakan siapa yang mengajarkan membuat komputer? Atau menjelajah bulan?
        Jika kita tahu manusia bisa belajar sendiri membuat komputer dan menjelajah ke bulan, tentu lebih mudah untuk percaya bahwa untuk hal yang jauh lebih sederhana seperti ritual pemakaman, manusia juga belajar sendiri.

    • Abdul Reply

      Semua akan tidak aneh ketika di lihat dari kacamata iman pada setiap pemeluk agamanya

    • Bunda Rara Reply

      Mohon maaf sebelumnya atas kedangkalan pengetahuan dan pemahaman saya. Tetapi hendaklah kisah Lut ini tidak diaplikasikan begitu saja dalam konteks pemahaman masa kini, harus dilihat segi sejarah dan adat istiadat pada masa hal itu terjadi. Kisah ini terjadi pada masa dimana genosida, pembunuhan dan kebrutalan bukan sesuatu yang aneh. Kisah ini ada dlm kitab suci kami (bagi saya Alkitab) bukan untuk disoroti brutalismenya, tetapi esensi kisah ini dipandang dari segi keimanan. Jadi…sungguh konyol bagi saya jika Anda memahaminya dalam konteks masa kini dan seenaknya menyebut kisah ini brutal dan aneh. seperti pendapat Abdul, kita harus melihat setiap kisah dalam kitab suci dari kaca mata iman pada setiap pemeluk agamanya. Terima kasih ya 🙂

      • Judhianto Post authorReply

        @Bunda Rara:

        Kisah ini ada dlm kitab suci kami (bagi saya Alkitab) bukan untuk disoroti brutalismenya, tetapi esensi kisah ini dipandang dari segi keimanan.

        Oke, jadi saya mengulang hal penting dalam tulisan saya berikut:

        • * Lot melindungi tamunya dengan menyerahkan 2 anak perawannya kepada gerombolan jahat untuk diperlakukan apa saja.
        • * Lot bersetubuh dengan 2 anak kandungnya sendiri

        Menurut anda, apa esensi kisah ini dipandang dari segi keimanan yang bisa kita teladani sehingga perlu dilestarikan dalam kitab yang dianggap suci selama ribuan tahun?

    • Suara Rasional Reply

      Pertama. Problem mendasar manusia yang telah beragama, selalu mengganggap yang tertulis dan telah dikodifikasi sebagai Kitab, dianggap tak terbantahkan tentang akurasi dan kebenarannya. Maka ketika dimunculkan detail-detail yang sebenarnya telah ada, tapi cenderung tertutup oleh kabut logika sempurna dan tak terbantahkan itu, cenderung ketakrelaan muncul sangat membabi-buta dan picik.

      Berikut. Tuhan tidak pernah menulis kitab suci apapun! Kisah Luth adalah gambaran kebiadaban dan kebrutalan ras manusia zaman itu yang memang senyata-nyatanya ada. Jika ditelusuri, tanpa melihat kitab sucipun, insest adalah gambaran hubungan badan hampir setua peradaban manusia itu sendiri. Peradaban tertua apapun “menceritakan” ini.

      Saya tidak yakin jika kisah kebiadaban manusia zaman itu, dalam hal ini Luth menyerahkan anaknya, adalah cerita atau kisah yang dituturkan Tuhan sendiri. Ini hanya bukti bahwa manusia rela melakukan apa saja untuk menyelamatk dirinya sendiri termasuk menyenangkan dirinya sendiri; sekalipunpun itu darah dagingnya. Dewasa inipun kisah sejenis kita sering melihat, mendengar dan membacanya.

      Para penulis atau penyusun kisah Luth, sekiranya saya, hanya mau melaporkan (reportase) fakta-fakta sosial saat itu, kemudian disusupi dengan kaidah-kaidah moral dengan tujuan agar para pembaca (zaman itu) dan generasi berikut yang akan membacanya, menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut sangat patut dijauhkan dan dihindari.

      Sementara ini saja yang saya bisa bagi.

      • Suara Rasional Reply

        Maksud saya pada paragraf ketiga di atas: “…., dalam hal ini keinginan Luth menyerahkan anaknya, …”

    • Iin Reply

      Ayat2 dalam Al – Qur’an sering diakhiri dg… “supaya manusia dapat berpikir”. Ayat2 Al-Qur’an selalu membuat kita penasaran dan terus mencari rahasia di balik turunnya ayat tersebut. Untuk pertanyaan anda, sesungguhnya Nabi Luth menyarankan kepada mereka untuk menikahi putrinya saja, itu lebih baik daripada menjadi homoseksual. Saya mengerti kalau anda bingung. Bergurulah kepada ahli tafsir misalnya KH. Quraisy Syihab. Saya rasa anda berbakat menjadi ahli tafsir. Saya doakan semoga anda mendapat hidayah dan menjadi ahli tafsir Al-Qur’an yg mumpuni, aamiin..

    • ali Reply

      sebagian benar….kebanyakan salah besar…. seperti orang yng dmembahas masalah gunung dari jauh. kalao gunung tidak ada pohon..yg ada hanya gunung..titk

      • Judhianto Post authorReply

        @Ali: oke, jadi anda tahu ada yang salah dan ada yang benar, tapi gak berani (gak pede?) untuk menunjukkan yang mana itu.

        Ya sudah, memang butuh nyali untuk berpendapat 🙂

    • Wisya Reply

      mohon pencerahan om Ali, biar saya tidak salah terima dari bacaan pak yudi, yang salah besar yang mana dan yang betul bagaimana? Setidaknya om ali kalau bisa menyalahkan bisa memberikan jawaban tentsng kebenarannya biar saya tidak salah bila ada yang bertanya, tks

    • Harnanto Wahju Nugroho Reply

      Jika menggunakan akal manusia maka ibaratnya kita menilai kebenaran sesuatu itu dengan alat ukur yang TIDAK STANDAR dan pada manusia yang sama saja bisa berubah-ubah akibat hawa nafsunya sendiri.

      Maka dari itu gunakan dalil naqli di atas aqli (jika ada pertentangan). Selain itu agar tetap LURUS dan tidak dibelok-belokkan oleh hawa nafsu sendiri gunakan FRAMEWORK yang benar yaitu TAUHID dan AKIDAH (untuk muslim adalah Al Qur’an dan Al Hadits).

      Tanpa framework maka kita akan menjadi golongan LIBERAL, yaitu menolak adanya batasan sama sekali. Akibatnya maka praktek yang dilakukan adalah bid’ah dan sinkretisme sesuai selera sendiri.

      • Judhianto Post authorReply

        @Harnanto Wahju Nugroho: ya sudah, beri contoh dong pendapat yang LURUS menggunakan FRAMEWORK TAUHID dan AKIDAH. Silakan …

    • Kolong Langit Reply

      sederhana mas, mas judhi melihatnya dari sudut kekinian.. sedangkan luth (mungkin?) melihatnya dari sudut lain yaitu kebanyakan kaum luth pd saat itu, sehingga dikhawatirkan kelestarian manusia tidak akan langgeng; artinya hanya keluarga luth lah yang normal(?) saat itu dibanding dengan kaumnya yang mengerikan (?)

      pada intinya, apa yang terkandung didalam surat (ayat) dalam kedua kitab suci tsb, menunjukkan bahwa kelestarian manusia lebih penting daripada kemusnahannya. Dan, kaum seperti ini akan selalu ada sepanjang jaman.

      mohon maaf bila salah,..

      • Judhianto Post authorReply

        @Kolong Langit: keluarga Luth normal? Bapak yang menyodorkan putrinya sendiri ke gerombolan biadab asal gak mengganggu tamunya? Anak yang bersiasat agar disetubuhi Luth (bapaknya sendiri)?

        Bagi saya, keluarga Luth adalah sakit, dibela Tuhan maha kuasa yang kalau mau bisa menormalkan masyarakat yang sakit dan keluarga nabi yang sakit itu dalam sekejap mata. Tuhan yang memilih menggunakan kekuasaannya untuk mengubah istri Luth menjadi tiang garam akibat kesalahan sepele (hanya menoleh, ya! hanya menoleh). Tuhan yang memilih menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan sebuah bangsa yang dianggap sakit daripada menyembuhkannya.

        Potret yang lengkap tentang masyarakat yang sakit, Nabi (dan keluarganya) yang sakit dan pertunjukan kekuasaan Tuhan yang entahlah…

    • Kolong Langit Reply

      ‘Normal’ dalam arti lebih baik DIBANDINGKAN dgn mayoritas masyarakatnya pada saat itu,..
      memang agak sulit mendefinisikan kata ‘normal’ 🙂 saya lebih suka mengambil padanan kata ini dengan istilah ‘sunatullah’, artinya laki-laki membuahi perempuan.

      kita harus melihat konteksnya ‘pada saat itu’, dan BUKAN norma atau moral ‘masa kini’.. (meski masih tetap saja ada dan terjadi di era sekarang), dan kita harus melihat Luth sebagai nabi (pemimpin ummat) yang berkepentingan dan bertanggung jawab (dihadapan Tuhan) atas masyarakatnya tsb.

      incest? anak-anak Adam menerapkan incest, Habil (Abel), Qabil (Cain) dengan kembarannya Labuda dan Ikrima, apa maknanya(?)… kelestarian ummat manusia (sebelum turun ayat dan hukum perkawinan yang tercantum dalam kitab)

      dan, kita tidak harus menafsirkannya (kisah Luth) secara kontekstual

      Beruntung, Alquran menceritakan peristiwa ini dengan lebih sopan, tidak ‘sekasar’ dan sevulgar (maaf) yang diceritakan alkitab dalam genesis (kitab kejadian, manusia?)

      Jika mas judhi bertanya ihwal kekuasaan Tuhan, menurut hemat saya sama dengan bertanya: “mengapa Tuhan menciptakan Iblis?”

      kita perlu sedikit mengingat kalimat Tuhan dalam surat Ar-Ra’d ayat 11. ….إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ …. artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”.
      ini menunjukkan kemerdekaan, kebebasan manusia sebagai khalifah (wali?, wakil?) di muka bumi, dan jika manusia tidak mau, Tuhan akan mencabutnya kembali amanah tersebut (dengan cara yang tidak kita ketahui).

      Luth sudah mengingatkan, malaikat (kedua tamu Luth) sudah diturunkan dan ditugaskan, tetapi mereka (masyarakat Luth) tetap pada kejahilannya.

      Kehancuran dan kemusnahan sodom gomorah adalah isyarat kekuasaan Tuhan, boleh dikatakan hukuman Tuhan yang berlaku ‘segera’.. sebelum mereka menghancurkan dirinya sendiri dengan kepunahan karena mereka tidak mampu ber’-regenerasi’ bila tetap pada kebiasaan buruknya. (terkandung makna mubazir ?)

      PESAN MORAL (positif), yg saya pribadi dapat lihat dan ambil adalah:
      * kelestarian ummat manusia (kelanggengan generasi)
      * menghormati, melindungi, dan memuliakan tamu
      * kepatuhan istri terhadap suami
      * mungkin ada hal lain yang tidak (belum) saya ketahui.. hehe

      tambahan: jika tidak salah ada kisah Luth ini dalam versi Islam yang lebih detil (lupa sumbernya, entah hadits atau kitab ulama)

      salam, dari penghuni Kolong Langit

      • Judhianto Post authorReply

        @Kolong Langit: alhamdulillah kalau masih ada pesan moral positif yang bisa anda ambil dari kisah nabi Luth ini.

    • Oliv Reply

      Ini apdetan tahun kapan ya.. Anda salah mngartikan smua surah al hijr… Mksd Anda tu salah,, Hmmm… Bnyk beristighfar mas..

      • Judhianto Post authorReply

        @Oliv: jadi sudah ada update terbaru? wah menarik…
        Mohon ditunjukkan secara jelas, di bagian mana pendapat saya yang salah, dan bagaimana menurut update terbaru anda. Tentu itu akan sangat membantu kita semua.

        Saya tunggu lho .. 🙂

    • Lucid Dream Reply

      ~Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (71)~

      ≧Inilah pesan yang sangat tidak bisa dimengerti: Luth menawarkan dua anak gadisnya yang perawan sebagai pengganti dua orang malaikat tamunya.

      Astaga! ayah macam apa Luth ini. Ia rela menyerahkan dua orang anak gadisnya kepada gerombolan beringas, demi dua orang tamu yang baru dikenalnya (walaupun itu malaikat).≦

      Sepertinya agan salah menafsirkan / menangkap maksud dari terjemahan surat Al-Hijr ayat 71.
      Maksud dari ayat tersebut adalah Nabi Luth menyuruh mereka untuk menikahi anaknya, agar hasrat seksual mereka tersalurkan dengan cara yang halal. Kenapa Nabi Luth sampai menyuruh mereka untuk menikahi anaknya? Supaya umat Nabi Luth bisa terlepas dari perbuatan dosa (dalam hal ini adalah homoseks atau bahasa gaul saat ini LGBT), yaitu agar pria menikahi perempuan, dan perempuan menikah dengan pria.

      Ada baiknya sebelum mengutip sesuatu dari Al-Qur’an, agan membaca2 tafsirannya terlebih dahulu, atau mengikuti pengajian, atau bertanya kepada Ustadz / Kyai yang jelas memiliki pemahaman agama yang lebih tinggi dari kita.

    • Mandra Wage ( lahir Senen Wage ) Reply

      Mas Judhi , lagi marak maraknya pro dan kontra LGBT , pesan moral apa yang sedang disampaikan oleh mereka yang pro dan kontra tersebut …cukup riuh…??
      Tulisan mas Judhi menelaah tentang ini kita tunggu…mari kita tonton dunia yang riuh ini.

      KH. A HASYIM MUZADI di REPUBLIKA Ahad tgl 28 Feb 2016 hari ini juga menulis di Refleksi halaman 1 : Tuhan tidak Suka Kaum ‘Luthy’….shg mereka dihancur leburkan oleh TUHAN yg marah, tmsk istri Nabi Luth……konon mrk tmsk kaum penyembah berhala, penyamun, homoseks.

      Ayo mas Judhi nulis ! Mumpung lagi ngetrend….ada Bang IPUL juga sang idola yg sangat religious saat ini lagi kesrempet musibah….semoga tuduhan polisi salah……

    • Wisya Reply

      Zaman semoderen gini masih percaya sama ustad, kyai, pemahaman yang tinggi tentang agama tentang lut itu yang seperti apa Lucid Dream.

    • nirwan Reply

      Baru liat. mohon ijin nimbrung

      Mungkin ini maksud surah al Hijr ayat 71.
      Untuk menahan seseorang melakukan dosa harus dilakukan dengan memperkenalkan masyarakat akan cara-cara yang benar dan halal. Dengan mengetahui itu mereka akan menahan dirinya dari berbuat dosa. Karena Islam tidak memerintahkan untuk melenyapkan naluri manusia tapi mengajarkan manusia agar memanfaatkannya dengan benar.

      Jadi Nabi Luth (AS) tidak benar benar ingin menyerahkan putrinya… tapi sedang memberikan pemahaman yang benar tentang hal tersebut.

      Surah Huud 78
      Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”

      Wallahu A’lam Bishawab

    • iwan Reply

      Kita adalah saudara…isi kepala kita tidak pernah ada yang sama. Tidak ada pilihan dalam hidup, pemahaman yang diungkapkan dalam tulisan ini hanya akan melebarkan jurang pemisah antara kita yang berbeda paham. Untuk apa kita hidup? Ini juga akan menghadirkan pemahaman yang bervariasi. Tapi coba kita bayangkan dengan anak2 kita sendiri, dengan bermacam2 sifatnya, kepandaianya dan berbagai macam kelebihan dan kekurangannya, tapi ada satu orang yang berbeda, dia selalu dekat dgn kita sebagai orang tua, setiap ada masalah yg dia hadapi selalu dia konsultasikan dan diputuskan berdasarkan kemufakatan. Ketika jauhpun selalu dia berkomunikasi. Halo pa ..ma…gmn kabarnya? Pp mm….sedang dmn skrg….aku dirumah sepi……sementara saudara2 yg lainnya sibuk dengan tugasnya masing2. Ada juga yang ingat tapi yang dia tanya, buat makan siang sekarang gmn ma..mama kok lama pulangnya….dan bermacam2 lah yang isinya hanya urusan perut. Yah maklum anak2…….nah sebagai orang tua bgmna penilaian kita terhadap anak2 kita ini? Tentu ada yang bedakan? Dengan yang selalu ingat, yang ingat tapi hanya waktu butuh duitnya aja, ada yang gak ingat sama sekali….dia bukan anak yang bodoh, pintar, genius, bahkan sudah kaya, tapi dia biasa2 aja. Papa mama mau pake suster apa tinggal di panti jompo? Bukankah ini juga suatu perbuatan baik kpd kedua orang tua kita? Dengan segala kebaikan kita kpd orang tua , bagaimana perasaan kita sebagai orang tua…juga akan berbeda2 sesuai sifat dankarakter kita mading2. Tapi coba bayangkan dgn anak kita yang selalu ingat terus akan kita….halo pa..ma…pp..mm lgi apa….pp..mm kpn pulang….pp..mm hati2 ya…dirumh sepi…….padahal dirmh banyak2 saudara2nya yg asik dg kesibukannya masing2. Yang mana bekal dan ilmu sudah orang tua kita berikan dg bersekolah dg berbagai fasilitas2 sesusai kemampuan kita. Seperti itulah perumpamaan hidup, dgn rezqi dan ilmu yang ada pada diri kita, carilah dgn hatimu, lihat dgn mata hatimu, dengar dgn telinga hati mu…..bukan dg apa yang nampak….waAllahu a’lam bishawab.

      • Judhianto Post authorReply

        @Iwan: jadi yang anda sarankan melalui komentar anda ini apa? berhenti berdebat agar tidak tercipta jurang akibat perbedaan pendapat?

        Sepertinya kita sudah berpengalaman sekali dengan menghindari perdebatan demi menjaga harmoni. Hasilnya? selama bertahun-tahun kita jadi menganggap wajar ditindas para pemegang kuasa karena segan menegurnya dan ditipu dan diperalat pemuka agama demi harmoni.

        Bagi saya apapun yang tak bias dikritik itu hanya cocok untuk yang sudah mati saja, atau paling tidak buat yang hidup tapi bermental sapi, yang rela digiring kesana-kemari.

        • herawaniwan Reply

          Mas Yudhi..bagaimana seandainya pemahaman anda dilaksanakan oleh nabi Luth dan semua umat manusia turut pada nabi Luth dengan pemahaman anda… mungkin kita tak akan terlahir. Selesai sudah….
          Bagaimana jika hal ini terjadi dengan anak2 kita yang lebih menyukai sesama jenisnya? Siapa yang akan meneruskan keturunan Kita?. Selesai sudah….
          Kekuatiran beliau amat beralasan, pengorbanan beliau lebih mulia dari pada mempertahankan gengsi dan harga diri. Baik dan benar bukanlah ukuran menurut apa yang kita pahami dan menyalahkan yang lain. Tapi kerjakan dan amalkan apa yang baik dan benar menurut kita dengan Ikhlas sekalipun dengan pengorbanan. Janganlah menghakimi apalagi memvonis orang lain dari kacamata kita, apalagi kitab suci, nabi, malaikat, syetan dan yahhhh..Tuhan. Kebaikan dan kebenaran yang anda pahami bukan untuk orang lain, tapi untuk dikerjakan/diamalkan oleh diri kita sendiri. Jadilah sapi2 yang baik, jangan memakan tanaman orang lain apalagi merusak kebunnya. Turuti apa kata gembala. Pancarkan sinar kebaikan dan kebenaran itu dengan mengamalkanya, berilah contoh bukan cemooh…apalagi ini ayat2 dari kitab suci. Kritik dari keragu-raguan anda hanya akan memperkeruh bahkan menjerumuskan orang lain dari sisi keimanannya.
          Wassalam..

          • Judhianto Post authorReply

            @Herawaniwan: ah anda berlebihan… kalau nakut-nakuti saya juga bisa.

            Bagaimana kalau kita semua ngikuti Nabi Luth, mungkin kalau suatu saat kita dirampok, orang tua dengan santai bilang: ini ambil saja anakku asal jangan rampok saya, atau bagaimana kalau kamu menikah dengan anakku, asal jangan ngrampok lagi. Atau niru Nabi Luth ngawini anaknya sendiri agar punya keturunan.

            Bisa kan, saya nakut-nakuti? tapi kenyataannya bagaimana? kan kita semua gak sudi niru nabi Luth yang nyerahkan anaknya untuk orang jahat? kita kan gak mau incest dengan anak kandung kita? (tentunya ada perkecualian yang melakukannya meniru Nabi Luth — dan kita sebut mereka psikopat)

            Saya setuju dengan pendapat anda ini:

            Kebaikan dan kebenaran yang anda pahami bukan untuk orang lain, tapi untuk dikerjakan/diamalkan oleh diri kita sendiri.

            Jadi saya tak ingin mendikte orang lain tentang apa yang harus mereka kerjakan, tapi tentu saya juga tak mau didikte orang lain tentang apa yang harus saya kerjakan. Untuk itu saya gak sudi menjadi sapi atau domba yang diarahkan penggembala 🙂

            • herawaniwan

              Ok Mas @Yudhi…inilah kekuatiran malaikat ketika Tuhan menciptakan manusia, dan apa jawab Tuhan? Apa yang malaikat lihat akan terjadi pertumpahan darah? Ketidak sudian anda adalah dasar dari itu. Akankah tercipta kedamaian? dan ini tertuang pada rukun Islam yang ke 6. Bagaimana Nabi Muhamad meresponnya? Tertuang pada rukun Islam yang ke 4 (zakat). Bagaimana kita menjalankan rukun Islam yang ke 4 ( zakat )? Kita melakukan layaknya kita membayar pajak atau membayar tagihan. Biarlah Tuhan yang membalas. Terciptakah rasa kasih sayang antara sesama disana ? Nabi Luth yang anda sebut psikopat telah menjalankan keYakinannya yang kuat dengan benar pada saat itu. KeYakinan itu juga terjadi pada nabi Ibrahim ketika harus menyembelih anak yang disayanginya. Lantas kita sebut apa nabi Ibrahim di zaman kita sekarang ? Kita sebut apa nabi Musa yang harus melawan orang yang telah merawatnya sejak bayi ? Kita sebut apa nabi Isa yang rela disalib? Kita sebut apa nabi Muhammad saw. yang harus berperang ? KEYAKINAN kuatlah yang mereka amalkan dengan segala PENGORBANANNYA.

              Saat ini sudah tidak ada lagi penggembala. Kalaupun ada orang yang anda anggap penggembala, mereka sedang menjalankan keYAKINANnya dengan mengamalkan apa yang mereka anggap baik dan benar. Mendikte hanya melihat dari sisi buruknya saja menurut ukuran/pemahaman kita. ( Mengapa aku yang diciptakan dari api harus bersujud pada yang diciptakan dari tanah ? ) Ya dia hanya melihat dari sisi buruknya saja.

              Hayati Tuhan pada diri kita sebagai bapak pada anak2 kita, dan Tuhan pada ciptaannya pada diri kita sebagai manusia. Pengasih dan Penyayang.

              Awas kalo kamu nakal nanti papa kurung dikamar mandi? atau apalah bentuk2 dari pada hukuman. Adilkah jika hukuman itu diberikan pada anak kita yang baik dan selalu taat pada perintah orang tuanya ? Apa yang akan kita berikan lebih pada anak kita yang ini ?

              Seperti itulah surga dan neraka…….Akankah kita tega menghukum anak kita berlama2 di kamar mandi ???? Apakah anak kita yang baik ini juga tega melihat saudaranya dihukum berlama2 dikamar mandi ???? Berjalanlah seperti anak kita yang satu ini….umati..umati…umati…..itulah kata2 terakhir Nabi Muhammad ketika ajal menjemput.
              Wasallam.

            • herawaniwan

              [email protected]….ayat2 tentang nabi Luth inilah yang saya kira digunakan oleh LGBT, anda setuju ??? Kekuatiran nabi Luth amat mendasar jika kita membaca ayat al-Hijr (66-71), bahwa penduduk dinegri itu sudah amat LGBT. Dan dijelaskan juga pada kitab yang lain Gen 19:31. Nabi Luth lebih memikirkan kelangsungan hidup kaumnya pada waktu itu, masih peduli kepada orang2 disekitarnya supaya jangan melakukan hal itu juga pada tamu2nya yang mengabarkan bahwa mereka akan dimusnahkan malam nanti , umati…umati..umati…….( papa maafin si mas yaa.. jangan dikurung terus dikamar mandi yaa…). Dia masih memikirkan saudaranya, saudaranya dan saudaranya…..pahamilah dari sisi yang tersirat bukan dari apa yang tersurat. YAKINlah dengan rukun Iman yang ke 6 dengan menjalankan rukun Islam yang ke 4 (berzakat) dengan penuh rasa kasih dan sayang seperti Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Orang lain memperingatinya dengan VALENTINE, kita merayakannya dengan berZakat. Pancarkan sinar Kasih dan Sayang kita pada sesama. Umati…Umati…Umati…wasallam.

            • Judhianto Post author

              @Herawaniwan: kisah Luth ini bukan kisah hitam-putih. Ada masyarakat Luth yang homoseksual dan memaksakan kekerasan di sisi lainnya ada keluarga disfungsional Luth yang menghalalkan segala cara untuk melindungi tamunya (dengan mengorbankan anaknya sendiri) dan menghalalkan cara untuk memperoleh keturunan (dengan memperdaya ayahnya sendiri agar menghamili anaknya).

              Kalau anda menganggap secara hitam-putih, ya menyedihkan. Anda takut LGBT tapi gak takut (atau memuja) kesewenang-wenangan dalam keluarga yang dicontohkan Luth pada anaknya.

              Kisah Luth adalah contoh kisah pilihan Tuhan untuk mengajari umatnya, sayangnya itu kisah absurd yang tak layak ditiru. Rasanya lebih banyak sutradara film yang punya selera bercerita lebih baik dari Tuhan.

              Melihat selera bercerita Tuhan dan kekacauan yang disebabkan agama di Timur Tengah, mungkin cocok juga saya ikut berujar: umati … umati …

            • Judhianto Post author

              @Herawaniwan: malaikat kuatir kalau terjadi pertumpahan darah? gak salah dia, memang itu yang terjadi sepanjang peradaban manusia. Tapi yang salah adalah penyumbang terbesar pertumpahan darah itu justru karena agama, karena perdulinya manusia pada perintah-perintah suci langit.

              Anda bisa buka sejarah. Ada ratusan tahun permusuhan dan perang antar agama Islam dan Kristen, dan juga antara agama-agama lain. Di antara pemeluk Kristen sendiri juga ada perang 30 tahun Eropa antara Katolik dan Protestan yang mendorong sekularisme di Eropa. Di antara umat Islam sendiri ada Syiah versus Sunni yang gak henti-hentinya bertikai ratusan tahun. Di masa sekarang ini kita juga melihat kegilaan ISIS, Al-Qaeda, Boko Haram, abu sayaf. Di Indonesia kita juga bisa melihat FPI, FUI dan preman-preman agama menebar kekerasan. Belum lagi gelombang hoax dan fitnah era pemilu dari kelompok-2 yang mengaku menegakkan agama.

              Di sisi lain kita juga melihat justru banyak negara-negara sekuler, agnostik dan bahkan ateis menjadi makmur dan rakyatnya damai sejahtera.

              Jika yang dikuatirkan malaikat salah arah dan tingkah yang disebut nabi ternyata bukan teladan bagi orang modern, apa fungsinya nurut sesuatu yang tak bermanfaat dicontoh?

              Takut neraka ingin surga? ah itu mainan anak kecil atau cocok hidung buat para bomber bunuh diri gengnya ISIS. Bukan untuk manusia yang menggunakan nalarnya 🙂

    • Mayyaluv Reply

      ketika Nabi Luth berkata “ini putriku, untuk kalian” kepada kaumnya, menurut saya barangkali itu adalah ungkapan seorang yang sudah sangat putus asa, tidak tau lagi bagaimana harus meyakinkan dan memberi tahu, pada detik2, menit2, jam2 dimana beliau tau umatnya akan dibinasakan (di samping beliau sudah paham betul umatnya tidak akan tertarik dengan tawarannya). Btw mas, kenapa kita tidak boleh menafsirkan, kenapa harus terpaku pada yang tekstual, anda bersikukuh untuk melihat makna tekstual, padahal tekstual itu juga hasil penerjemahan manusia terhadap bahasa, dimana dari proses penerjemahan itu, hasil terjemahannya bisa juga memiliki makna yang bias dengan makna dari bahasa aslinya, artinya ia tidak terbebas dari yang namanya tafsir.

      • Judhianto Post authorReply

        @Mayyaluv: semua peristiwa akan sampai ke otak kita sebagai tafsir.

        Kisah Luth ada di Alkitab dan Qur’an, ada tafsir standard dari para ulama maupun pendeta. Saya menafsirkan sendiri sedekat mungkin dengan teks yang ada, bagi saya setiap orang berhak menafsirkan teks itu.

        Jika saya bersikukuh mempertahankan tafsir saya, itu karena tiap orang berhak punya tafsir sendiri. Anda bersikukuh dengan tafsir anda sendiri? ya tak apa. Tiap orang merdeka kok 🙂

    • putra dirgantara Reply

      orang awam hanya melihat sebuah pohon
      orang alim melihat keseluruhan hutan
      orang bebal hanya melihat teks
      orang arif melihat konteks

      Jika Anda melihat konteks, sudah jelas bahwa Nabi Luth mengajak kaumnya untuk bertakwa kepada Allah dan nasehat agar tidak membuat dirinya terhina (Q.S. Al Hijr: 69). Tentu saja selama akal Anda masih sehat, ayat berikutnya (Q.S. Al-Hijr: 71) harus konsisten dengan ayat sebelumnya. Oleh karena itu, menurut konteksnya, Nabi Luth menawarkan putri-putrinya (Q.S. Al-Hijr: 71) dalam kerangka takwa kepada Allah (Q.S. Al Hijr: 69). Beliau bahkan menasehati kaumnya agar tidak membuat dirinya terhina. Oleh karena itu, tafsiran Anda bahwa Nabi Luth “menyodorkan” anak gadisnya ke “gerombolan jahat” begitu saja menjadi tertolak karena tidak konsisten dengan ayat sebelumnya. Bagaimana mungkin seorang nabi yang menasehati kaumnya untuk tidak membuat dirinya terhina malah menghinakan dirinya sendiri dengan “menyodorkan” anak gadisnya ke “gerombolan jahat” begitu saja?! Jelas tafsiran Anda tidak bisa dijadikan sandaran karena tidak logis, tidak konsisten dan bertolak-belakang. Permasalahan ini sebenarnya sudah jelas jawabannya jika Anda mau melihat konteks keseluruhan ayat yang Anda kutip (Q.S. Al-Hijr: 61-71). Kecuali Anda orang yang bebal sehingga membuat pikiran Anda terpenjara oleh teks, atau akal Anda sudah tidak sehat sehingga membuat Anda tidak mampu berpikir logis, atau ada penyakit di hati Anda sehingga membuat Anda menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu Anda? Sayang sekali, satu ayat saja (Q.S. Al Hijr: 69) sudah cukup untuk memecahkan permasalahan Anda dan meruntuhkan segala pendapat Anda yang sesat pikir dan tidak mau menerima kebenaran. Anda memilih menjadi orang bebal, kami umat muslim memilih menjadi orang arif dan waras.
      Semoga Anda menemukan hidayah. Amin.

      “Carilah kebenaran maka kebenaran akan membebaskan Anda”

      • Judhianto Post authorReply

        @Putra Dirgantara: yang anda maksud konteks itu apa? imajinasi kaum beriman bahwa seorang nabi itu (Luth) itu harus baik berbudi luhur? sehingga seperti kebiasaan cocokologi terkenal kaum bigot, anda memelintir fakta (teks) agar cocok dengan imajinasi anda?

        Text asli >>
        [Al-Hijr: 71]
        قَالَ – Berkata (Luth)
        هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي – ini putri saya
        إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ – bila kalian mau

        Terjemahan (imajinasi) >>
        [Al-Hijr: 71]
        Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”

        Dan seperti kebiasaan kaum yang tidak bisa berargumen dengan nalar dingin, anda tidak lupa menyebut saya dengan “akal Anda sudah tidak sehat”, “ada penyakit di hati Anda”, “Anda memilih menjadi orang bebal”. Sepertinya akhlak orang yang over religius itu adalah dengan ringannya merendahkan dan mencaci orang lain.

        Apa agama itu merusak nalar dan akhlak? 🙂

    Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda