Cegah Zina, Peliharalah Budak Seks

“Cegah Zina, Peliharalah Budak Seks!”

Jika anda mendengar saran di atas, apa yang terpikir oleh anda tentang si pemberi saran ini?

Pasti terpikir dipikiran anda, si pemberi saran adalah seorang laki-laki hedonistik yang psikopat. Seorang maniak seks, pemuja dunia yang jauh dari kehidupan religius. Bila tebakan anda salah, profilnya pasti tak jauh dari bayangan di atas.

Terkejutlah! ya, siapkan diri anda untuk terkejut!

Saran di atas datang dari seorang politikus. Ups… kok bisa.

Anggota parlemen Kuwait yang mengusulkan pelihara budak sex
Salwa al-Mutairi, anggota parlemen Kuwait yang pada tahun 2011 mengusulkan pelihara budak sex

Dan untuk melengkapi keterkejutan anda, politikus itu berasal dari negara Islam, Kuwait. Dia bahkan mengaku didukung oleh sejumlah mufti di Arab Saudi. Dan hebohnya lagi dia adalah seorang wanita!

Astaga….. Berita ini nyata dilaporkan pada tanggal 8 Juni 2011. Anda dapat membacanya di sini: [Tempo: Politikus Kuwait: Cegah Zina, Peliharalah Budak Seks].

Astaga apakah pernyataannya ini tidak bertentangan dengan background Islam dari orang ini?

Sayangnya secara syariah, orang ini benar. Lha kalau begitu sebenarnya bagaimana aturannya dalam Islam?

Budak, Manusia Sebagai Properti

Akar pendapat aneh ini adalah akomodasi Islam terhadap sistem perbudakan.

Budak adalah manusia yang diperlakukan seperti hewan ternak.

Budak Persia yang diikat, dalam sebuah gambar kuno
Budak Persia yang diikat ke sebuah tonggak, dalam sebuah gambar kuno

Budak tidak beda dengan sapi. Anda dapat membelinya di pasar seperti anda membeli sapi.

Anda bisa menyuruhnya mengerjakan apa saja. Secara hukum ia harus patuh mutlak kepada pemiliknya apapun perintah pemiliknya. Anda mencambuknya, memisahkan dari anaknya atau apapun itu, adalah hak anda.

Nabi Muhammad di utus pada era dimana perbudakan adalah suatu hal yang wajar.

Para budak adalah tenaga kerja untuk semua pekerjaan kasar, berat dan berbahaya. Para budak adalah pendukung sistem ekonomi dan sosial saat itu.

Ajaran Islam tidak menyukai perbudakan dan bahkan menganjurkan pembebasan budak. Akan tetapi Islam tidak melarang perbudakan, suatu aturan yang mungkin bisa memberikan guncangan besar sistem ekonomi dan sosial saat itu, suatu hal yang bisa menggagalkan prioritas utama Nabi, yaitu menyampaikan Islam.

Budak Seks, Dari Mana Dalilnya

Jika budak boleh diperlakukan apa saja, apakah itu termasuk sebagai pemuas seks? Ya.

Suasana pasar budak. Calon pembeli memeriksa budak yang akan dibeli
Lukisan suasana pasar budak. Calon pembeli memeriksa budak yang akan dibeli

Dalam Qur’an dijelaskan:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas [QS. Al-Mukminuun : 5-7]

Dan (diharamkan bagi kamu mengawini) wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. …. [QS An-Nisaa’ :24]

Ayat diatas adalah landasan bolehnya berhubungan seks dengan budak wanita. Dibagian kedua, status perkawinan budak tidak menjadi halangan untuk mengambilnya sebagai budak seks.

Contoh Nabi: Maria al-Qabtiyya

Apakah ada contoh dari Nabi untuk hubungannya dengan budak wanita? Ada.

Setelah Nabi berkuasa di Madinah, beliau mengirim utusannya ke beberapa raja dan pemimpin di wilayah arab untuk mengajak masuk Islam. Salah satu utusannya dikirim ke Muqauqis, penguasa Mesir masa itu. Muqauqis menolak masuk Islam, akan tetapi mengirimkan beberapa hadiah kepada Nabi sebagai tanda persahabatan.

Diantara hadiah dari Muqaquis adalah dua orang budak wanita: Maria al-Qabtiyya dan saudarinya Sirin. Nabi mengambil Maria dan menghadiahkan Sirin ke sahabat yang lain.

Maria sangat cantik, sehingga menimbulkan kecemburuan istri-istri nabi yang lain,

Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.”

Maria menjadi pergunjingan ramai diantara istri-istri Nabi. Allah sampai menurunkan teguran terhadap para istri Nabi dalam surah At-Tahrim :1–5.

Karena sikap para istrinya, Nabi menempatkan Maria tinggal di rumah yang terletak di pinggir Madinah, terpisah dari istri-istri Nabi lainnya yang tinggal bersama Nabi disamping masjid.

Setelah satu tahun, Maria hamil. Suatu hal yang membuat istri-istri Nabi yang lain semakin cemburu, karena pernikahan mereka dengan Nabi selama ini tidak menghasilkan keturunan. Maria melahirkan bayi laki-laki yang oleh Nabi diberi nama Ibrahim. Ibrahim meninggal di usia sembilan belas bulan karena sakit. Rasulullah mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

Status Maria tidak begitu jelas. Ada yang mengatakan Nabi akhirnya menikahinya, dan ada pula yang mengatakan Nabi tidak pernah menikahinya.

Selir Para Khalifah

Secara hukum, seorang Muslim boleh memiliki paling banyak empat istri. Akan tetapi tidak ada batas jumlah budak wanita yang boleh digaulinya.

Suasana di dalam Harem.
Lukisan suasana di dalam Harem.

Ketentuan diatas yang mendasari timbulnya tradisi memelihara selir dikalangan orang kaya dan juga Khalifah di negara Islam.

Dalam catatan sejarah, Ismail Ibn Sharif, Sultan Maroko 1672-1727, mempunyai lebih dari 500 orang selir dan lebih dari 1000 orang anak dari para selir itu.

Para selir adalah budak wanita cantik yang dibeli khusus untuk keperluan seksual. Dalam Khilafah Ottoman di Turki, para budak wanita itu dibeli saat menjelang remaja. Mereka mendapatkan perawatan dan pelatihan khusus agar bisa melayani Khalifah dengan sempurna.

Para selir pada Khilafah Ottoman, biasanya ditempatkan dalam istana Harem yang merupakan fasilitas khusus untuk Khalifah. Para penjaganya adalah budak laki-laki yang telah dikebiri untuk memastikan tidak terjadi skandal antara para selir dengan penjaganya.

Salahkah Memelihara Budak Seks?

Jadi bolehkah memelihara budak seks?

Jawabannya tergantung kepada siapa anda bertanya.

Jika anda bertanya kepada MUI, Hizbuth Tahrir atau Abu Bakar Ba’asyir, mereka akan menjawab secara hukum syariah boleh, karena itu berdasar hukum yang ada dalam Qur’an. Semua hukum Qur’an adalah mutlak benar dan tidak boleh dibatalkan oleh siapapun. Mungkin mereka akan mengajukan sedikit excuse, tapi intinya adalah hukum Islam sudah sempurna dan tidak bisa diubah lagi.

Jika anda bertanya kepada saya. Saya akan menjawab itu ide gila. Saya akan menentang hukum yang membolehkan manusia diperjual-belikan, saya menolak manusia diperlakukan sebagai binatang yang bisa diperlakukan seenaknya.

Bukankah ada hukumnya di Qur’an?

Tak ada yang abadi dan sempurna kecuali Allah. Termasuk juga Qur’an dan seluruh ajaran Islam. JIka sudah tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan kemanusiaan, saya akan menolaknya.

Anda sudah kafir!… terserah pikiran anda.

Saya yakin Allah Maha Baik, Maha Mengasihi dan Allah Maha Bijaksana, saya tidak percaya dia tetap bersikukuh dengan aturannya, bila aturannya sudah berubah menjadi suatu kezaliman.

Judhianto

Pencari jawab amatir, bertanya apa saja...

511 tanggapan untuk “Cegah Zina, Peliharalah Budak Seks

  • 3 Desember 2015 pada 1:01 pm
    Permalink

    Anu.. cuma mau nanggapin sesuai dengan isi pembahasan, ogah bahas pembahasan yang lain.
    Jadi begini, kan budak sudah lama berasal dari peradaban kuno seperti : Mesir, Cina, India, Yunani dan Romawi, sehingga sampe berakar ke kebudayaan lain. Dan budak itu diperjualbelikan di pasar dan harganya gak murah ya?

    Nah kalo misalkan aku hidup di zaman romawi kuno, dan misalkan aku orang kaya maka aku sanggup beli banyak budak perempuan, misalkan lho ya… Kan beli budaknya kan mahal banget kan, misalkan saja aku sanggup belinya hanya 10 budak.

    Dan dari 10 budak perempuan itu nanti kusuruh kerja saja, atau kugaulin saja, atau tunggu harganya bisa naik lalu kujual lagi macam trading kurs saat ini huehehe.

    Lalu kemudian ada ajaran untuk memerdekakan perbudakan, lah? yang punya budak kan gak cuma aku saja, seluruh dunia lho, dan pasti lebih banyak yang punya budak melebihi aku? kalo seluruh dunia melepaskan budak waaah berapa duit itu langsung hilang sia-sia dalam hitungan waktu yang tak begitu panjang.

    Tapi aku mah gak peduli dengan ajaran itu, aku tetap menolaknya, budak-budakku kok, aku beli pake duitku sendiri terserah aku dong. Akan kugauli semua budak-budak perempuanku, mau kurawat atau agak yg penting dia sehat dan bisa dieksekusi sudah buat aku lega, kalo bosen, jual lagi deh cari budak perempuan yg lebih hot, asalkan budak yg lama tetap kondisi sehat, klo gak sehat gak bakal laku dong atau bakal jatuh harganya. Atau klo gak pengen buat dijual lagi ya gak masalah, aku gaulin budak2ku seenak udelku, gak peduli dia sakit atau sampai mati.

    Kejam ya diriku? ya iya, kan aku gak peduli sama ajaran yang tadi kusebut. Tapi lama kelamaan stok budak menipis nih, jangkrik banget eh. Ada yg ikhlasin memerdekakan budak dgn cuma-cuma, sok kaya banget deh itu orang. Ada yang menikahi dan memerdekakan budak wanita, ini keterlaluan bgt, masa ambil istri dari kaum budak? kayak gak ada perempuan merdeka aja. Ada yg gaulin dan ngerawat budak perempuannya, lalu budak tsb melahirkan anak yang merdeka. Yaaah kalo gitu bisa abis dong keturunan budak dari zaman ke zaman kalo semuanya ngelahirin anak yang merdeka. Lah terus aku beli budak perempuan dimana nanti klo stoknya kian menipis. Jangkrik emang! Jancuk!

    Balas
  • 11 Januari 2016 pada 4:27 pm
    Permalink

    http://www.muslim-menjawab.com/2012/06/menjawab-soal-qs-al-muminun-5-6-tentang.html

    untuk menanggapi hal ini mohon di analisa lebih dalam:

    1.bahwa perbudakan bukan produk agama Islam. Sebaliknya, ketika Islam diturunkan pertama kali, perbudakan sudah menjadi pola hidup seluruh umat manusia

    2.perbudakan bukan semata-mata penindasan manusia atas manusia, tapi di sisi lain, perbudakan adalah bagian utuh dari dari sendi dasar perekonomian suatu bangsa.

    3.perbudakan juga sudah diakui oleh hukum yang positif dan dibenarkan oleh undang-undang semua peradaban manusia

    4.adanya hukum positif semua bangsa tentang budak termasuk juga keabsahan untuk menyetubuhi budak perempuan.

    Islam Diturunkan untuk Menghilangkan Perbudakan”Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu ?” hilangkan berangsur-angsur bukan langsung menghilangkan.

    Ada banyak pintu untuk membebaskan budak.
    1. lewat hukuman atau kaffarah atau denda. Seorang yang melakukan suatu dosa tertentu,
    2. lewat mukatab, yaitu seorang budak harus diberi hak untuk membebaskan dirinya dengan angsuran
    3. Lewat sedekah atau tabarru’. Seseorang tidak melakukan dosa, tapi dia ingin punya amal ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah.
    4.Islam menetapkan bahwa semua budak yang dinikahi oleh orang merdeka, maka anaknya pasti menjadi orang merdeka.

    kl dibilang budaknya dinikahi secara islam tetapi statusnya masih budak(status sosial), tetapi anak-anak mereka jadi merdeka(status sosial meningkat).

    selebihnya mohon dibaca. mungkin sebagai studi banding. semoga perumapaan didalam Al-Quran membuat anda lebih tercerahkan dan membuat logika makin tajam dan hidup anda selalu diridhoi Allah. wassalam.

    Balas
    • 11 Januari 2016 pada 5:45 pm
      Permalink

      @Zackripper: terima kasih untuk memberikan tanggapan.

      Saya setuju bahwa perbudakan bukan inovasi Islam, itu sudah ada saat Islam turun dan dunia serta agama-agama lainnya juga melakukan perbudakan di jaman itu.

      Perbudakan ada dalam Alkitab dan Qur’an, namun pemeluk agama Yahudi dan Kristen sudah sejak lama menerima sekularisasii agama, sehingga tidak menganggap kitab suci sebagai hukum positif mengatur masyarakat. Sedangkan pemeluk Islam masih terobsesi untuk menggunakan syariah sebagai hukum positif mengatur masyarakat.

      Jika ada negara yang menggunakan hukum syariah dengan konsisten, maka secara legal perbudakan adalah sah, karena ayat perbudakan tidak bisa dihapus dari Qur’an sedangkan sumber hukum tertinggi syariah adalah Qur’an.

      Jadi di jaman modern ini satu-satunya agama yang mengesahkan perbudakan adalah Islam.

      Anda mengklaim bahwa Islam diturunkan untuk menghilangkan perbudakan secara berangsur-angsur, bukan langsung. Lalu anda menunjukkan pintu-pintu membebaskan budak.
      Membebaskan itu bukan melarang. Jelas bedanya kan …

      Silakan baca sejarah.
      Setelah Nabi wafat, Khilafah Islam melestarikan perbudakan hingga sekitar 1200 tahun lamanya. Perbudakan di Khilafah Islam berhenti bukan karena ada Khalifah yang bijaksana melarangnya, melainkan saat Turki membubarkan Khilafah dan menggantikannya dengan negara sekuler.
      Jadi kapan dan siapa yang melarangnya di dunia Islam?

      Kiblat pemerintahan Islam berikutnya adalah Arab Saudi. Arab Saudi baru melarang perbudakan pada tahun 60-an. Itu juga bukan karena fatwa ulama yang digali dari Qur’an, melainkan desakan lama dunia internasional untuk meratifikasi piagam HAM PBB. Negara-negara lain juga dipaksa melarang perbudakan oleh PBB.

      Untuk kondisi termutakhir, kita juga melihat perbudakan dipraktekkan kembali di dunia ini oleh ISIS dan Boko Haram yang notabene mengatakan bahwa mereka berhukum dengan Qur’an.

      Jadi, perbudakan memang bukan berasal dari Islam dan Islam menganjurkan pembebasan perbudakan. Akan tetapi yang mempunyai langkah serius untuk menghapuskan perbudakan adalah peradaban non-Islam yang berhasil memaksa penerapannya ke tingkat dunia lewat piagam HAM PBB.
      Sedangkan yang melakukan promosi penghidupan perbudakan saat ini, justru umat Islam lewat ISIS, Boko Haram, serta aktivis khilafah yang ingin menerapkan total hukum Qur’an.

      Selebihnya mohon gunakan nalar sehat, semoga anda tidak hidup dalam delusi.

      Balas
  • 12 Januari 2016 pada 1:14 pm
    Permalink

    amin gan semoga bukan delusi.
    1. saya setuju dengan hukum tertinggi syariah adalah Al -Quran. disana bukan mengatur tetapi tata cara kehidupan bermasyarakat dan tata cara bersyukur dengan sang pencipta. di Al-Quran hanya disebutkan ada sebab dan akibat. jika tidak sholat masuk neraka, jika sholat masuk surga. tetapi manusia itu sendiri yang memutuskan.

    mohon disamakan persepsi saya dengan anda. budak yang saya maksud adalah tidak mempunyai kesamaan derajat, hak, berpendapat, dan menjadi budak sex.

    logikanya didunia ini hanya ada 2 budak lalu saya menikahi dengan islam, maka anaknya menjadi merdeka ( kesamaan derajat, hak dan terbebas dari budak sex). lalu budak-istri saya tetap dengan status sosialnya sampai akhir hayatnya. jadi sekarang siapa yang menjadi budak??? bukan kah anak-anak mereka merdeka.

    anda menyebutkan “jadi jaman modern ini islam satu-satunya agama yang mengesahkan perbudakan” . tetapi anda tidak membandingkan apel to apel. anda membandingkan masa lalu dengan masa sekarang. seperti membandingkan orang indonesia makan memakai tangan dengan orang luar dengan pakai sendok.

    dan jika semua orang sudah merdeka lalu siapa yang jadi budak?. yang dikatakan oleh “salwa al-mutahiri”

    sekarang banyak yang mempoliti-kan agama itu sudah terjadi setelah Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya Wafat . dan hal ini sudah ada diartikel postingan anda.
    kondisi termuktahir Isis, Boko haram oh iya jangan lupa peristiwa ronghiya biar seru. apakah jika kita selalu membaca kitab2 suci maka mereka terbebas dari hal-hal negatif, tentu tidak kan? manusia itu bebas atas kehendaknya. ya kan?

    apakah orang-orang ini membaca kitab suci mereka secara tersurat dan tersirat, bisa jadi salah penafsiran. nah ini dia yang repot mas. kl salah tafsir ada ego2 yang dicocokogikan.

    (kl yang saya lihat adalah pergeseran makna dari budak itu sendiri), semisalnya X orang negeri pasir, X hire pembantu. pembantu yang berarti berhak untuk mencabuli dia) berarti ada pergeseran makna-kan. kan budak-budak sudah pada merdeka(liat nomor 2)

    *Perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain.(wikipedia).

    Sekian. terima kasih atas ilmunya. saya tidak mau melanjutkan takut dosa. karena jika diterusin bikin hati bergejolak. wasallam.

    (za

    Balas
    • 12 Januari 2016 pada 1:35 pm
      Permalink

      @Zackripper: anda mbulet…

      Secara legal, perbudakan itu halal dalam Islam. Qur’an mengaturnya, ada contoh dari Nabi dan tak ada satupun ayat Qur’an yang melarang perbudakan.

      Secara fakta, perbudakan di dunia Islam itu hilang bukan karena dorongan ajaran Islam, melainkan dipaksakan oleh pihak luar. Turki melarang perbudakah setelah Khilafah diganti dengan negara sekuler. Negara-negara Arab melarang perbudakan setelah PBB memaksa ratifikasi deklarasi universal HAM.

      Secara fakta, perbudakan seks dan perdagangan budak muncul lagi oleh kelompok Islam seperti ISIS dan Boko Haram.

      Jadi, jangan ngeles lari kesana-kemari dengan bicara tentang pergeseran makna, arti wikipedia, Ronghiya dan segala macam.

      Fokus saja pada masalah intinya, kalau menurut anda Islam melarang perbudakan, silakan tunjukkan mana dalil tegasnya
      🙂

      Balas
  • 15 Januari 2016 pada 9:36 am
    Permalink

    persoalanya apakah seorang pembantu = seorang budak ? tentu tidak ada persamaan karena pembantu hanya menjaul tenaga kepada majikan atas keinginan diri sendiri dan ia merdeka secara pribadi sedang budak yang dikuasai/yang dimiliki oleh majikan adalah seluruh kehidupanya/tidak merdeka

    Balas
  • 15 Januari 2016 pada 3:43 pm
    Permalink

    tentu saja pak judhianto ini adalah seorang ahlul bid’ah. anda menanggapi hukum2 islam yang berasal dari tuhan dengan logika berhilirkan nafsu duniawi. coba bayangkan di mana posisi, istri, saudara perempuan dan anak perempuan anda terkait artikel ini.
    hanya orang beriman yang mampu membaca muslihat.

    Balas
    • 15 Januari 2016 pada 3:58 pm
      Permalink

      @Abdullah: justru karena saya punya istri dan anak perempuan, maka saya menolak hukum menjijikkan yang membenarkan wanita dijadikan budak seks.

      Anda tega memperjualbelikan manusia seperti jualbeli ayam?
      Anda gak punya istri dan anak perempuan? hingga tega mengkonsumsi wanita sebagai budak seks?
      Kalau tega, astaga iman macam apa itu?

      Balas
  • 16 Januari 2016 pada 6:08 am
    Permalink

    wah saya setuju mas, saya jg mengecam aksi perbudakan yg lucu ini, dan kaget ternyata ada ayat yg membolehkan bersetubuh dgn budak.
    setelah mempelajari sejarah2 islam dan berdasar ayat alquran tersebut memang tidak disebutkan ada larangan bersetubuh dgn budak. dan pertanyaan saya, apa perbudakan itu tetap laris manis di arab hingga tahun 1960an dikarenakan mereka terlalu merasa nyaman dgn aturan yg membolehkan menyetubuhi hamba sahaya? karena tentu tak bs di pungkiri, se alim apapun lelaki, tentu nafsu tetap kuasai hati.
    selebihnya, wallahualam. salam.

    Balas
  • 16 Januari 2016 pada 10:48 am
    Permalink

    sudah saya bilang anda ahli Bid’ah. saya lihat semua artikel anda menyalahkan aturan islam dari Allah, bagaimana bisa anda berkata: “saya tidak percaya Dia(Allah) bersikukuh dengan aturannya,bila aturanNya membuat kezhaliman”.
    seakan anda mengatakan aturanNya salah.
    intisari nya , anda beranggapan bahwa poligami adalah jalan lain dari perbudakan seks.
    anda tak memahami, tapi anda berfatwa tanpa ilmu.

    Rasulullah SAW bersabda, “Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut (menghilangkan) ilmu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah SWT menghilangkan ilmu agama dengan mentiadakan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, banyak orang akan memilih orang-orang jahil(seperti judhianto) sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain”.

    Naudzubillah mindzalik.

    Balas
    • 16 Januari 2016 pada 11:08 am
      Permalink

      @Abdullah: wah terima kasih sudah membaca semua artikel saya.

      Untuk gelar dari anda, juga terima kasih.

      Oh ya anda protes pernyataan saya berikut

      saya tidak percaya Dia (Allah) bersikukuh dengan aturannya, bila aturanNya membuat kezaliman

      Jadi dalam konteks artikel saya:

      • Allah adil dan pengasih
      • Perbudakan kejam dan zalim
      • Perbudakan yang kejam gak klop dengan Allah yang penyayang
      • Saya milih Allah yang penyayang dan menolak perbudakan

      Lalu anda gak setuju dengan saya, okelah silakan tunjukkan di poin mana anda gak setuju, lalu tunjukkan yang benar (dan penuh iman 🙂 ) , barangkali itu lebih tepat dari pendapat saya. Bukankah anda lebih memahami lebih dari saya yang anda bilang tanpa ilmu?

      Oh ya anda juga bilang tentang nurut pendapat pemimpin. Kasihan banget kalau ada yang untuk berpendapat saja butuh nurut orang lain. Kalau masih TK sih oke-oke saja dipilihkan pendapatnya, kalau dewasa ya mikir sendiri dong. 🙂

      Balas
  • 16 Januari 2016 pada 11:45 am
    Permalink

    wah, dimana ya saya bilang tentang nurut pendapat pemimpin ?
    anda benar2 perlu diluruskan dan mencari pelurusan atas pemahaman anda.
    sungguh zaman ini penuh fitnah, banyak Hadist Rasulullah yang sudah terbukti di zaman ini.
    saya tidak tahu apa di balik selimut iman anda.
    semoga saudara semuslim lainnya dilindungi Allah dari fitnah dan fatwa tak berilmu

    untuk saudara ku semuslim :
    Ingatlah Khutbah terakhir Rasulullah SAW : Aku tinggalkan padamu 2 perkara/pusaka. yang jika kamu berpegang teguh kepadanya, kau tidak akan tersesat selamanya.
    yaitu “Al-Qur’an Dan As-Sunnah”.

    Semoga saudaraku yg membaca2 artikel2 di web ini selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah. dan meninggalkan Bid’ah. Aamiin

    Balas
    • 16 Januari 2016 pada 11:55 am
      Permalink

      @Abdullah: anda nulis

      Apabila sudah ditiadakan para ulama, banyak orang akan memilih orang-orang jahil(seperti judhianto) sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain

      Ya sudah kalau itu bukan tentang orang yang untuk berpendapat, nurut orang lain (misalkan saya).

      Ke hal yang lebih penting saja. Menurut anda yang berpandangan lurus, bagaimana koreksi anda terhadap poin2 pernyataan saya sebelum ini? Saya kan juga pingin tahu pendapat yang lurus itu. Perbolehkan budak seks itu bagaimana, kok diridhoi Allah?

      Balas
  • 19 Januari 2016 pada 11:12 am
    Permalink

    Rasulullah dan para khalifah memang berpoligami, atau yg anda sebut sebagai “pelihara budak seks”. poligami itu sah menurut hukum Allah. karena sudah mengikat dengan mahar dan melalui pernikahan. dan tidak ada memelihara budak seks dalam hukum Allah dan Rasulullah.

    dasar poligami adalah : “Melindungi wanita” dan bersikap adil. kalau tidak adil diharamkan poligami. artinya, hanya manusia seperti Nabi dan yang menerapkan ajarannya dengan tepat lah yang sanggup adil. yg masih beranggapan dpt adil, masih belum bisa berpoligami. Wallahu alam.
    Para Nabi selain Muhammad, seperti Ibrahim,Yakub,Yusuf,Dll juga banyak yg berpoligami.

    Saudaraku judhianto, Semoga Allah membimbing anda pada keimanan yang lurus.
    dan tidak ada yg perlu dirubah dalam hukum Allah. sebagai hamba kita wajib patuh. dan surga adalah balasan kepatuhan kita. semoga anda termasuk di dalam nya. Aamin

    “Tidaklah kami alpakan sedikitpun dalam al-kitab (Qs.Al-An’am:38) ”
    Maksudnya tidak perlu ditambahkan hukum baru, sebab dalam al-kitab sudah cukup.

    Balas
    • 19 Januari 2016 pada 4:25 pm
      Permalink

      @Abdullah: bisakah anda tunjukkan sumber informasi anda? sehingga kita bisa bicara tentang kenyataan, dan bukan cuma teori-teori normatif dari anda.

      Untuk istri nabi yang berstatus awal budak dan ada yang tetap budak adalah:

      • * Rayhana bint Zayd. Setelah perang Khandaq, Nabi mengepung Banu Qurayza. Semua laki-laki dewasa Banu Qurayza dipancung, para wanita dan anak dibagi-bagi sebagai budak. Rayhana yang ayah dan suaminya dipancung, menarik Nabi karena kecantikannya. Rayhana diajak masuk Islam dan menjadi istri nabi, namun ia menolak sehingga statusnya tetap sebagai budak Nabi.
      • * Juwairiyah binti al-Harits (20 tahun). Ketika tentara Nabi menyerbu Banu Mustaliq. Juwairiyah termasuk dalam pampasan perang. Ayahnya adalah kepala suku dan termasuk yang tewas bersama suaminya. Karena kecantikannya, ia ditawari menjadi istri nabi dan masuk Islam. Ia mau dengan tambahan pembebasan 100 keluarga Banu Mustaliq dari perbudakan, syaratnya diterima dan ia menjadi istri Nabi.
      • * Safiyya bint Huyayy (17 tahun). Ketika tentara Nabi menyerbu benteng Khaybar. Safiyya termasuk diantara wanita pamapasan perang. Ayahnya dan suaminya tewas dieksekusi tentara Nabi. Ketika Nabi tertarik dan mengajaknya masuk Islam dan menjadi istri Nabi, ia menerima.
      • * Mariyah al-Qibtiyya. Ia bersama Sirin adalah budak hadiah dari raja Mesir, Nabi mengambilnya dan menghadiahkan saudaranya pada sahabat nabi. Ketika diajak masuk Islam dan jadi istrinya, ia mau.

      Untuk para khalifah dan selirnya (budak seks), dapat dilihat di beberapa buku berikut: al-Aghani karya Abu al-Farj al-Asfahani (356 H), Akhbar al-Nisa karya Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah (751 H), Thuq al-Hamamah karya Ibnu Hazm al-Andalusi (456 H), dan al-Imta’ wal Mu’anasah karya Abu al-Hayyan at-Tauhidi (380 H).

      Dari buku tersebut diketahui bahwa Ali bn Abi Thalib istrinya 4, selirnya 19; al-Mutawwakil memiliki 4000 selir, Harun al-Rashid memiliki 2000 selir. Selir-selir tersebut statusnya adalah budak, sehingga secara syariah memang tidak ada batas jumlahnya.

      Untuk Khilafah di Turki, Istana Topkapi pernah berfungsi sebagai istana Harem, di mana selir untuk khalifah di simpan.

      Jika anda juga mengikuti sinetron Turki Abad Kejayaan yang mengisahkan kehidupan khalifah Sulaiman di Turki, maka anda akan melihat intrik di antara para selir khalifah yang statusnya adalah budak, sehingga jumlahnya bisa puluhan.

      Yang terakhir, anda menyebut

      dasar poligami adalah : “Melindungi wanita” dan bersikap adil”

      Ini adil menurut siapa? kalau yang menjalani manusia, ya tentunya harus ditanyakan pada manusia, bukan rumusan langit. Secara umum hukum modern disusun oleh manusia berdasarkan kesepakatan dan masukan manusia, maka hasilnya tentu sejalan dengan nilai-nilai yang dipercaya manusia.

      Bagi saya, perbudakan dan poligami sudah tak layak untuk ada.

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 11:36 am
    Permalink

    wahai ahli Bid’ah,bukan kah sudah saya terangkan berkali2. Bagi saya sebaik2 referensi adalah Al-Qur’an dan As-sunnah. adapun referensi lain yg baik menurut saya adalah “Al-Bidayah wan Nihayah” karya ibnu katsir, dan “Riyadus Salihin” karya Imam Nawawi. mereka berdua langsung di tafsir dari Al-Qur’an, Hadits2 sahih dan As-sunnah.
    selebih itu saya sangat berhati2 dalam memilih referensi. karena banyak aliran islam yang mempunyai pendapat berbeda2 yg melahirkan Bid’ah.
    lalu apakah yg kamu pegang? apakah dari ucapan2 manusia yg mengkaji dengan bengkok, atau langsung dari Firman Allah sendiri?

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 12:26 pm
      Permalink

      @Abdullah: ya sudah kalau anda punya referensi sendiri. Sebagai catatan untuk referensi anda, saya bisa memberi pertimbangan dari tahun penulisannya sbb:

      • Al-Bidayah wan Nihayah adalah karya Ibnu Katsir yang wafat 774H /1350M
        Ini dikarang sekitar 750 tahun lebih setelah Nabi wafat
      • Riyadus Salihin adalah karya Imam Nawawi yang wafat 676H /1277M
        Ini dikarang sekitar 650 tahun setelah Nabi wafat

      Ini masalah pilihan kok, gak ada yang lebih istimewa dari kitab-2 anda dibanding kitab-2 yang saya sebut, semuanya karya penulis klasik muslim di jamannya.

      Kalau anda menginginkan sejarah yang indah-indah saja, dua kitab anda tersebut bisa dipilih. Akan tetapi kalau anda ingin mencari fakta, anda bisa mengambil lebih banyak sumber tulisan dari tradisi Islam, juga catatan sejarah modern khilafah Turki tentang perbudakan.

      Memang tak semua orang berani melihat kenyataan, lebih banyak yang lebih senang melihat hanya yang terbaik, meskipun itu cuma dongeng.

      Tentang bid’ah, saya senang bid’ah kok.
      Tidak berpoligami, menolak perbudakan, membela HAM, menolak khilafah, menerima demokrasi, menganggap setara wanita, pakai komputer, menggunakan internet, pakai mobil, mau belajar baca-tulis — yang semuanya berbeda dengan nabi.

      Tentu saya ahli bid’ah, saya menolak Islam kaffah yang menggunakan hukum-2 terbelakang itu
      🙂

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 3:22 pm
    Permalink

    dalam sebuah hadits Rasulullah SAW : setiap 100 tahun sekali Allah akan mengirimkan seorang pembawa kebenaran, yang membawa berita dan sejarah kebenaran. itulah ibnu katsir dan imam nawawi termasuk di dalamnya.
    jika masalah anda adalah soal waktu. jawab dengan tegas.
    “MANA YANG LEBIH DULU AL-QUR’AN ATAU REFERENSI2 YANG ANDA KATAKAN?”

    tentang anda menyenangi bid’ah, saya sudah bongkar selimut anda. bahwa anda bukanlah muslim. anda hanya misnionaris.
    dalam hati setiap muslim pasti mendambakan islam kaffah. dimasa para khalifah khulafur rasyidin adalah masa jaya umat islam. disanalah muslim2 kaffah. hanya muslim kaffah yg membawa ridho Allah yang melahirkan kejayaan. tidak ada muslim yg menyenangi bid’ah.

    jadi sekali lagi saya tanya.
    “MANA YANG LEBIH DULU AL-QUR’AN ATAU REFERENSI2 YANG ANDA KATAKAN?”

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 3:30 pm
      Permalink

      @Abdullah: baik, kita kembali ke pokok soalnya saja 🙂

      • 1. Tulisan saya tentang perbudakan dan budak seks.
      • 2. Perbudakan dan budak seks ada aturannya dalam Qur’an, ada contoh dari Nabi dan ada dalam sepanjang khilafah Islam. Jadi perbudakan dan budak seks itu sesuai syariat Islam.
      • 3. Saya percaya Allah maha pengasih dan penyayang dan itu bertentangan dengan kekejaman perbudakan seks. Saya memilih menolak perbudakan dan budak seks.

      Jadi masalah anda dengan pendapat saya yang mana?
      Anda mau memperbudak orang dan menggunakan wanita sebagai budak seks?

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 3:39 pm
    Permalink

    jawab dulu pertanyaan saya, mana yg lebih dulu Qur’an atau referensi anda.
    apa anda mau saya bikin malu soal referensi anda itu kitab2 apa?

    masalah saya dengan tulisan anda adalah :
    -anda mengintervensi hukum2 Allah.
    -anda menyebarkan bid’ah.
    -anda menyebarkan fitnah kepada Rasulullah dan Sahabat2 nya.

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 4:02 pm
      Permalink

      @Abdullah: Qur’an lebih dulu, tapi konteksnya apa?

      Saya jelaskan sekali lagi:

      • 1. Hukum Islam mendukung perbudakan dan budak seks. Ada di Qur’an, contoh dari Nabi dan praktek 1200 tahun khilafah.
      • 2. Saya menolak hukum Islam tersebut, itu biadab.
      • 3. Saya percaya Allah pengasih dan penyayang, akan tetapi itu kontradiksi dengan perbudakan yang kejam.
      • 4. Saya memilih percaya Allah yang pengasih dan menolak hukum Islam yang kejam tentang perbudakan. Saya tidak perduli dalil-dalil untuk pilihan saya.

      Lalu apa yang mau anda sampaikan?
      Hukum Islam melarang perbudakan dan budak seks? jelas ngawur …
      Perbudakan dan budak seks itu baik? jelas ngawur juga, itu biadab …

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 4:16 pm
    Permalink

    “anda bilang konteks apa?” pertanyaan ini menjelaskan anda tak membaca Qur’an. hanya mendengar2 fitnah.
    jelaskan
    dalam surah dan ayat Al-qur’an yang mana berisi perbudakan seks?

    baiklah saya sampaikan poin2 kejahiliahan anda:
    -jelas tadi anda sangat yakin sekali dengan referensi anda (Al aghani karya abu Al-farj) adlah buku puisi dan lagu karya dari orang persia yg notabene agama syiah waah..waah.
    -tidak ada karya ibnu al qoyyim berjudul “Akbar Al nisa”
    -mau saya sebutkan satu2 referensi jahil anda ?
    – kemudian komentar terakhir anda berkata “saya tidak peduli dalil2 untuk pilihan saya.

    Audzubillah

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 4:23 pm
      Permalink

      @Abdullah: bukankah sudah jelas di tulisan saya, landasan perbudakan seks ada di Al-Mukminuun:5-7 dan An-Nisa:24.
      Anda punya tafsir lain tentang ayat itu?

      Oh ya, sebagai masukan saja –> mengatakan lawan bicara anda sebagai jahil, bid’ah, murtad dan sebagainya tak membuat anda lebih benar kok. Itu hanya menunjukkan anda tak bisa berdialog dengan kepala dingin. Pakai saja logika 🙂

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 4:50 pm
    Permalink

    Saya tafsirkan Qs Al-Mukminuun 5-7
    “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun : 5 – 7)

    “dan orang yg menjaga kemaluannya” berarti bahwa onani,pemerkosaan, itu di haramkan.
    kecuali kepada istri & budak yg mereka miliki.
    bahwa kata budak berarti pekerja yg di beri upah, sama seperti karyawan.
    bahwa islam boleh menikahi budaknya, atau antara Boss dan karyawan tidak ada bedanya, dan di perbolehkan menikah. dimana pada masa jahiliah dahulu. orang2 quraisy sangat memperhatikan kedudukan, bebet dan bobot , menikah hanya boleh antara sesama golongan atas saja. lalu datang lah Hukum Allah. yg menghapuskan perbedaan itu. bahwa antara boss(Majikan) dan karyawan(Budak) tidak ada bedanya di mata Allah dan boleh menikah.

    dan ini sebagai rujukan buat anda

    “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu ? ( yaitu ) MELEPASKANBUDAK DARI PERBUDAKAN “. ( QS.Al Balad : 11-13 )

    saya bisa siram rohani anda lebih banyak lagi, Agar semoga Allah memberi kelurusan kepada anda.
    saya mengatakan anda ahli bid’ah, merujuk kepada ilmu bid’ah anda. jahil merujuk kepada referensi2 yg anda bawa yg anda saja tak tahu asal usulnya.
    anda terlalu pakai logika tapi tak pakai taufik dan hikmah jadi melahirkan bid’ah. lihat kembali komentar2 saya yang mendoakan agar anda di beri iman dan pemahaman yang lurus.
    apa ada saya bilang anda murtad?
    saya sarankan kepada anda, pakai jiwa yg hanif dalam mempelajari islam. cari kebenarannya. mohon Taufik Nya. bukan cari celahnya. Insya Allah anda akan semakin Tawadu jika berbekal ilmu yg lurus.

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 5:15 pm
      Permalink

      @Abdullah: saya jadi tertarik dengan pernyataan anda berikut:
      Anda menyebutkan bahwa kata budak berarti pekerja yg di beri upah, sama seperti karyawan, lalu mengutip ayat .. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.. Al-Balad:11-13.
      Dengan budak yang anda artikan sebagai karyawan, lalu melepaskan budak dari perbudakan itu maknanya apa ya? memecat karyawan?
      Di Qur’an juga banyak anjuran untuk membebaskan budak sebagai pengganti denda, apa itu bermaksud mendorong PHK para karyawan?
      😀

      Oh ya untuk istana harem di Khilafah Turki bisa baca di http://www.allaboutturkey.com/harem.htm

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 5:30 pm
    Permalink

    Nah anda sangat tepat. itulah mengapa melepaskan budak disebut dengan jalan yg sukar. dalam QS Al balad ayat 11-13 tadi. karena melepaskan budak akan merusak perekonomian.
    pernyataan anda membuktikan antara surat Al-Mukminun dan Surat Al Balad Al-Qur’an membawa keseimbangan hidup.
    (Maha benar Allah dengan segala Firman Nya).
    secara tak sadar anda mengikuti benang yang saya pegangkan di tangan anda. dan akhirnya kita mengupas dialog tentang keseimbangan hidup dari surat Al-Mukminun dan Surat Al Balad tadi. 🙂

    anda buat icon tertawa, saya buat icon tersentum. bukankah kita telah berdialog dengan kepala dingin? 🙂

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 5:56 pm
      Permalink

      @Abdullah: ya sudahlah kalau anda mendefinisikan budak itu sebagai karyawan. Mungkin makna baru itu perlu disosialisasikan, jadi misalkan ada berita ISIS memperjualkan para wanita Yazidi sebagai budak seks, itu maknanya bahwa ISIS sedang melakukan transfer karyawan wanita Yazidi yang akan dijadikan istri.

      Kalau itu membuat anda menjadi lebih tenang, berbahagia dan bertakwa; ya bagaimana lagi 🙂 🙂

      Saya sih 😀 😀 😀

      Balas
    • 4 Mei 2016 pada 12:09 am
      Permalink

      kalo budak=karyawan, Dan disebutkan didalam Quran melepas budak adalah jalan yang sukar. Kenapa masih banyak karyawan/buruh kontrak 3 bulan?

      Jaman sekarang mana “jalan yang lebih sukar?”
      Nganggkat karyawan tetap atau karyawan kontrak yg di pecat kapan saja sesuka hati?

      Ko saya abis baca tabsir pak abdullah jadi mikir ya kalo Quran gak relevan lagi? (Kalo tafsiran budak memang sama dengan karyawan) mohon di pikir kembali pak abdullah, benarkah budak sama dengan karyawan?

      Balas
  • 21 Januari 2016 pada 6:04 pm
    Permalink

    tentang harem saya jelaskan : Harem berarti Haram. harem adalah sebuah tempat untuk mendidik para wanita di Konstantinopel yg pada saat itu berkuasa sultan Muhammad Al-Fatih.
    setelah menaklukan konstantinopel dari kerajaan romawi sultan membolehkan semua umat beragama hidup damai dan dilindungi di konstantinopel (Sungguh sangat mulia). jadi harem di bangun oleh para pejabat2 kesultanan untuk wanita2 non muslim agar di didik. lihat saja lukisan2 itu, tanpa hijab semua, yg berarti mereka non muslim.
    tapi lama kelamaan sepeninggal sultan al fatih, banyak konspirasi bahwa harem juga di gunakan untuk wanita muslim, dan para pejabat turki menggunakan harem sebagai ajang politik untuk menarik perhatian sultan. seperti dalil dan referensi anda tadi, kisah dilema sinetron king sulayman. JADI KENAPA ANDA MENJADIKAN SINETRON SEBAGAI DALIL DAN REFERENSI? 😀
    saya yakin king sulayman tidak seperti di sinetron komersil itu.

    Alhamdulillah Allah memberikan saya petunjuk untuk menjawab tentang Harem.
    saya jadi senang dengan dialog ini. dan anda terus merespon dialog saya. terima kasih. saya akui anda adalah sahabat berdialog yg baik, ketidak tahuan anda mengajukan banyak pertanyaan yg bagus.

    Balas
  • 21 Januari 2016 pada 6:16 pm
    Permalink

    dialog2 anda menunjukkan bahwa banyak yg anda tidak tahu, tapi anda malu bertanya. tapi dengan hati yg tertutup dan jiwa yg tidak hanif, mustahil taufik dan hidayah masuk.
    karena tujuan anda bukan mencari kebenaran, tapi mencari celah2.
    ya mau bagaimana lagi juga, andai tak berakhir seperti ini. tapi saya tak bisa meluruskan anda lagi, anda sendiri mengakui suka bid’ah. namun hati kecil anda tetap haus akan kebenaran.

    Wassalam

    Balas
    • 21 Januari 2016 pada 6:29 pm
      Permalink

      @Abdullah: saya tidak menanggapi lebih lanjut bukan berarti karena setuju dengan pendapat anda. Dengan berkelit pada definisi dan kesenangan anda memberi cap lawan diskusi anda; saya tidak bisa mengharapkan ada pijakan bersama untuk diskusi yang produktif.

      Jadi biarlah pembaca lainnya yang menilai.
      Terima kasih.

      Balas
  • 24 Januari 2016 pada 9:02 am
    Permalink

    pembaca lain>>> biqiqiqiqi… abdulah ngotot sekali .. emangnya apasih yang abdulah tau tentang tuhan,,, pernahkah abdulah berkenalan langsung dengannya.. atau abdulah jangan2 intelijen tuhan sehingga begitu gamblang sekali penjelasannya yang 100% copypaste…

    Balas
  • 26 Januari 2016 pada 11:08 am
    Permalink

    Alam akan.menjaga keseimbangan sendiri. Ada pria ada wanita. Ada pria seperti wanita ada wanita seperti pria. Ada poligami ada poliandri. Karena tidak ada pengakuan.pada poliandri maka muncullah.pelacuran. Silahkan muslim beralasan apapun tentang pria boleh menikahi banyak wanita termasuk budak atau babu atau apapun. Maka yang terjadi adalah.Karena ada pria yang ngeseks dengan.banyak.wanita.Maka ada juga wanita.yang.ngeseks.dengan banyak pria itulah pelacuran. Itulah alam yang mencari keseimbanganya sendiri.

    Balas
  • 27 Januari 2016 pada 1:06 pm
    Permalink

    Bener2 nonton … abdullah orang yg merasa suci, paling bener tafsirnya, paling banyak referensinya, paling berhak menilai orang seenaknya, trus akhirnya merasa yg paling harus diikutin, sederhananya orang ini hati nurani nya tertutup rapat, pake kacamata kuda. Mas Jud, anda semakin cerdas dan buat saya amanah

    Balas
  • 24 Mei 2016 pada 12:52 pm
    Permalink

    Monggo silahkan dikunjungi jika ingin mendapatkan jawaban mengenai pandangan dan sikap islam terhadapat perbudakan. Teruslah menggali islam, atau mencari cari kekurangan islam, lalu jatuhkanlah islam. Karena hal itu sudah banyak dilakukan oleh banyak tokoh dari barat. Tetapi ternyata mereka yang gencar mencari kelemahan islam, Alhamdulillah banyak yang mendapatkan hidayah (justru mengimani islam pada akhirnya).
    https://muslim.or.id/8903-islam-kejam-membolehkan-perbudakan.html

    Contoh teladan Rasulullah saw terhadap budak.
    Menjadikan budaknya, Zaid bin Haritsah sebagai anaknya [sebelum anak angkat dilarang dalam Islam].

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata

    أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ مَوْلَى رَسُوْلُ اللهِ مَا كُنَّا نَدْعُوْهُ إِلاَّ زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ الْقُرْآنُ ادْعُوْهُمْ لِآبَائِهِم

    “Zaid bin Haritsah maula Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, (Ibnu Umar berkata), “Dulu kami tidak memanggil Zaid kecuali dengna panggilan Zaid bin Muhammad, sehingga turunlah ayat; (panggillah anak-anak angkatmu dengan (menasabkan kepada) nama bapak-bapak mereka, karena itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [HR. Bukhari no. 4782, dan Muslim no.2425]

    Dan yang mengagumkan lagi, ketika ayah Zaid bin Haritsah datang untuk menebus Zaid dan hendak membawanya pulang ke keluarganya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pilihan kepada Zaid bin haritsah antara memilih ikut ayahnya atau tetap bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zaid bin haritsah lebih memilih tetap bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini bukti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan budaknya sebagaimana anaknya.

    Semoga bermanfaat, aamiin..!!!

    Balas
    • 24 Mei 2016 pada 2:21 pm
      Permalink

      @Anang Sudarmono: anda menunjukkan contoh perlakuan baik Nabi terhadap budaknya. Sepertinya itu kebaikan maksimal Islam dalam konteks perbudakan.

      Tapi berbuat baik terhadap budak itu tidak cukup.

      Silakan anda tanyakan ke orang-orang sekeliling anda, apakah mereka bisa menerima bahwa ada manusia dirampas hampir semua hak-haknya, sehingga tak beda dengan binatang atau sekedar sandal yang bisa diperjual-belikan? atau kalau wanita, bisa disetubuhi majikannya tanpa ikatan apapun?

      Itu biadab. Perbudakan sendiri adalah sistem yang biadab. Jika Islam menganjurkan berbuat baik kepada budak seperti yang dicontohkan Nabi, maka itu sekedar melakukan perbuatan biadab dengan baik.

      Yang diperlukan adalah memperlakukan manusia sederajat, dan itu berarti menolak sama sekali perbudakan. Bukan sekedar berbuat baik terhadap budak sebagaimana contoh Nabi.

      Dalam ukuran modern, sebaik apapun perlakuan Nabi terhadap budaknya, itu tergolong biadab. Orang beradab itu menolak perbudakan, bukan sekedar berbuat baik terhadap budak.

      Semoga paham…

      Balas
  • 24 Mei 2016 pada 7:23 pm
    Permalink

    lucu, saya sebenarnya mau komen bermutu tapi melihat tingkah agan abdullah..saya jadi mengurungkan niat untuk menanggapi komentarnya..circular reasoning is the way!

    Balas
  • 26 Juni 2016 pada 1:08 pm
    Permalink

    Budak tidak sama dengan pembantu
    Budak di dapatkan dari perang,so jadi anda harus berperang dulu dengan orang kafir
    Dan ingat,,,INGAT budak adalah bukan berasal dari seorang keturunan muslim,budak adalah dari bangsa kafir yg di tawan dalam perang
    Kafir bukan islam
    Jadi klo ada orang mengambil tawanan dari sesama islam lalu menggauli nya,itu adalah zina,karena dia bukan budak
    Tidak ada budak dalam sejarah nabi yg saat di tawan dia adalah islam sebelum nya

    Budak juga bisa di perjual belikan di pasar budak
    Budak diperintahkan diperlakukan baik
    Makan 1 meja makan sama majikan
    Diperintahkan diberi tempat tinggal
    Diperintahkan jangan kasar,kecuali dia melanggar perintah tuan nya
    Islam di perintahkan utk lebih mengutamakan memerdekakan budak

    Balas
    • 27 Juni 2016 pada 10:08 am
      Permalink

      @Dendy aja: jadi yang anda mau katakan apa? aturan perbudakan Islam?

      Sebaik atau seindah apapun aturan perbudakan Islam, konsep dasarnya: Islam mengakomodasi perbudakan dan konsep perbudakan Islam bagus.

      Tahukah anda, negara beradab saat ini sudah menolak sama sekali konsep perbudakan. Deklarasi Universal HAM PBB tahun 48 menegaskan perbudakan tidak bisa diterima, Konvensi Jenewa 1949 mengatur perlakuan pada tawanan perang – salah satunya melarang menyiksa dan memperbudak tawanan perang.

      Saat ini hanya negara kejam dan biadab yang masih bisa mentolerir perbudakan.

      Bagi norma keadaban dunia saat ini, sebagus apapun aturan Islam tentang perbudakan – itu kejam dan biadab. Dan saya sepakat dengan norma dunia saat ini.

      Balas
  • 12 Juli 2016 pada 8:48 pm
    Permalink

    ikut menilai saja:
    Abdullah terlalu sering memberi cap dan tdk fokus pd permasalahan cenderung tdk wajaadilhum billadzi hiya ahsan (tdk berdialog dgn cara yg baik). Lalu perbudakan yg difahami Abdullah mengukuti dalil normatif seakan2 tdk bisa dirubah, menurut saya dia tdk memahami konteks dulu dgn sekarang yg memberlakukan tatanan bernegara.

    Judhianto, dia baik dlm menyampaikan dialog dan fokus pd permasalahan. Hanya saja saat membandingkan hukum perbudakan antara Islam dan agama lain menurut sy kurang pas. Seharusnya Islam yg masih melegalkan perbudakan perang dibandingkan dgn yahudi, nasrani yg jg melegalkan perbudakan. Berbeda jika yg dibandingkan negara Islam dgn negara sekuler, ada negara Islam yg masih melegalkan perang dan negara seluler yg nelarangnya. Jd bandingkan antar kitabnya dan bandingkan antar negaranya. Disamping itu bagus jg Judhianto berusaha menyuarakan penghapusan perbudakan.

    Sekali lg ini cm penilaian sy, bila salah mohon maaf…….
    Kalau sy sendiri ingin perbudakan dihilangkan sebagaimana slh satu misi Islam. Dan salah satu jalannya melalui kesepakatan bersama baik ditingkat Nasional atau Internasional (yg telah terjadi). Karena kesepakatan termasuk ijma’ yg bisa dijadikan landasan hukum.

    Mungkin judhianto mau memberi informasi hukum perbudakan di Indonesia krn sy blm tahu. Terimakasih

    Balas
    • 13 Juli 2016 pada 10:34 am
      Permalink

      @Haidar: untuk hukum Indonesia, beberapa pasal di bawah bisa kita jadikan acuan:

      • Pasal 297 KUHP
        Memperdagangkan perempuan dan laki-laki yang belum dewasa dihukum penjara selama-lamanya enam tahun

      • Pasal 324 KUHP
        Barangsiapa dengan biaya sendiri atau orang lain menjalankan perniagaan budak belian atau melakukan perbuatan perdagangan budak belian atau dengan sengaja turut campur dalam hal itu, baik langsung maupun tidak langsung, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

      • Pasal 4 UU HAM

        “Hak. untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.”

      • Pasal 20 UU HAM
        (1) Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba.
        (2) Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan berupa apapun yang tujuannya serupa, dilarang.
      Balas
      • 13 Juli 2016 pada 6:35 pm
        Permalink

        standar kebenaran tentunya universal!
        the truth is absolute!
        sebagai sesama manusia yg sama2 hidup dibawah matahari yg sama, secara pribadi tentunya saya lebih beriman kepada hukum2 persesuaian antar manusia yg telah disetujui oleh manusia secara global.
        apakah kita masih butuh aturan2 agama untuk bisa menentukan mana yg salah dan mana yg benar disaat ini?
        alasan2 gampang yg menolak pemakaian logika seperti ” ini semua karena Allah” atau ini semua adalah ketentuan dari Allah sepertinya sudah sangat irrasional!
        tapi apabila masih ada yg nyaman dengan hal tsb ya monggo. sejauh mana tidak menjadikannya individu yg menganggap selain hayalannya yg benar yg lain salah dan kafir!
        agama sudah gagal!
        berat memang menerima kenyataan ini !
        tapi fakta tidak bisa dipungkiri.

        salam kenal mas judhianto

        Balas
          • 16 Juli 2016 pada 1:42 pm
            Permalink

            Selamat Siang Pak Judhiarto,

            Wah seru sekali ya bahasannya, mengingatkan dulu sewaktu saya masih aktif seni blogging filsafat dan agama, mengikuti forum-forum diskusi online, kompasiana, kaskus, faithfredoom etc. Pak Judhiarto serta merta mengingatkan saya juga sosok Erianto Annas seorang blogger underground yang kritikus soal keimanan, kepercayaan, syariat dsb di dalam Islam. Sosok yang selalu saya ikutin 3 tahun berbagai artikelnya, opininya yang meledakkan hati dan pikiran untuk memancing pemikiran agar terus menerus mencari tahu Ilmu dan Kalam dari tirai Dunia dan Akhirat. Walau pada akhirnya perjalanan beliau terhenti krn terbawa sampai ke real lifenya.

            Orang-orang semacam Pak Judhiarto dan Erianto Anas dan yg ” sejenisnya ” memang harus ada dan akan selalu menghiasi belantika jagad raya ini, bukan skrng tapi jauh jauh hari sejak peradaban ada sudah lumrah kritikan itu ada. Tuhan yang konon sempurna pun masih bisa dikritik dengan kita yang konon juga adalah ciptaan-Nya.

            Membahas soal artikel ini,

            Saya cuma bisa geleng geleng saja, topiknya sudah sgt jelas antara baik atau buruk, budak atau merdeka. Di artikel ini budak diartikan negatif walau apapun alasannya, sedangkan kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat mutlak itu baik. Disini saja sebenernya sudah selesai, krn salah satu pihak ngotot dengan segala pemebelaannya, percuma mau meberikan penjelasan apapun dengan fakta dan data yang bergelimpangan juga bakal menjadi gudang data mati yang tak memiliki roh keyakinan otentik.

            Pada dasarnya agama mengajarkan hal yang baik, pasti baik. Pak Judhiarto tadi nyeletuk kitab Riyadhus Shalihin ya? Kitab Riyadhus Shalihin sangat melegenda dikalangan umat Islam, saya sangat suka kitab itu, kitab yang mengajarkan segala kebaikan, tata cara kita bermuamalah, hablum minannas hablum minallah. Jika Pak Judhiarto pernah baca dengan seksama menggunakan hati, saya kira pemikiran anda tidak akan sampai membahas hal hal yang seperti ini. Orang yang banyak ilmu saya yakin akan banyak diam, mungkin banyak sekali yang ingin membantah artikel ini, tapi mereka cukup senyum saja.

            Mengapa?
            Apa kunci bantahan artikel ini?

            Pertama yang akan saya jelaskan, disini bukan soal budak atau merdeka, tapi lihatlah Islam dulu, jika dirasa ke imanan kita sudah baik barulah pelajari sesuatu hal yang syubat, sesuatu hal yang meragukan, sesuatu perkara yang kita sendiri belum tahu apa hakikatnya.

            Islam mengatur hal baik itu paling tertinggi derajadnya, sangat tinggi dan sgt absolut. Kita bicara kotor ditulis berdosa, ngumpat dalam hati pun dosa, apalagi memperbudak orang? saya kira orang baik pun juga g akan sampai hati memperbudak dengan dosa yg bergelimpangan. Jadi kalau Islam memperbolehkan perbudakan ini sama saja Islam mengajarkan umatnya masuk ke nerakanya sendiri. ( konteks kalau percaya Islam ). Begitukan maksud dr artikel ini? Tentu sgt bertolak belakang, contoh Riyadhus Shalihin Bab pertama sampai akhir mengajarkan budi pekerti yang baik, disini kita kurang memahami antara halal dan haram bagaimana cara menjalaninya.

            Saya simplekan,

            Poligami adalah hal yang halal, lalu mindset orang salah kaprah mengatai Islam itu bejad begini dan begitu, padahal mereka tidak tahu apa sih syarat2 poligami? apa resiko dia jika dia poligami dilihat dr ke imanan dan kadarnya dia, apakah tidak berpotensi ke neraka jika dia nekad berpoligami? Poligami memang halal, tapi jujur dalam hati, se halal apapun dan se kuat apapun imam saya dalam islam, saya tidak berani mempertaruhkan iman saya untuk terjun ke dalam gemerlapnya cobaan dala, mengendalikan poligami. Bagaimana tidak, Islam menuntut adil jika kita berpoligami, kalau tidak bisa adil, Islam mengatakan saya akan diseret seret ke neraka. bikin istri satunya cemburu itu juga sgt berdosa bagi pelaku poligami, dan ganjarannya adalah neraka lagi, begitu ketatnya Islam menerapkan hukumnya bagi siapa saja yang mau coba coba sesuatu hal yang terlihat subhat dimata umatnya namun mereka nekad melakukannya.

            Begitu juga soal Budak atau merdeka.

            Saya pernah membahas topic ini dalam forum online maupun di kehidupan nyata. budak dalam Islam sudah jelas asbabun nuzulnya, cara penerapannya juga sudah jelas, namun disamping itu perlu sgt digaris bawahi bagi kita orang awam bahwa sesuatu jika memang tidak sanggup dan menentang hukum hukum kebaikan Islam maka tinggalkanlah walaupun itu masalah yang halal ( misal poligami / perbudakan ), kalau bisa berbuat baik kenapa harus masuk ke tepi jurang yang siap mengantarkan kita ke neraka?

            Seluruh umat Islam tidak ada yang berpoligami pun tak akan ada yang berdosa, begitu juga soal perbudakan, jika perbudakan tidak perlu dan tidak dibutuhkan atau malah memancing seorang muslim masuk ke lumbung dosa kenapa harus diterapkan? tidak diterapkan bukan berarti tidak diperbolehkan, dan diperbolehkan bukan berarti kita punya alasan untuk berdiri di tepi jurang neraka. Lalu serta merta memanfaatkan hukum ini untuk melegalkan seks bebas, perbudakan seks kata pak Judhiarto, boro boro nge seks pak, saya lho ambil duit orang 100 perak aja udah takut dosa kok. Apalagi mencoba akal akalan sama hukum Allah?

            Kalau kita yakin, iman kita kuat, bisa poligami atau meperbudak secara adil ( walau itu saya sendiri nggak bakal bisa ) ya mengapa tidak….? Kalau hukum hukum semua sudah dipelajari, pengetahuan kita sudah luas, tinggal kita sendiri bagaimana menjalani kehidupan sesuai rambu rambu yang berkaku secara luas dan saling terhubung satu sama lainnya, saya kira orang muslim yang taat jika suatu saat terpaksa melakukan perbudakan ( setelah kemenangan di medan perang ) tentu dia tidak ada semena menda dengan budaknya, dia akan tahu dosa dan tak akan duduk tertawa dan se enaknya menistakan budaknya.

            Jadilah hidup yang baik.

            Sekian,
            Itu sudah.,
            Barakallah fii umrik

            *Sbg catatan,
            sebelumnya bagi yg baca komentar saya ini, pelajari dulu perbudakan dalam islam itu seperti apa, hukum2nya, cara meperlakukannya, sebabnya apa, dan krn apa, lalu solusi yang paling baik itu seperti apa, yang jelas jika itu terjadi, Islam masih ada pilihan bagi kita yang sempurna bagi perbudakan, yaitu mermerdekakan nya..

          • 16 Juli 2016 pada 4:25 pm
            Permalink

            @Okta Aditya: tulisan saya jelas, tentang perbudakan dalam Islam.

            Saya tunjukkan dalilnya, praktek Nabi dan praktek dalam periode khilafah Islam. Saya tunjukkan sikap saya, yaitu menentangnya.

            Apa yang anda sampaikan?

            • Nostalgia Anda saat berdiskusi –> siapa yang mau tahu, hingga Anda bercerita? Apa pentingnya pengalaman anda bagi saya dan pembaca lainnya? Siapa Anda?
            • Anda bercerita tentang Erianto Anas –> Siapa dia? Apa pendapatnya? Apa pentingnya?
            • Anda geleng-geleng kepala –> kalaupun Anda koprol, kenapa yang lain harus perduli?
            • Anda komen ngalor-ngidul tentang Riyadhus Shalihin dan berbagai hal normatif lainnya — Siapa butuh pendapat Anda tentang berbagai hal itu?

            Silakan anda berkomentar lagi.
            Fokus dan jelas tentang perbudakan dalam Islam serta sikap Anda tentangnya. Silakan …

          • 18 Juli 2016 pada 5:34 pm
            Permalink

            @okta aditya.. komentar ada versi islam.. buka versi mausia

  • 22 Juli 2016 pada 8:23 am
    Permalink

    Assalaamualaikum,

    Saya, sebagai sesama Muslim yang selalu mencari kebenaran jadi tergelitik untuk ikut berpendapat. Tidak membantah..hanya mencoba dengan segala keterbatasan saya untuk memberi pandangan dari sisi lain… 🙂

    Menurut pendapat saya kita harus memisahkan antara Islam sebagai agama dari Allah dengan Muhammad sebagai Rasulnya dengan budaya para pengikut2 nya. Baik pada Zaman nabi dan seterusnya…

    Sehingga tidak relevan untuk membahas tentang tetap adanya perbudakan oleh ummat islam bahkan sampai sekarang(isis) bila kita ingin menilai islam itu sendiri.

    Dan kitapun harus memisahkan perkara antara boleh tidaknya perbudakan dengan boleh tidaknya hubungan intim dengan budak.

    Seorang budak, tidak peduli zaman dan kultur apapun, memiliki berbagai per definisi fungsi. Salah satunya untuk hubungan intim. Dan hal inilah yang juga dibolehkan Al Quran.

    Dan sayapun yakin problemnya lebih terletak di perbudakan itu sendiri bukan?

    Islam tidak melarang perbudakan? ya.
    Tapi coba anda liat dari sudut pandang lain:

    Apakah Islam menganjurkan atau memerintahkan untuk memiliki/membeli seorang budak? tidak.
    Apakah Islam menyuruh untuk berbuat zalim terhadap budak? tidak.

    Malah sebaliknya: Islam membuka pintu untuk mengurangi atau menghilangkan perbudakan dan Rasulullah mencontohkan untuk berbuat baik terhadap budak.

    Dan memang hilangnya Perbudakan bukan diinisiasi oleh masyarakat muslim (sayang sekali).

    Sebagai manusia yang hidup di era ini sayapun tentunya tidak setuju dengan perbudakan. Tapi bayangkan bila kita semua terlahir 1000 tahun yang lalu. Saya yakin kita, dengan otak dan hati nurani yang sama (agama dan kultur apapun), akan berpendapat beda. Karena perbudakan saat itu sesuatu yang normal.

    HAM sifatnya universal…tapi apa itu sesuatu yang kekal tidak berubah?

    Point nya adalah…apakah kita, karena kita hidup di era dimana perbudakan tidak sesuai HAM, layak mencap manusia yang lahir sebelum kita sebagai biadab karena mereka mepraktekan perbudakan? => Silahkan kembali bayangkan bila kita lahir 1000 tahun yang lalu……atau 1000 tahun yang akan datang…saya yakin nilai2 HAM dan bagaimana manusia menilai baik dan buruk bakal berubah….

    Wassalaam…

    Balas
    • 22 Juli 2016 pada 10:21 am
      Permalink

      @Nafiz: saya coba dalami komentar anda

      • Menurut pendapat saya kita harus memisahkan antara Islam sebagai agama dari Allah dengan Muhammad sebagai Rasulnya dengan budaya para pengikut2 nya. Baik pada Zaman nabi dan seterusnya…
        Kalau bicara konteks perbudakan, itu ada tuntunannya dalam Qur’an dan ada contohnya dari nabi kok, jadi jangan mengatakan itu budaya para pengikutnya. Itu punya dasar Qur’an dan sunnah Nabi kok.
      • Islam tidak melarang perbudakan? ya.
        Ya itu problemnya. Itu biadab dalam standard manusia modern.
      • Point nya adalah…apakah kita, karena kita hidup di era dimana perbudakan tidak sesuai HAM, layak mencap manusia yang lahir sebelum kita sebagai biadab karena mereka mepraktekan perbudakan? => Silahkan kembali bayangkan bila kita lahir 1000 tahun yang lalu……atau 1000 tahun yang akan datang…saya yakin nilai2 HAM dan bagaimana manusia menilai baik dan buruk bakal berubah….
        Poinnya adalah nilailah seseorang dengan standard dimana seseorang itu hidup, dan bila anda ingin dinilai baik, maka gunakan standard dimana anda sekarang hidup. Kalau anda ingin dianggap beradab, ya berlakulah dengan adab masa ini, bukan berlaku dengan adab 1400 tahun yang lalu.
        Perbudakan itu perilaku yang bisa diterima 1400 tahun yang lalu, Nabi mempraktekkan, dan Nabi dianggap beradab di jamannya, akan tetapi kalau anda meniru Nabi memperbudak seseorang di jaman ini, anda biadab.
      Balas
      • 22 Juli 2016 pada 9:02 pm
        Permalink

        Terimakasih responnya. Oke jadi andapun berpendapat bahwa misalnya anda memperbudak saya 1000 tahun yang lalu anda adalah manusia beradab. Dan bila anda melakukannya sekarang ada biadab. Sip…

        Anda sebutkan sebelumnya bahwa perbudakan ada tuntunannya dalam Al Quran dan Sunnah…Tapi setahu saya tidak ada satupun seruan atau perintah untuk memiliki atau membeli budak (seperti halnya perintah shalat, zakat, dll)…itu yang mau saya tekankan sebelumnya.

        Dan islam tidak melarang perbudakan. Betul. Apakah anda yakin 100% bahwa bila pada zaman nabi perbudakan dilarang, itu akan berdampak positif/lebih baik? Bahkan pada budak2 tersebut? Saya tidak yakin.

        Tuntunan menurut islam:
        ”Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara yang ada dibawah kekuasaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka.” [HR. Bukhari I/16, II/123-124]

        Reailta pada saat itu adalah tidak semua budak siap untuk bebas. Anda tidak bisa menjamin mereka tidak jatuh keorang kafir dan diperlakukan lebih buruk bukan? Apa akibatnya bila dalam satu hari, sekaligus ratusan/ribuan orang yang belum bisa mangurus diri mereka sendiri(wanita dan anak2 contoh konkritnya) tiba tiba tidak ada lagi yang menanggung?

        Dan islam pun adil dalam hal ini. Budak yang siap dan berkeinginan untuk bebas..diberi jalan nya…dibantu dengan zakat, dan berbagai bantuan finansial dari hukum2 islam.

        Andapun tahu bahwa Rasulullah melarang menjadikan orang merdeka sebagai budak.

        Ini sangat klop dengan keadaan sekarang bukan? Saat perbudakan sudah dihapuskan secara hukum semua orang adalah orang merdeka. Dilarang hukumnya dalam islam untuk memperbudak mereka.

        Dengan kata lain: sekarang, saat perbudakan dihapuskan, semua orang merdeka, dan kita memandang perbudakan sebagai hal yang biadab, islam pun secara automatis menentang perbudakan.

        PS: Kita tidak bisa menjadikan ISIS sebagai representasi dari ajaran agama islam dalam hal ini. Karena pada faktanya ratusan ulama muslim telah memperingatkan Baghdadi bahwa dia telah salah dalam menginterpretasi dan memintanya untuk menghentikan proses perbudakan ini.

        Balas
        • 23 Juli 2016 pada 3:36 pm
          Permalink

          @Nafiz: saya soroti beberapa pendapat anda:

          • Tapi setahu saya tidak ada satupun seruan atau perintah untuk memiliki atau membeli budak (seperti halnya perintah shalat, zakat, dll)

            Tidak ada perintahnya, tapi diatur di Qur’an dan diberi contohnya oleh Nabi.

          • Apakah anda yakin 100% bahwa bila pada zaman nabi perbudakan dilarang, itu akan berdampak positif/lebih baik? Bahkan pada budak2 tersebut? Saya tidak yakin.

            Saya tidak mengajak berandai-andai, saya membicarakan fakta sejarah.

          • Realita pada saat itu adalah tidak semua budak siap untuk bebas. Anda tidak bisa menjamin mereka tidak jatuh keorang kafir dan diperlakukan lebih buruk bukan? Apa akibatnya bila dalam satu hari, sekaligus ratusan/ribuan orang yang belum bisa mangurus diri mereka sendiri(wanita dan anak2 contoh konkritnya) tiba tiba tidak ada lagi yang menanggung?

            Realita dari mana? ada sumbernya?

          • Dan islam pun adil dalam hal ini. Budak yang siap dan berkeinginan untuk bebas..diberi jalan nya…dibantu dengan zakat, dan berbagai bantuan finansial dari hukum2 islam.

            Ada kewajibannya? Kan nggak? Cuma bergantung pada belas kasihan tuannya.

          • Andapun tahu bahwa Rasulullah melarang menjadikan orang merdeka sebagai budak.

            Anda ngawur. Setelah pengepungan Banu Qurayzah, atas ijin Nabi Muhammad, seluruh laki-laki dewasa suku itu dipancung dan seluruh wanita dan anak-anak suku itu dibagikan sebagai budak. Nabi sendiri mengambil Rayhanah seorang wanita tercantik suku itu untuk dirinya. Mereka manusia bebas yang diperbudak umat mukmin karena kalah perang. Selain itu selama karir kenabian Muhammad, ada berbagai penaklukan yang berakhir dengan memperbudak pihak yang kalah. Silakan baca berbagai kitab Sirah nabi.

          • PS: Kita tidak bisa menjadikan ISIS sebagai representasi dari ajaran agama islam dalam hal ini. 

            Oke, ISIS mungkin ditolak sebagai representasi ajaran Islam oleh sebagian besar umat Islam.

            Lalu adakah representasi umat Islam yang tidak ditolak umat Islam? Tentu ada, yaitu kehidupan Nabi Muhammad dan era 1200 tahun Khilafah Islam yang dibanggakan oleh banyak umat Islam. Dan bagaimana sikap mereka terhadap perbudakan? Mereka melakukannya, mengaturnya dan tidak melarangnya.

          Balas
          • 25 Juli 2016 pada 6:32 am
            Permalink

            terima kasih balasannya.
            Berandai-andai? Anda tidak bisa membabi buta menyalahkan seorang dokter (Dokter! Anda berandai-andai!!) karena dia mengorbankan seorang bayi agar ibunya selamat bukan?
            Well disini saya tidak yakin bahwa menghapus perbudakan pada saat itu adalah keputusan yang terbaik dan tanpa resiko…bila anda yakin ya itu terserah anda 🙂

            Belas kasihan? bukan..ini aturannya:
            “… Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka …” [QS. An-Nuur (24) : 33]

            Dengan ini budak bisa menebus dirinya sendiri atau menggunakan bantuan dari sistem zakat yang hukumnya juga wajib.

            Status tawanan perang diatur disini:
            “..Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir..” [QS Muhammad 47:4:]
            Jadi: 1. Bebaskan 2. Minta tebusan. thats it.

            Oke kita punya contoh dimana Rasulullah menjadikan tawanan sebagai budak. Tapi dalam Islam acuan pertama kita tentunya Al Quran.
            Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa dalam banyak perang lainnya Rasulullah membebaskan wanita dan anak2.
            Menurut para ulama, ada kekhususan disini bila wanita dan anak2 ikut membantu di proses peperangan. “Hukuman” untuk mereka adalah dijadikan budak. Tapi bila mereka tidak terlibat perang maka mereka tidak boleh dijadikan budak.

            Larangan menjadikan orang merdeka sebagai budak yang saya maksud adalah ini:
            “Ada tiga orang yang akan aku tuntut kelak pada Hari Kiamat. Seorang laki-laki meminta kepadaku, kemudian ia berkhianat, dan seorang laki-laki yang menjual seorang laki-laki merdeka, kemudian ia memakan hasil penjualannya itu, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan seseorang dan tidak pernah diberi upahnya.” (HR Bukhari).

            Jadi menurut saya dijaman sekarang dimana semua orang telah merdeka. Islam pun melarang perbudakan. Anda menyimpulkan yang lain? silahkan itu hak anda…

            Oke sekarang tentang 1200 tahun kekhalifahan yang tetap melegalkan perbudakan. Mari kita kembali ke point kita awal2: Perbudakan di zaman dulu = Beradab. Jaman sekarang = biadab.

            Diluar itu yang dibanggakan ummat muslim dari kekhalifahan adalah adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan luasnya penyebaran agama islam.
            Kita harus tetap kritis dan fair disini: Perbudakan bukan hal yang kita bisa dan layak banggakan (bahkan dicontoh dan dihidupkan lagi) dari kekhalifahan.

            sekian

          • 25 Juli 2016 pada 11:00 am
            Permalink

            @Nafiz: untuk pembebasan budak anda mengatakan –>

            Belas kasihan? bukan..ini aturannya:
            “… Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka …” [QS. An-Nuur (24) : 33]

            Dengan ini budak bisa menebus dirinya sendiri atau menggunakan bantuan dari sistem zakat yang hukumnya juga wajib.

            Silakan cermati ayat yang anda kutip. Adakah kalimat yang mengharuskan atau mewajibkan? adakah sanksi bila diabaikan? kan tidak.
            Itu himbauan. Untuk menebus dari zakat, yang wajib itu zakatnya, budak tidak bisa mengatur-atur alokasi zakat tuannya untuk menebus dirinya.

            Untuk perlakuan Rasulullah terhadap tawanan perang –>

            Oke kita punya contoh dimana Rasulullah menjadikan tawanan sebagai budak. Tapi dalam Islam acuan pertama kita tentunya Al Quran.
            Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa dalam banyak perang lainnya Rasulullah membebaskan wanita dan anak2.
            Menurut para ulama, ada kekhususan disini bila wanita dan anak2 ikut membantu di proses peperangan. “Hukuman” untuk mereka adalah dijadikan budak. Tapi bila mereka tidak terlibat perang maka mereka tidak boleh dijadikan budak.

            Bisa anda beri sumbernya saat Rasulullah membebaskan wanita dan anak2 pihak yang kalah berperang dengan cuma-2?
            Rasul membebaskan pihak yang kalah biasanya dengan tebusan, misalkan mengajar baca tulis pada tawanan perang Badar atau di perang-perang lainnya, bebas bila masuk Islam.

            Sikap Islam terhadap perbudakan –>

            Jadi menurut saya dijaman sekarang dimana semua orang telah merdeka. Islam pun melarang perbudakan. Anda menyimpulkan yang lain? silahkan itu hak anda…

            Anda bisa bedakan nggak antara Islam sebagai hukum dan sikap penganut Islam?
            Yang melarang perbudakan adalah mayoritas pemeluk Islam saat ini, bukan Islam sebagai hukum.
            Karena Islam sebagai hukum referensinya jelas, yaitu Qur’an dan Sunnah Nabi. Teks-2 Qur’an masih berbicara tentang perbudakan, Nabi mencontohkannya dan dua sumber di atas tidak bisa dianulir. Anda tidak bisa mengatakan ayat ini-itu sudah tak berlaku, atau tindakan nabi itu sekarang tidak Islami.

    • 22 Juli 2016 pada 7:41 pm
      Permalink

      @nafiz… kalo quran berbicara tentang perbudakan sudah pasti itu biadab titik…. seluruh duniapun tau kalo sampai saat ini semua umat muslim mengikuti perintah quran dan semua umat islampun tau, yakin dan percaya bahwa kitab suci quran berlaku sepanjang hayat bahkan lebih dari sekedar yakin kalo tiap surat, tiap ayat, tiap huruf dalam quran mengandung makna sakti dan wajib di ikuti tidak peduli apapun bunyi surat dan perintahnya … anda menyarankan kita kembali bayangkan bila kita lahir 1000 tahun yang lalu dan menganggap normal perbudakan pada saat itu.. kalo gitu coba anda bayangkan kalo anda yang jadi budaknya. apakah itu normal buat anda… apakah anda berpikir bahwa para budak itu dengan senang hati, gembira ria, senyum sumringah atau berlomba lomba menawarkan diri menjadi budak…

      Balas
      • 23 Juli 2016 pada 4:16 pm
        Permalink

        @ManiseManise: Anda terlalu menyederhanakan dan menyama-ratakan umat Islam.

        Tahukah anda, bahwa saat ini ada puluhan negara Islam atau mayoritas penduduknya muslim? Berapa banyak yang melegalkan perbudakan? Tidak ada.

        Secara de-facto umat Islam sudah tidak menggunakan 100℅ hukum agama. 

        Yang bersikeras untuk menjalankannya 100℅ (termasuk perbudakan) hanyalah kelompok minoritas yang sayangnya paling lantang bersuara dan beraksi.

        Di Indonesia, mayoritas umat Islam adalah kelompok NU dan Muhammadiyah yang sayangnya suaranya sering tertutup oleh kelompok fundamentalis PKS, FPI, HTI dan sebagainya.

        Balas
      • 25 Juli 2016 pada 6:47 am
        Permalink

        yang memperbudak saya tetep beradab. dan saya mungkin akan mencoba untuk menebus diri saya.

        Saya pribadi menentang perbudakan tanpa ragu.

        Apakah anda tahu agama yang dalam kitab utamanya secara jelas melarang perbudakan?

        Balas
  • 22 Juli 2016 pada 8:27 pm
    Permalink

    Assalaamualaikum wrwb, saya coba menanggapi tulisan di atas
    Dari Q.S. Al Mukminuun ayat 5-7 dan Q.S. An Nisaa 24 yg penulis angkat sebagai dasar, saya belum mau menyanggahnya, yg jelas dari ayat2 itu tolong digaris bawahi “BUDAK2 yg KAMU MILIKI” Nahhhhhhh………….., bagi yg gak punya ya…….. jgn coba2 deh dg sengaja nyari-nyari sendiri apa lagi membuat perempuan bebas merdeka LALU dijadikan BUDAK SEX. Selanjutnya, bila dilihat dari “PENGEJAWANTAHAN” ayat2 tersebut oleh Nabi sebagai Uswah kita dalam melaksanakan ayat2 tersebut diatas, JELAS terlihat bahwa Nabi tidak dengan sengaja “MENCARI” BUDAK, apalagi untuk dijadikan budak SEX. Di dalam kasus Maria Al Qabtyya jelas itu datang sendiri sebagai HADIAH, lalu Nabi memuliakannya dg memperlakukannya dg sewajarnya sehingga niat “MELINDUNGI” yg lemah dapat berjalan tanpa harus menentang adat keji yg waktu itu masih kuat mengakar, malah jika ada penerus keturunan dari budak itu bisa jadi manusia merdeka.
    Kesimpulannya, Islam tidak menyuruh “MENCARI” budak sek, namun, JIKA MASIH ADA manusia disekitar ISLAM yg dipelakukan sebagai BUDAK, lindungilah, hormatilah hak-haknya, lalu bila mampu, bebaskanlah. Ingat,dari kasus budak sex ini jelas terlihat, NIlai-nilai ISLAM diberlakukan umat manusia hanya sampai batas masa Khulafaurrasyidin, selanjutnya, BUKAN SEBAGAI PATOKAN perilaku MUSLIM…….. yg jelas, BARANGSIAPA yg masih nyari budak sex dengan sengaja, itu bukan perilaku seorang MUSLIM

    Balas
    • 23 Juli 2016 pada 5:22 pm
      Permalink

      @Aris Koerniaone: saya coba simpulkan komentar Anda.

      • Islam tidak melarang perbudakan serta memberikan aturan mengenai perbudakan. Alasannya macam-macam, dan menurut Anda tujuannya baik.

        Saya setuju bahwa itu baik, dengan catatan, baik di jamannya tapi bila dibawa ke jaman modern, itu biadab.

      • Anda mengatakan Nabi tidak dengan sengaja mencari budak, apalagi untuk budak seks. Dari sejarah, kita tahu bahwa Nabi beberapa kali menaklukan wilayah kafir, menawan penduduknya sebagai budak dan mengambil wanita tercantiknya untuk dirinya. Saat mengalahkan Bani Qurayzah, Nabi mengambil Rayhanah, saat menghancurkan Khaybar Nabi mengambil Safiyah binti Huyay.
      • Anda mengatakan –>

        Ingat,dari kasus budak sex ini jelas terlihat, NIlai-nilai ISLAM diberlakukan umat manusia hanya sampai batas masa Khulafaurrasyidin, selanjutnya, BUKAN SEBAGAI PATOKAN perilaku MUSLIM

        Ini cucitangan atau apa? Memperbudak tawanan perang itu dilakukan nabi kok, menggunakan budak seks juga dilakukan nabi kok. Hal-hal lain misalkan istana Harem itu tak lain adalah improvisasi terhadap apa yang sudah dilakukan nabi.

      Balas
  • 18 Agustus 2016 pada 5:58 pm
    Permalink

    Bismillahirrohmaanirrohiim..
    Utk pak judhianto, anda beriman kpd Allah, Yg Maha pngasih dan pnyayang.. Tp anda lupa bahwa Allah jg memiliki sifat2 lain..
    Allah adalah Tuhan yg Maha kuasa atas segala sesuatu, yg Maha mengetahui segala sesuatu.. Ilmu anda dan Ilmu Allah mngkin umpama buih dan lautan.. Dan Allah sudah menetapkan sesuatu, lalu dngan angkuhnya anda bilang kalo aturan Allah salah??

    Balas
    • 18 Agustus 2016 pada 6:10 pm
      Permalink

      @Noerhadi: saya secara jelas menyatakan tidak setuju dan menentang perbudakan serta perbudakan seks, lalu anda menganggap saya angkuh.

      Jadi pendapat anda sendiri (yang tidak angkuh) bagaimana? anda setuju dengan perbudakan dan perbudakan seks?.

      Jelaskan dong kepada saya dan pembaca semua bagaimana mulianya memperbudak manusia dan menggunakannya sebagai pemuas seks. Siapa tahu kami semua mendapat hidayah sehingga dengan tawadhu memperbudak orang lain dan menggunakan budak wanita sebagai pemuas seks…

      Balas
  • 30 Agustus 2016 pada 10:00 am
    Permalink

    pak Judianto, dari tanggapan anda terhadap komentar Aris Koerniaone diatas anda mau menyimpulkan bahwa penaklukan yg dilakukan Nabi terhadap wilayah kafir termasuk juga perang2 penting dalam sejarah Islam semata2 untuk mendapatkan budak2 wanita yg cantik2 agar bisa jadi pemuasnya/ budak seksnya. bukannya untuk dakwah atau pembebbasan suatu negeri dari kemusyrikan? kalau tindakan Nabi Allah yang mulia saja sudah anda cap seperti itu. yasudah tak usah bernabikan Muhammad kalau tak mau menerima. toh anda bisa jadi muslim juga karena adanya perang2 dan penaklukan nabi di masanya. kemudian masa khilafah 1200 yg terus2an anda cerca itu. ingat ya, nenek moyang orang Indonesia sampai pada kita sekarang ini bisa merasakan nikmatnya iman dan islam berkat kuasa Allah melalui khalifah2 Nya yg mengirim utusan untuk mendakwahkan tauhid ke indonesia. kalau tak mau menghargai usaha dari zaman khilafah dengan hanya mencari celah dalam hukum Islam kemudian mencercanya yasudah tak usah menerima Islam sama sekali sebagai ad-dien (sistem hidup, way of life)

    Balas
    • 30 Agustus 2016 pada 12:42 pm
      Permalink

      @Abdul Ghani: saya tertarik mengutip komentar anda berikut:

      … anda mau menyimpulkan bahwa penaklukan yg dilakukan Nabi terhadap wilayah kafir termasuk juga perang2 penting dalam sejarah Islam semata2 untuk mendapatkan budak2 wanita yg cantik2 agar bisa jadi pemuasnya/ budak seksnya

      Silakan baca komentar saya lagi. Yang saya sampaikan adalah beberapa fakta yang sudah terjadi dalam sejarah, saya tidak menyinggung motifnya apalagi mengatakan semata2.

      Jika anda tidak setuju dengan pendapat saya, tinggal tunjukkan saja di bagian mana fakta yang saya sampaikan salah dan tunjukkan koreksinya, bukan berkomentar kesana-kemari sampai menyebut nenek moyang Indonesia dan penghargaan usaha zaman khalifah segala 🙂

      Silakan belajar memperhatikan apa yang dituliskan orang lain, bukan mengarang pikiran orang, lalu marah-marah.

      Balas
  • 29 September 2016 pada 4:17 am
    Permalink

    Orang yg setuju pembudakan dan perbudakan seks sepertinya jomblo dan orang orang maniak seks kayanya nihkepengen dan berharap kali ye..pengen beli yah budak sex.?. ingin di legalkan?? haha
    Udah jelas biadab!! klo gua mah ga peduli itu di boleh kan di alquran atau engga
    Yg penting kan ga di wajibkan .. et dah mikir dua kli sih klo di wajibkan juga kebanyang kan jaman modrn kaya skg.. haha emg tu budak cewe nya mau ridho apa udah di suruh suruh kerja keras banting tulang berjam jam terus di suruh memuaskan hasrat tuan nya lagi di kamar…. astagfirullah dan seterusnya seperti itu.. lalu klo udah bosen jual .. cari yg baru haha kan gila emang nya cabe cabean? Eh Ah Udah sudahlah.. Wkwk pasti tuh cewe sakit batin.. klo ada di jaman sekarang bisa aja sih.. paling banyak yg bunuh diri tuh budaknya.. wkwk
    Manusia punya otak punya hati nurani.. klo meski di alquran itu di perbolehkan dan bukan termasuk perbuatan tercela.. ya udah lah jangan di ikutin lahian kan ga di wajib pin. . Dan klo ada org yg keukeh setuju apalagi menerapkan perbudakan seks karena beranggapandi alquran di perbolehkan.. seperti isis dll .. ah da isis dll mah teroriis atuh udah jelas orang jahat semua.. haha tenang aja dinegara manapun saya kira ga akan ada lah yg mau jdi budak sex nya juga.. kecuali suriah dan yg 2 tdi.. ah da ada isis ketang itu juga.. tpi gua yakin isis juga pasti maksa cewe tersebut buat jadiin budak budaknya.. ialah klo gamau pasti di gorok kan.. haduh sama aja merkosa *kayanya..
    Nah klo di negara negara lain saya kira ga akan ada dan klo pun ada kita kan negara hukum .. hukum mati aja sekalian org yg menerapkan perbudakan sex nya.. kan sudah jelas ada di pasal pasal kan.. jdi walaupun dia bilang ini bukan perbuatan tercela karena ada dalam alquran.. ya kita tinggal jawab.. yah betul perbudakan sex bukan lah hal yg tercela karna ada di surat itu lah saya gatau yg ada di alquran.. tpi ini kan kita tinggal di negara ,negara yg punya peraturan..hukum hukum dan mempunyai ham.. yg tak boleh dilanggar .. jadi yah sudah jelas orng yg melanggar hukum tembak mati sekalian*dooorrr

    ✌✌ piece pak jhudi saya di pihak anda.. sorry gabut tapi asli pokonya saya juga sangat tidak setuju pak..
    Tidak setuju bukan berarti menantang kehendak allah.. tpi tidak setuju karena perikemanusiaan.. hehe

    Balas
  • 29 September 2016 pada 4:46 am
    Permalink

    Bayangin yg jdi budak kita atau keluarga kita.. haha klo ada yg setuju berarti ga punya otak !! Siapa yg mau sih heh jdi budak biarpun itu di perboleh kan ya jangan pernah untuk mencoba atau mencari atau merasa ingin karena punya alasan halal..
    Pikir aja pake logika memang tidak dosa karna di perbolehkan.. tapi membuat orng menderita tersiksa batin dan raga.. tetep aja dosa !

    Jangan nurutan isis da isis mah orang jahat.. haha
    Berjuang katanya.. Enak enakan sosoan garis keras tpi mana sama aja .. sama nafsu mah kalah siapapun juga.. mentang mentang di perbolehkan jadi seenaknya memperlakukan wanita dijadikan budak sex.. gua yakin dipaksa tuh cewe cewe buat jadi budak! Haha Kalah aja sama nafsu mah siapa pun juga..

    Balas
  • 29 September 2016 pada 3:52 pm
    Permalink

    Kita buat semua menjadi simple saja ya.. Kan perbudakan itu tidak wajib, didalam islam sunnah namanya…. Jadi kalau tidak dilakukan didalam islam kan tidak berdosa. Jadi masalahnya apa sih sampai ribut begini??? Negara melarang perbudakan, apakah masalahnya sama org islam?? Ada?? Kalau ada tolong beritahukan.Tidak boleh menjudge sesama muslim org itu kafir atau bid,ah. Bukan hak kita. Lain halnya kalau masalah budak ini masalah yang wajib ya harus dibela mati matian. Masih banyak hal 2 sunnah lain yang bisa dilakukan yang tidak akan menimbulkan perpecahan yang bahkan pahalanya jauh lebih banyak dari memperbudak orang seperti sholat tahajjud dll.

    Balas
    • 30 September 2016 pada 10:35 am
      Permalink

      @Goo: sederhana saja, yang saya tulis adalah:
      1. Fakta bahwa perbudakan dan perbudakan seks itu diperbolehkan dalam hukum Islam, diberi contoh oleh Nabi dan dipraktekkan dalam masa 1200 tahun kekhalifahan Islam.
      2. Pendapat saya jelas, itu biadab dan saya menentangnya, tak perduli sekuat apapun dalil pendukungnya.

      Yang seru adalah reaksi komentator. Dari yang mengkafir-kafirkan saya, yang ngeles mbulet ke mana-mana, atau yang lari dari topik seperti anda ini (mendingan cari pahala dari hal sunnah seperti tahajut) 🙂

      Balas
      • 6 Oktober 2016 pada 3:27 pm
        Permalink

        zaman sekarang orang islam sudah tidak melegalkan perbudakan lagi yang melegalkan perbudakan adalah orang kristian seperti yg berlaku di sumba timur indonesia

        Balas
        • 6 Oktober 2016 pada 3:35 pm
          Permalink

          @Aim: anda ngerti gak makna legal? yaitu ada undang-undang yang mengesahkan sesuatu perkara.

          Supaya fair, tolong sebutkan undang-undang mana dan bunyinya bagaimana yang mengesahkan perbudakan di Sumba Timur?

          Balas
  • 10 Oktober 2016 pada 4:59 pm
    Permalink

    pemerintah indonesia jelas melarang perbudakan seperti hukum pasal 297 KUHP pasal 324 KUHP pasal 4 UU HAM pasal 20 UU HAM yang megesahkan perbudakan di sumba timur adalah pemerintah sumba timur atas nama adat golongan hamba adalah golongan yang tertindas disana anak hamba tidak dapat bersekolah kerana tidak disekolahkan oleh tuannya mereka diperjual belikan atau ditukar dengan haiwan peliharaan anak hamba terpisah dengan ibunya kerana mengikut tuannya yang baru berkahwin ke rumah baru tuannya sebagai ata ngandi untuk lebih jelas Pak Judhianto boleh datang ke sumba timur untuk melihat sistem perbudakan disana

    Balas
    • 10 Oktober 2016 pada 6:45 pm
      Permalink

      @Aim: secara legal Pemerintah Indonesia melalui KUHP dan UU HAM sudah melarang perbudakan, namun dari cerita anda ada praktek perbudakan di Sumba Timur.

      Jadi yang terjadi adalah (menurut anda) ada pelanggaran KUHP dan UU HAM di Sumba Timur. Jika anda memiliki bukti-buktinya, tentunya anda bisa melaporkannya ke pemerintah pusat seperti Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau sekalian ke Presiden RI.

      Saya yakin bila anda bisa memberikan data yang akurat, pelanggaran KUHP dan UU HAM ini akan ditindaklanjuti.

      Balas
      • 1 November 2016 pada 7:43 pm
        Permalink

        Bismillahirrohmannirrohim..
        Assalammualaikum warahmatullahi wabarakaatu..

        Saudara yudhianto serta saudara2 ku pembaca lainnya.. 

        Menyimak pembahasan yang panjang ini bahwa apa yang telah penulis dan pembaca tuangkan adalah rentetan ilmu pengetahuan dan wawasan yang terbungkus pemahaman / pendapat berdasarkan apa yang saudara lihat/baca dan yang saudara dengar . Kemudian saudara olah dalam alam pikiran / akal masing2 dengan standar keyakinan masing2 serta didukung dalil2 nya. Padahal pemahaman Al-Quran itu merupakan anugerah Allah.  Seperti dalam firman Allâh SWT.

        (QS: al-baqarah 269)

        يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

        Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

        Mengapa demikian? Pemikiran dan pemahaman yang lahir dari manusia itu pastilah tidak sempurna kecuali melalui ilmu al-hikmah. Karena landasan kasih dan sayang manusia tidaklah seluas, sedalam dan sesempurna yang Allah miliki. Sehingga dalam pemikiran dan pemahaman manusia cenderung sempit dan terbatas oleh pengetahuannya atau oleh masanya ( zamannya) . Sesungguhnya Allah lah yang Maha Mengetahui Apa yang ciptaannya tidak ketahui.

        Sehingga terlihat jelas tanpa landasan ayat tersebut diatas, pemahaman2 yang beragam itu saling merasa benar dan maksudnya pun ikut beragam. Walhasil bermunculan oknum2 dari dalam yang biasanya cenderung mengambil yang tersirat dan menafikkan yang tersurat ,maupun pihak dari luar yang cenderung mengambil yang tersurat dengan menafikan yang tersirat. Bahkan ada oknum yang menggunakan tehnik dengan menambah atau mengurangi bahkan membuat kabur suatu surat / ayat dgn Metode tertentu sehingga makna ayat suci tersebut berubah menjadi sangat sempit (Radikal) atau menjadi sangat samar (liberal) dengan maksud agar menimbulkan keraguan atas keaslian kitab suci tersebut dan berujung perpecahan umat sehingga bermunculan aliran2 dan agama2 Allah menjadi bercabang – Cabang mengikuti zamannya dan terkotak-kotak mengikuti manusianya ( golongannya) . Sebagaimana dalam firman Allah  SWT ;

        Surat Ar-Rum, ayat 30-32
        {فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32) }
        Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

        Al-quran diturunkan petunjuk bagi manusia dan orang2 yang bertaqwa, bagi yang benar dan bagi yang bathil. 

        Allah SWT berfirman:
         
        ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
         
        Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al Baqarah ayat 2),
         
        Juga firman-Nya:
         
        شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
         
        Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)… (QS. Al Baqarah 185). 

        Kedua ayat di atas menyebutkan secara jelas bahwa Al Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (huda lil muttaqin), yakni orang-orang yang memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; juga sekaligus menjadi petunjuk bagi manusia secara umum (huda linnaas). Bagaimana pengertian masing-masing dan di mana letak persamaan dan perbedaannya? 
         
         
        Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa Al Quran merupakan petunjuk manusia dari kesesatan, merupakan penjelasan yang mengantarkan kepada hukum-hukum yang benar, dan merupakan pembeda yang membedakan antara yang haq dan batil. 
         
        Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah SWT memuji Al Quran sebagai petunjuk qalbu manusia bagi yang mengimaninya, membenarkannya, dan mengikutinya. Juga sebagai dalil-dalil dan hujjah yang jelas dan nyata bagi yang memahami dan mentadabburinya. 
         
        Imam As Syaukani dalam tafsirnya Fathul Qadir menerangkan bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi manusia (huda linnaas), dan juga penjelasan-penjelasan (bayyinnaat) yang khusus tentang hukumnya, baik yang muhkam maupun mutasyabih, juga sebagai al furqan yakni pemutus perkara yang haq dan yang batil.  
         
        Dengan demikian jelaslah bahwa Al Quran sebagai sumber kebenaran bagi kehidupan manusia telah memberikan jalan bagi manusia agar bisa menyibak jalan lurus dari segala kesesatan dan memberikan bekal pengetahuan hukum kepada manusia untuk memutuskan berbagai perkara yang dihadapinya sehingga tahu mana yang haq dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram. Tanpa Al Quran manusia berada dalam jalan kesesatan, tak akan mampu membuka tabir kegelapan dan tak akan mampu memutuskan perkara apapun dengan kebenaran yang hakiki. 
         
        Oleh karena itu, kebenaran Al Quran bersifat mutlak, berlaku bagi siapapun, di mana pun dan sampai kapan pun selama dunia ini masih ada. Maha benar Allah SWT yang telah memerintahkan Nabi-Nya Saw, yang berkuasa atas masyarakat di kota Madinah, yang beriman maupun tidak beriman, untuk menghukum perkara mereka dengan hukum yang diturunkan Allah dalam Al Quran sebagaimana firman-Nya:
         
        وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ …
         
        Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka…(QS. Al Maidah 49).
         
        Dalam menerangkan kalimat “di antara mereka” (bainahum) dalam ayat tersebut Ibn Abbas r.a. mengatakan itu adalah suku-suku Yahudi Bani Quraizhah, Nadlir, dan penduduk Khaibar. Dalam ushul fiqh, ada kaidah “min baabil aula”, yakni apalagi. Jadi kalau untuk kaum Yahudi saja Allah SWT perintahkan Baginda Rasulullah Saw. menerapkan hukum Al Quran, apalagi untuk kaum muslimin. Dengan demikian hukum-hukum Al Quran berlaku sebagai kebenaran hukum bagi seluruh umat dan bangsa dimana pun dan kapanpun sampai Al Quran ditarik dari muka bumi menjelang hari kiamat. 
         
         
        Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (huda lilmuttaqin) menurut Ibnu Abbas r.a. yakni Al Quran menjelaskan kekufuran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan maksiat yang keji. Dikatakan juga Al Quran merupakan karamah bagi orang-orang mukmin dan rahmat bagi orang-orang yang bertaqwa dari umat nabi Muhammad Saw. , yakni orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara gaib seperti surga al jannah, neraka an naar, jembatan di atas neraka as shirath, timbangan amal di hari kiamat al mizan, perhitungan  amal al hisab dan lain-lain yang semua dijelaskan di dalam Al Quran.   
         
        Hanya orang-orang yang mukmin yang muttaqin yang merasa perlu mengetahui bagaimana keadaan hari kebangkitan dari kubur, hari pengadilan di padang mahsyar, dan bagaimana kesudahan nasib manusia, apakah akan mendapatkan kenikmatan abadi dalam al jannah ataukah mendapatkan derita tiada akhir di dalam neraka jahannam wal’iyaadzu billah. 
         
        Orang-orang kafir hanya butuh kehidupan dunia dan mereka menafikan akhirat sehingga kalau ada manfaat keduniaan dari Al Quran mereka percaya, tapi manfaat keakhiratan mereka mendustakannya.  
         
        Al Quran menjadi petunjuk bagi orang-orang mukmin yang bertaqwa yang beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab samawi sebelumnya, mereka menegakkan sholat sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang memberinya hidup dan menginfakkan sebagian rizki yang diyakini sebagai pemberian Allah SWT untuk membantu kaum fakir dan berbagai kebajikan lainnya.  
         
        Orang-orang kafir menolak melakukan sholat sebagai tanda kufur kepada Allah SWT karena mereka menolak bahwa keberadaan mereka di dunia adalah karena rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa. Mereka merasa keberadaan mereka adalah ada dengan sendirinya. Dan segala rizki yang mereka peroleh adalah hasil jerih payah dan kecerdasan mereka sendiri, tanpa ada campur tangan apalagi karunia dan rahmat Allah SWT.  
         
        Jelaslah bahwa Al Quran sebagai petunjuk hidup bagi manusia (huda linnaas) memiliki ketersediaan untuk dimanfaatkan petunjuknya oleh siapapun manusia, yang beriman maupun tidak beriman. Sedangkan sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa (huda lill muttaqin) Al Quran memberikan jalan terang tentang peta jalan (road map) hidup manusia dari negeri dunia ke negeri akhirat, sehingga setiap saat manusia yang beriman perlu senantiasa memohon hidayah kepada Allah agar hidupnya tetap di jalan Islam yang lurus, tidak melenceng ke jalan sesat sedikit pun, menyesuaikan diri dengan syariat Allah SWT yang sempurna, terikat dengan hukum halal haramnya dalam hidup sehari-hari, senantiasa menjadikan kebahagiaannya adalah bila berhasil melangkah menuju ridlo Allah SWT. 
         
        Bagi orang mukmin yang muttaqin, membaca Al Quran akan senantiasa menambah keimanan dan keyakinannya dalam menjalani hidup ini sebagaimana firman-Nya:
         
        إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
         
        Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfal ayat 2).

        Maka in syaa Allah apabila kita memahami ;

        Tafsir Surat Al Mu’minun, ayat 1-11
        {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
        Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

        QS: an-nisa 24

        “dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki. (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kalian. Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian itu, (yaitu) mencari istri-istri dengan harta kalian untuk dikawini, bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kalian terhadap sesuatu yang kalian telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

        Dalam qalamullah diatas, dengan izin Allah marilah kita kaji sesuai dengan prinsip2 Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan bagi orang2 beriman.

        Sesungguhnya Dialah Dzat yang maha sempurna. Yang memiliki alam semesta beserta seluruh isinya dan membungkusnya dengan penuh Kasih Sayang. Dialah yang Menguasai segala urusan Dunia maupun Akhirat.Tiada keraguan terhadap apapun yang Dia miliki, karena apabila Dia memiliki, maka Dia memiilikinya dengan sempurna dan apabila Dia menguasai maka Dia akan menguasainya dengan Sempurna pula. Alquran adalah Qalamullah sebagai perwujudan Milik-Nya yang penuh kasih Sayang dan Qallam-Nya yang bijaksana meliputi seluruh alam semesta hingga Akhirat.

        Apabila Dia (Allah) berfirman maka sempurnalah Firman-Nya. Hal ini dapat kita buktikan bahwa dari masa berlakunya, kepada siapa berlakunya, penyebab berlakunya, akibat berlakunya, manfaat dan tujuan berlakunya, dll yang begitu sempurna nya tidak dapat disebutkan semuanya karena pemikiran dan pemahaman kita yang terbatas ini.

        Sehingga Qalamullah yang di dalam QS : Al-mukminun ayat 5-6 dan QS : An-nisa 24 berlaku tidak terbatas kepada “Sang Tuan” tetapi juga “sang budak” kemudian ayat tersebut juga mengakomodir kepentingan kedua belah pihak bahkan pihak ketiga yang terkait langsung maupun tidak langsung termasuk kedalamnya hubungan sebab-akibat dari perbudakan tersebut, dll ( hanya atas izin Allah kita dapat mengerti dan memahaminya kepada tingkat pengertian yang lebih luas dan pemahaman yang lebih mendalam) . Sesungguhnya inilah Bukti bahwa Al-quran adalah Mukzizat dari Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

        Itulah sedikit sekali yang dapat saya sampaikan karena itulah keterbatasan saya sebagai Hamba Allah karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. In shaa Allah saudara2 mendapatkan Al-hikmah dari Allah sehingga menambah keimanan kita terhadap kitab suci Al-quran.
        ‎Amin yra..

        Wabillahitaufiq wal hidayah

        Wassalammualaikum wara[truncated by WhatsApp]

        Balas
        • 1 November 2016 pada 9:28 pm
          Permalink

          @Amanda: artikel ini berbicara jelas, tentang perbudakan dan budak seks dalam sejarah Islam. Saya tunjukkan landasan dalilnya dan contoh dari Nabi Muhammad. Anda berkomentar tanpa ada korelasinya dengan artikel saya.

          Kalau sekedar berbicara normatif, Islam memang selalu hebat. Sama seperti teorinya Komunisme, petuahnya Mario Teguh atau iklan kecap.

          Namun sebagus apapun sebuah dogma, teori atau petuah; yang lebih penting adalah prakteknya.

          Yang saya tunjukkan adalah prakteknya melalui sejarah nabi.

          Kalau Anda tak setuju, tunjukkan saja fakta-fakta yang mendukung pendapat Anda, bukan mendongeng tentang indahnya Islam.

          Bukankah ada pepatah yang mengatakan: “Hidup tak seindah cocotnya Mario Teguh”

          🙂

          Balas
          • 2 November 2016 pada 11:36 am
            Permalink

            Assalammualaikum wrb.
            Salam Sejahtera..

            Yth. Bp. Yudhianto

            Saya sangat tertarik dengan tehnik berdiskusi anda, yang menurut saya banyak sekali manfaatnya dan ingin sekali saya belajar dari anda.

            Saya mencoba melanjutkan tanggapan Anda atas komentar terhadap pembaca bernama Amanda.

            Sebelumnya untuk menyamakan persepsi dalam diskusi kita agar berkorelasi dgn artikel anda, izinkan saya mengajukan beberapa pernyataan dan pertanyaan terkait perbudakan seperti didalam artikel anda, sbb ;

            Bahwa, Perbudakan sudah ada sebelum zaman Nabi Muhammad saw.‎
            Bahwa, Perbudakan masih berlaku pada zaman Nabi Muhammad
            Bahwa, Perbudakan masih berlaku pada zaman tabi’in, Tabi’t tabi’in ( zaman ke khalifahan ) 
            Bahwa, Perbudakan diatur dalam surat an-nisa ayat 24 dan surat Al-mukminun ayat 1-11.
            Bahwa Perbudakan zaman sekarang sudah dihapus sejak lahirnya Magna charta dan dipertegas pada tahun 1689 M di Inggeris dengan lahirnya Bill of Rights.
            Bahwa zaman sekarang sudah tidak ada lagi perbudakan di seluruh penjuru dunia.

            Adapun terkait pernyataan no. 1 s/d 6, ada beberapa pertanyaannya, yakni ;

            Pada tahun brp SM perbudakan pertama kali terjadi di dunia?dmn?kalau ada siapa budak pertama di dunia?
            Apakah latar belakang perbudakan pada zaman sebelum Nabi Muhammad saw? Zaman Nabi Muhammad saw? Zaman para sahabat? Zaman kesultanan Islam? Dan Zaman zekarang (bila masih ada)?
            Hukum apakah yang pertama kali mengatur tentang perbudakan?dmn? Hukum buatan tuhan atau buatan manusia?
            Apa yang diatur terkait perbudakan oleh Al-quran dalam kasus ini adalah surat an-nisa ayat 24 dan surat Al-mukminun ayat 1 – 11?
            Apakah ayat tersebut Asli dari Tuhan atau sudah dipelintir manusia?‎
            Kalau itu buatan manusia, siapa yang membuatnya?dan kapan dibuatnya?‎ Dmn dibuatnya?
            Apakah perbudakan sudah tidak ada lagi zaman sekarang?

            Demikian kiranya 6 pernyataan dan 6 pertanyaan yang saya ajukan ini, semata2 untuk menjaga korelasi diskusi ini dan menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.

          • 2 November 2016 pada 1:53 pm
            Permalink

            @Zuriat RM. Akil b R. Amir V.: hadeeh… ini jaman internet, tak ada waktu berbasa-basi.

            Pendapat anda bagaimana?
            kalau tidak setuju dengan pendapat saya, di bagian mana? dan apa argumen anda?

          • 3 November 2016 pada 7:25 am
            Permalink

            Pendapat anda yang harus di Jelaskan dan di klarifikasi :
            1.Dalam kisah Maria Al-Qabtiyya

            Asal – usul Maria Al
            -Qabtiyya adalah budak yang merupakan hadiah dari Penguasa Mesir bernama Muqaquis. Setelah 1 Tahun bersama Nabi Muhammad SAW, Maria melahirkan seorang bayi laki – laki yang diberi nama Ibrahim oleh Nabi sendiri. Tetapi Bayi tersebut meninggal dunia Karena sakit pada usia 19 bulan dan dimakamkan langsung oleh Nabi di Baqi.

            Dalam Kisah tersebut anda menulis ; “ Status Maria tidak begitu jelas, Ada yang mengatakan akhirnya Nabi menikahinya dan ada pula yang mengatakan Nabi tidak menikahinya”.

            Mohon anda klarifikasi posisi anda pada kalimat diatas. Menurut anda Nabi menikahinya atau tidak?

            2.Dalam Kisah Selir para Khalifah

            Terkait kisah tersebut anda menulis ; “Para Selir adalah budak wanita cantik yang dibeli khusus untuk keperluan seksual. Dalam Khalifah Otoman di Turkey, para budak itu dibeli saat menjelang remaja. Mereka mendapat perawatan dan pelatihan khusus agar bias melayani Khalifah dengan sempurna. Mereka ditempatkan di Istana Harem yang merupakan fasilitas khusus untuk Khalifah. Para penjaganya adalah Budak laki – laki yang sudah dikebiri untuk memastikan tidak terjadi skandal antara para para selir dengan penjaganya”.

            Mohon anda klarifikasi nara sumber terkait para penjaga selir tersebut telah dikebiri. Mudah2an informasi tersebut bukan berasal dari anda sebagai penulis seorang diri.

            Mohon anda jelaskan apa bedanya selir dengan budak?

            3.Dalam Tulisan Anda “Salahkah memelihara Budak Seks?”
            “Jika bertanya kepada MUI, Hizbuth Tahrir dan Abu Bakar Ba’asyir mereka akan menjawab secara hukum Syariah Boleh. Karena itu berdasarkan Hukum yang ada dalam Al-quran. Semua hukum yang ada di Al-quran adalah mutlak benar dan tidak boleh dibatalkan oleh siapapun. Mungkin mereka akan mengajukan sedikit excuse, tapi intinya adalah hukum Islam sudah sempurna dan tidak bias diubah lagi.”

            Jangan anda menuduh MUI,dll sebelum benar2 ada statement resmi dari mereka. Jadi diskusinya tetap hangat. Supaya tetap pada korelasi artikel anda, sebaiknya diJelaskan Qur’an Surat Apa dan ayat berapa yang membolehkan memelihara budak seks? Jika anda berpendapat tafsir surat al-mukminun ayat 5-7 dan surat an-nisa ayat 24 adalah dalil untuk menghalalkan memelihara budak seks, berarti anda terlalu terburu-buru dan tergesa – gesa dalam menafsirkannya sehingga menjadi agak kasar dalam melampiaskan nafsu anda yang besar ini. Sebaiknya anda mencari ayat lain atau kitab lain yang menurut anda lebih mendukung hasrat anda itu. Karena Kitab suci Al-Quran ini sebagai petunjuk bagi orang2 yg bertaqwa (QS.2:2), petunjuk bagi manusia untuk membedakan yang hak dan bathil (QS.2:185)serta Dilindungi dan dijamin oleh Allah swt mengenai keasliannya seperti dalam firman Allah dalam Surat Al- Baqarah ayat 2 dan ayat 185.

            “Anda Menentang hukum yang membolehkan manusia di perjual-belikan. Dan menolak manusia diperlakukan sebagai binatang yang bisa diperlakukan seenaknya”.
            Mohon dijelaskan, hukum mana yang membolehkan manusia di perjual – belikan? Saya rasa justru hukum dimanapun,kapanpun dan apapun itu lahir untuk mengentaskan jual-beli manusia. Kecuali Tahun 12.000 SM karena Hukum tentang Human Trafficking memang belum ada, jadi jual-beli manusia masih meraja rela.

            “Tak ada yang abadi dan sempurna kecuali Allah swt. Termasuk juga Al-quran dan ajaran Islam. Jika sudah tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan kemanusiaan. Saya akan meolaknya”.
            Mohon dijelaskan dan diklarifikasi Kalau memang menurut anda Tidak ada yang abadi dan sempurna kecuali Allah SWT. Apakah Al-quran dan Ajaran Islam bukan berasal dari Allah SWT? Kalo Iya, sebaiknya anda segera mengucapkan dua kalimat syahadat supaya menjadi pemeluk agama Islam yang baik dan benar. Amin yra…

          • 3 November 2016 pada 11:15 am
            Permalink

            @Zuriat RM. Akil b R. Amir V.: saya coba komentari pertanyaan anda
            Maria Al-Qabtiyya. Menurut anda Nabi menikahinya atau tidak?
            Hal terpenting yang mengesahkan pernikahan adalah akad nikah dengan prosedur tertentu. Saya tidak pernah membaca riwayat tentang akad nikah Nabi dengan Maria, jadi saya menyimpulkan dia tidak dinikahi. Kalau anda bisa menunjukkan riwayat tentang akad nikahnya, tentu saya bisa mengubah kesimpulan saya.

            Beda Harem dan Selir, serta penjaga harem yang dikebiri
            Anda terobsesi sekali dengan definisi, untuk beda harem dan selir silakan baca ulang tulisan saya. Bila tidak cukup cerdas untuk mengerti, klarifikasikan ke saya apa yang anda tangkap.
            Untuk penjaga harem yang dikebiri, saya kutip dari tulisan Burak Sansal, seorang pemandu wisata bersertifikat Turkey yang menguasai sejarah negaranya, silakan kunjungi link berikut: http://www.allaboutturkey.com/harem.htm . Di paragraf 9, ditulis
            Eunuchs were the integral other half of the harem. Eunuchs were considered to be less than men and thus unable to be “tempted” by the harem women and would remain solely loyal to the Sultan. Eunuchs were castrated men and hence possessed no threat to the sanctity of the harem.

            Menuduh MUI?
            “Jika bertanya kepada MUI, Hizbuth Tahrir dan Abu Bakar Ba’asyir mereka akan menjawab secara hukum Syariah Boleh. Karena itu berdasarkan Hukum yang ada dalam Al-quran. Semua hukum yang ada di Al-quran adalah mutlak benar dan tidak boleh dibatalkan oleh siapapun. Mungkin mereka akan mengajukan sedikit excuse, tapi intinya adalah hukum Islam sudah sempurna dan tidak bias diubah lagi.”
            Anda memahami bahasa tidak? ada kata kata “Jika” di depan kalimat saya. Itu artinya bukan aktual.

            Jika anda berpendapat tafsir surat al-mukminun ayat 5-7 dan surat an-nisa ayat 24 adalah dalil untuk menghalalkan memelihara budak seks, berarti anda terlalu terburu-buru dan tergesa – gesa dalam menafsirkannya sehingga menjadi agak kasar dalam melampiaskan nafsu anda yang besar ini.
            Kenapa anda tak tanyakan ini kepada Nabi Muhammad? Para Khalifah? Anggota ISIS? mereka kan mempraktikkan perbudakan dan budak seks?
            Lalu tafsir anda sendiri bagaimana?

            Hukum Perbudakan
            “Anda Menentang hukum yang membolehkan manusia di perjual-belikan. Dan menolak manusia diperlakukan sebagai binatang yang bisa diperlakukan seenaknya”.
            Mohon dijelaskan, hukum mana yang membolehkan manusia di perjual – belikan? Saya rasa justru hukum dimanapun,kapanpun dan apapun itu lahir untuk mengentaskan jual-beli manusia.

            Hukum mana? salah satu contohnya ya hukum Islam, silakan baca kitab fiqh. Saya beri salah satu link untuk daftar isi dari Kitab Al-Muwatha Imam Malik, anda bahkan bisa menemui bab tentang garansi penjualan budak: https://books.google.co.id/books?id=qMjhCwAAQBAJ&pg=PR13&lpg=PR13&dq=kitab+jual+beli+budak&source=bl&ots=qKJT0ULNGM&sig=LR3VZEPq7nhp2fCAcGbFo__mEcs&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjr8q3t14vQAhXJN48KHRJICnQQ6AEIUDAO#v=onepage&q=kitab%20jual%20beli%20budak&f=false

            Qur’an yang abadi
            Kalau memang menurut anda Tidak ada yang abadi dan sempurna kecuali Allah SWT. Apakah Al-quran dan Ajaran Islam bukan berasal dari Allah SWT?
            Apakah jual-beli budak masih bisa diterima saat ini? bukannya tidak, karena hampir semua negara di dunia ini melarang perbudakan.
            Jadi apakah ayat Qur’an yang melandasi perbudakan bisa dijadikan hukum positif? kan tidak.
            Artinya apa? ayat Qur’an yang mengakomodir perbudakan sudah ditolak untuk dijadikan hukum di dunia ini. Hukum perbudakan ternyata tidak bisa berlaku abadi, dan hukum perbudakan itu merupakan bagian dari Qur’an. Itu hanya salah satu saja bagian Qur’an, ada banyak bagian Qur’an lain yang tidak bisa diterima atau tidak sesuai dengan fakta. Anda masih anggap Qur’an abadi?

          • 3 November 2016 pada 10:47 pm
            Permalink

            Terkait Jawaban anda atas pertanyaan saya dapat saya simpulkan bahwa diskusi terkait artikel yang anda tulis ini tidak dapat dilanjutkan ke tahap / babak selanjutnya. Karena terdapat perbedaan prinsip yang sangat mendasar dari 5 pertanyaan yang saya ajukan. Berikut saya berikan alasan2nya baik yang memberatkan dan meringankan saudara, sbb:

            Alasan yang Memberatkan :
            1. Bahwa atas Dasar belum adanya riwayat yang menceritakan tentang perkawinan antara Nabi Muhammad saw dgn Maria Al-Qabtiyya, maka saudara menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad telah mecampuri Maria Al-Qabtiyya dengan cara tanpa dinikahi atau dengan kata lain tanpa Dasar atau tergolong perbuatan ZINAH. Hal ini bertentangan dengan 4 sifat Nabi Muhammad saw yang patut di teladani yaitu shiddiq ( benar), Amanah ( dapat dipercaya), Tabligh ( Menyampaikan) dan Fathonah ( cerdas) .
            Sedangkan anda telah mengutarakan pendapat dengan dasar sifat mustahil dari Nabi Muhammad saw sebagai kesimpulan atas dasar sesuatu yang samar sehinggah menimbulkan Fitnah bagi seorang Nabi besar bagi umat muslim. Oleh karena pemahaman anda yang demikian, maka akan menjadi sia2 diskusi ini dan tidak akan membuahkan hasil yang bermanfaat bagi umat. 

            Bertolak dari pemikiran anda tentang sifat mustahil yang ada pada Nabi Muhammad saw, maka wajar saja seluruh apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah swt anda nilai tidak benar sehingga tidak mengherankan jika anda berpendapat bahwa Alquran itu bukan buatan Allah swt dan Islam itu bukan agama Allah swt.

            Alasan yang Meringankan :

            Anda telah mencoba mempelajari ajaran Islam meskipun dengan maksud untuk mencari kelemahannya. Tetapi banyak memberi wawasan.

            Saran dari saya :

            Berhentilah mencari kelemahan dari Rasul kami Muhammad saw, kitab suci kami Al-quran dan ajaran kami Islam. Karena sampai kapanpun tidak akan anda temukan. 
            Manfaatkan sisa waktu hidup anda dengan menggali ajaran agama lain yang anda yakini benar. Karena itu akan lebih membuat jiwa anda tenang.

            Pesan dari saya :

            Sampai jumpa pada artikel yang lain dan yang lebih panjang diskusinya yah Biar seru..

          • 4 November 2016 pada 12:15 am
            Permalink

            @Zuriat RM. Akil b R. Amir V.: walau Anda tidak hendak melanjutkan diskusi, saya berterima kasih untuk sumbangan komentarnya.

            Saya juga bersyukur, bahwa dari 5 pertanyaan yang anda sampaikan, anda hanya menjelaskan satu yang tidak anda sepakati. Paling tidak untuk 4 hal lain anda tidak menyanggahnya, alhamdulillah 🙂

            Oh ya untuk tambahan tentang Maria, berikut ini beberapa fakta yang tercatat dalam berbagai kitab Sirah Nabi:
            1. Kisah Maria sebagai budak hadiah dari Muqawqis untuk Nabi
            2. Nabi menggaulinya hingga lahir putranya yang diberi nama Ibrahim
            3. Dari Sirah Ibnu Ishaq (kitab Sirah Nabi tertua), Maria tidak dimasukkan dalam kelompok istri Nabi.
            4. Dari catatan Ibnul Qayyim, Maria digolongkan sebagai selir Nabi.

            Dari alasan di atas, saya menyimpulkan Maria memang cuma selir (budak yang digauli seperti istri) dan tidak dinikahi. Kalau anda menganggap Maria pasti dinikahi Nabi dengan alasan karena “Nabi pasti gak begitu”, ya memang cara kita menarik kesimpulan berbeda.

            Untuk penilaian anda terhadap saya, terima kasih. Maaf saya tidak menilai balik anda, saya belum bisa meninggikan diri sendiri agar bisa menilai orang lain.

            Untuk sarannya, terima kasih. Saran saya untuk anda: galilah ilmu dari mana saja untuk membuka wawasan dan melatih diri untuk rendah hati.

          • 5 November 2016 pada 2:48 pm
            Permalink

            Assalammualaikum wrb.
            Salam Sejahtera

            YTH. Saudara Yudhianto,

            Pertama sekali saya memohon maaf atas kalimat2 saya bila terlihat menyombongkan diri ataupun merendahkan. Saya benar2 tidak bermaksud demikian, kalimat itu spontan sehingga terlihat emosi tetapi timbul secara alami dari dalam diri saya. Saya masih belajar mengendalikannya.. Alhamdulillah Allah SWT telah mengingatkan saya melalui saudara Yudhianto dengan saran yang anda tulis untuk saya ; 
            “Galilah ilmu dari mana saja untuk membuka wawasan dan merendahkan diri”.

            Justru saya sangat ingin belajar banyak dari anda.. Seperti dalam firman Allah swt :

            Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 94 
            فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (94) 
            Allah swt. menerangkan sikap pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada Rasul-rasul yang diutus kepada mereka dengan mengatakan: “Jika engkau hai Muhammad ragu-ragu tentang Rasul-rasul dahulu dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, maka tanyakanlah kepada pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani yang telah mengetahui dan membaca kitab-kitab yang telah Kami turunkan itu, sebelum Aku menurunkan Alquran kepada engkau.” 

            Atas segala Respek saya ucapkan banyak terimakasih dan mohon maaf sebesar-besarnya.

            Wassalam
            GBU

    • 13 Oktober 2016 pada 12:42 pm
      Permalink

      Budak itu kan aset yg nilainya tinggi kalau kebetulan dia jariyah disex kan gak pa pa.soalnya budak perempuan kan juga perlu merasakan sex.yg penting perlakukan biadab mereka itu sesuai aturan islam yg rohmatallilalamin

      Balas
  • 2 November 2016 pada 10:51 pm
    Permalink

    penjelasannya tentang kebenaran bkn pembenaran kitab suci itu sgt mengerikan takuuuutttttt

    Balas

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda

Paling Dikomentari

Paling Dibaca

Pilihan Acak

%d blogger menyukai ini: