Tanpa dia, tak akan ada agama Kristen. Ia adalah satu diantara beberapa Nabi terpenting dalam Islam.
Bagi orang Kristen dan Islam, kiamat tak akan terjadi sebelum dia akan kembali kelak di bumi ini.
Dia bukan tokoh dongeng, dia tokoh nyata yang tercatat dalam sejarah.
Bagaimanakah gambaran Yesus dalam sejarah dan kitab suci?
Sejarah Yang Buram
Bangsa Yang Butuh Pahlawan
Yesus lahir di masa suram bangsa Yahudi.
Bangsa yang dulu berjaya di bawah Raja Solomon yang agung dan bijaksana, bangsa yang dipilih Tuhan untuk melahirkan para nabi, ternyata saat itu menjadi bangsa lemah dan dihina oleh penjajahan kaum kafir Romawi.
Beberapa kali perjuangan untuk merebut kembali kehormatan bangsa dan mengusir penjajah dilakukan, akan tetapi ternyata kekuatan militer penjajah terlalu kuat untuk dihancurkan. Romawi dengan mudah menumpas para pejuang kemerdekaan.
Bangsa Yahudi butuh pahlawan yang bisa mengembalikan kehormatan bangsa mereka, yang bisa mengusir penjajah, yang bisa menunjukkan keunggulan mereka sebagai bangsa pilihan.
Pengusir Setan Yang Datang
Yesus lahir di tengah harapan tersebut, tapi ia bukan tipe pahlawan perang seperti Daud yang perkasa.
Yesus tidak datang memakai baju zirah, pedang berkilat, dan sepasukan pemberani dibelakangnya. Ia datang memakai baju sederhana, tanpa senjata dan hanya diikuti sekelompok kecil pengikut setianya.
Ketika kaum kafir Romawi bercokol di negaranya, Yesus tidak datang untuk mengusir mereka. Yesus berkeliling dari desa ke desa, didatangi orang-orang yang sakit dan ia menyembuhkan mereka dengan doa-doa dan mengusir setan yang merasuki mereka.
Ketika kaum kafir Romawi merebut negaranya, Yesus tidak datang untuk merebut balik dari mereka. Yesus berkeliling untuk menjanjikan kerajaan Allah kelak di Surga.
Bersamaan dengan pengusiran setan dan janji kerajaan Allah, Yesus mengajarkan ajaran moral tentang kasih sayang, pengorbanan dan menolak kepalsuan religius yang merebak di antara pemuka Yahudi saat itu.
Yang Dipanggil Dengan Nama Ibunya
Bangsa Yahudi adalah masyarakat patriarki. Setiap anak dipanggil dengan nama ayahnya dibelakangnya, tapi Yesus tidak. Ia dipanggil sebagai Yesus anak Maria (ibunya), bukan Yesus anak Yusuf (suami ibunya).
Ada apa?
Dalam beberapa dokumen Yahudi dan Romawi dari era tersebut, Yesus disebutkan merupakan anak Maria dengan seorang prajurit Romawi bernama Panthera. Mungkin karena ayahnya merupakan antek bangsa kafir maka nama ayahnya tidak dipakai, atau bisa jadi ia merupakan anak hubungan diluar perkawinan antara Maria dan Panthera.
Informasi ini dapat kita lihat dari buku Dinasti Yesus karya James D. Tabor atau buku Memandang Wajah Yesus karya Ioanes Rakhmat.
Akhir Yesus Yang Tragis
Yesus rupanya menjadi populer diantara kelompok miskin dan tersingkirkan di negara yang sakit akibat penjajahan tersebut. Ia tidak populer diantara kelompok penguasa atau pemuka agama Yahudi.
Popularitasnya menjadi ancaman bagi kemapanan penjajah Romawi dan beberapa pemuka Yahudi. Melalui persekongkolan beberapa pemuka Yahudi dan penguasa Romawi, Yesus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Dia dieksekusi setelah melalui proses yang menghinakan. Ia diarak dengan penghinaan prajurit Romawi, disiksa, diberi mahkota duri dan akhirnya disalibkan bersama beberapa penjahat dihadapan khalayak ramai yang sedang merayakan Paskah.
Ia tak berhasil membebaskan bangsanya dari penjajah Romawi, dan bahkan tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari kekejaman tentara Romawi. Ia gagal dan kalah.
Kitab Suci Yang Membuat Berkilau
Ajaran Yesus tidak mati bersama dengan terbunuhnya Yesus. Para muridnya melanjutkan penyebaran ajarannya secara rahasia.
Pada abad pertama Masehi, ketika para murid perdana Yesus sudah tidak ada yang hidup, ajarannya sudah menyebar tidak hanya di tempat kelahirannya saja, akan tetapi sampai juga di kota Roma, ibukota penjajah Romawi.
Untuk keperluan dakwah, mulai sekitar tahun 70M, beberapa penulis Kristen awal mulai menuliskan beberapa dokumen yang kelak akan menjadi bagian dari Kitab Perjanjian Baru.
Dengan semangat mengajarkan ajaran Yesus, dan menguatkan keyakinan pengikutnya menghadapi agama pagan Romawi, maka para penulis awal Kristen berusaha memberikan citra yang positif dan membela Yesus dalam tulisan mereka.
Dokumen-dokumen (yang juga disebut Injil) tersebut banyak sekali, otoritas Kristen belakangan hanya mengakui beberapa dan memasukkannya sebagai bagian dari Kitab Perjanjian Baru.
Beberapa hal menarik dari Injil-injil tersebut adalah:
Memoles Kelahiran Yesus
Kisah Yesus yang dipanggil dengan nama ibunya sangat mengganggu kredibilitasnya sebagai pembawa ajaran moral di masyarakat patriarki, maka penjelasan tentang hal tersebut adalah penting.
Dalam berbagai mitologi tentang pahlawan besar, kehebatan mereka sering dianggap karena mereka bukanlah anak manusia biasa, mereka adalah anak dewa.
Dalam mitos Aleksander Agung (356-323 SM), pada malam pengantin orang tuanya, Raja Filip II (ayahnya) melihat Olympias (ibunya) tidur dililit ular. Sang ibu sendiri bermimpi ada guntur menggelegar masuk tubuhnya. Kisah ini diartikan bahwa Dewa Zeus sendiri yang membuahi Olympias yang kelak lahir sebagai Aleksander Agung.
Dalam mitos yang lebih tua tentang kelahiran Zarathrusta (660 – 538 SM), Dewa Ahura Mazda menitiskan roh abadi kedalam rahim seorang perawan suci. Kelahiran dari perawan suci ini telah diramalkan jauh hari sebelumnya, dan sang anak akan menghancurkan agama kaum Majus. Pada hari kelahirannya, raja Majus mengutus tiga orang untuk mencarinya untuk dibunuh.
Mitos di atas mungkin memberi inspirasi untuk penulisan ulang kelahiran Yesus serta membuat Yesus dan ibunya terhormat dihadapan masyarakat yang kagum dengan mitos-mitos tersebut.
Hasilnya adalah cerita panjang tentang Maria sebagai perawan suci yang seumur hidupnya mengabdikan hidupnya untuk Tuhan, dan sebagai ganjarannya Allah dengan kuasanya membuat ia mengandung Yesus yang kelak menjadi pemimpin manusia. Kelahiran Yesus juga dituliskan telah diramalkan oleh berbagai macam ramalan.
Dalam Injil Matius, dikabarkan beberapa orang-orang Majus dari timur yang sedang mencari raja Yahudi yang akan lahir untuk menyembahnya. Raja Herodes yang merasa terancam akan ramalan ini meminta orang-orang Majus tersebut untuk menunjukkan tempat lahir raja Yahudi tersebut. Ia hendak membunuhnya. Tapi orang-orang Majus tidak mau menunjukkannya dan membuat marah sang raja.
Untuk mencegah ramalan tersebut menjadi nyata, Raja Herodes kemudian memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki di Betlehem yang berumur dibawah 2 tahun. Kisah pembunuhan masal di era Herodus tentunya menimbulkan duka yang dalam di komunitas Yahudi, akan tetapi kisah ini ternyata hanya ditemukan di Injil dan tidak dapat ditemukan dalam catatan sejarah Yahudi dan Romawi di periode yang sama, sehingga diragukan kebenarannya.
Dalam Al-Qur’an, kisah kesucian Maria dan proses kehamilannya yang ajaib masuk sebagai salah satu kisah penting di dalamnya.
Masa Kanak-Kanak Yesus
Yesus dikenal setelah ia mulai berdakwah, masa kecilnya tidak diketahui. Periode yang tidak diketahui ini, kemudian melahirkan beberapa versi Injil yang mencoba menjelaskannya.
Salah satunya adalah Injil Thomas, dalam dokumen ini, Yesus diceritakan sebagai anak yang memiliki mukjizat sejak dari kecil. Berbagai macam kesaktian yang digambarkan dalam Injil ini bahkan terkesan berlebihan yang justru membuatnya menjadi anak yang ditakuti dan tak dimengerti karena kesaktiannya. Injil ini tidak diakui oleh otoritas Kristen, mungkin karena sifatnya yang terlalu berlebihan menggambarkan kesaktian Yesus kanak-kanak.
Walau tidak diakui kebenarannya, salah satu kisah dalam Injil Thomas ini, lolos masuk dalam Al-Qur’an di surat Ali-Imran 49. Kisah yang dimaksud adalah saat Yesus kecil bermain-main membuat burung-burungan dari tanah liat dan kemudian secara ajaib menghidupkannya.
Dokumen lainnya yang dikumpulkan Nicholas Notovich, mengisahkan Yesus pergi berguru ke Tibet sebelum berdakwah di Palestina. Kisah ini juga tidak diakui kebenarannya oleh otoritas Kristen.
Penyaliban Yesus
Ini adalah akhir yang tragis dari seorang pembawa ajaran. Bagaimana tidak, ia dipermalukan dihadapan khalayak ramai di saat perayaan Paskah, sementara tak seorangpun pengikut setianya mau berjihad membelanya sampai mati. Jauh dari gambaran loyalitas pengikut Gandhi yang bergandeng tangan menyongsong senapan mesin tentara Inggris.
Kisah penyaliban Yesus, paling tidak ditulis ulang dalam dua kelompok pendapat.
- Kelompok pertama: menerima fakta Yesus mati disalib, akan tetapi menyodorkan argumen bahwa itu bukan terjadi karena kelemahan Yesus. Yesus digambarkan sukarela mengorbankan diri dengan tidak melakukan perlawanan, rela menderita disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia.
Pendapat ini menjadi dogma inti Kristen masa kini dan ada dalam Injil-injil utama.
- Kelompok kedua: tidak menerima fakta bahwa Yesus mati disalib. Sebagai gantinya pendapat ini menyatakan bahwa yang disalib adalah orang lain. Yesus sebagai utusan Allah pasti tidak dibiarkan oleh Allah yang Maha Kuasa untuk dipermalukan sedemikian rupa.
Pendapat ini ada dalam Injil yang ditemukan di Nag Hammadi Mesir dan diperkirakan berasal dari abad 3 M serta dokumen lainnya dari wilayah Edessa, Syiria. Dalam dokumen ini diceritakan saat penyaliban berlangsung, Yesus asli menyaksikannya dari atas pohon sambil menertawakan penyaliban itu. Ada beberapa perbedaan detil dalam dokumen-dokumen tersebut, akan tetapi inti ceritanya adalah, Yesus tidak mati disalib, ia tidak muncul lagi berdakwah karena Allah telah mengangkatnya dari dunia ini.
Pendapat dari kelompok kedua inilah yang kemudian masuk kedalam kisah Nabi Isa di Al-Qur’an dan membedakannya dengan dogma kelompok Kristen.
Salahkah Kitab Suci?
Tentu tidak, fungsi utama kitab suci adalah menyampaikan ajaran moral, bukan buku pelajaran sejarah.
Salahkah sejarah?
Kata fundamentalis: tentu sejarah yang salah! itu hasil konspirasi ateis, Yahudi atau bahkan Dajjal untuk mengajak manusia ke neraka.
Referensi:
- Ioanes Rakhmat, Memandang Wajah Yesus (Pustaka Surya Daun, 2012)
- Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Di Dunia (Pustaka Al-Husna, 1983)
Saya seorang “fundamentalis” jadi saya tidak percaya dengan sejarah versi ‘sejarawan’ di atas hehe…
@Adif: mantap!…, memang tidak semua orang harus satu pendapat.
Terima kasih komentarnya.
Terima kasih atas pencerahannya.Ada satu alasan mengapa para ahli sejarah dalam hal ini peneliti ‘enggan’ ngutak ngutik yg berhubungan dengan agama.Padahal agama2 itu bisa dibilang historisnya baru kemarin (sekitar 6-8rb tahun yg lalu).Bandingkan dengan keberadaan dinasaurus yg jutaan tahun yg lalu,bisa di ceritakan sedetil-detinya mulai dari habitat,kebiasaan sampai berapa umur waktu dia meninggal bisa diketahui.Sebenarnya ‘MUDAH’ merunut kisah2 agama mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad.Tetapi.walaupun di sodorkan berbagai fakta dan data valid,mereka tetap tidak akan mengakui.mending cuma itu,tidak..! mereka selalu mengiringinya dengan cibiran dan cacian.persis kaya penutup artikel di atas KONSPIRASI ATHEIS..! DAJJAL….!KAFIIIR….!thx..
@Edy: memang bagi banyak orang, agama menjadi wilayah ‘Untouchable’ yang harus dilindungi dengan segala ongkos.
Terima kasih.
@ Edy: yang namanya fakta dan data valid menurut sains atau disiplin ilmu lainnya itu relatif. Hari ini yang disebut valid A besok bisa Z lusa bisa jadi M. Pengetahuan yang diperoleh lewat panca indera dan nalar bisa menipu sebagaimana mata atau pendengaran kita sering tertipu dan keliru.
Paradigma yang mendikotomikan ilmu pengetahuan dengan keyakinan itu sendiri relatif baru berkembang belakangan dalam sejarah (sekitar abad ke-17 M). Masyarakat2 pra-modern khususnya di luar Dunia Barat tidak memisahkan antara ranah pengetahuan empiris-rasional dengan ranah keyakinan spiritual, keduanya saling mengisi dan menguatkan satu sama lain. Konflik agama dengan ilmu pengetahuan (baca: sains) adalah pengalaman spesifik Barat yang belum tentu dialami peradaban2 lainnya namun konflik inilah yang melatarbelakangi lahirnya paradigma sains modern.
Seiring meluasnya kolonialisme Barat paradigma sains modern ala Barat yang dikotomis-dualistis (agama vis a vis sains, ilmu vis a vis iman, kebenaran obyektif vis a vis kebenaran subyektif, dsb)menyebar ke seluruh penjuru dunia dan sebagaimana lazimnya orang terjajah bangsa2 terjajah pun mengekor tuannya dan ikut2an mengadopsi paradigma itu. Secara langsung ataupun tidak, ada relasi kuasa di balik penyebaran sains modern dan paradigmanya kepada bangsa2 non-Barat.
Paradigma sains modern itu sendiri sekarang sudah banyak digugat,tidak sedikit para ilmuwan dan filosof yang merumuskan paradigma baru yang mengintegrasikan sains dengan agama. Jadi tidak harus menjadi seorang yang skeptis atau mengingkari kebenaran faktual ayat2 suci untuk bisa berpikir rasional dan obyektif dan tidak semua orang beragama itu picik, irasional, atau gemar memvonis.
Makasih atas pencerahannya.Saya setuju dgn anda,bahwa kebenaran hari ini belum berarti kebenaran esok atau lusa.Cuma yg saya lihat selama ini,kebenaran yg diyakini oleh kebanyakan orang dgn background agama,sering kebenaran yg tidak bisa di ganggu gugat alias kebenaran mati,ini berbeda dgn trah kebenaran dlm sains yg memang murni relatif.Ia akan gugur dgn sendirinya jika ada kebenaran baru yg muncul.Agama yg diharapkan menjadi pembawa kedamaian,malah kadang berubah fungsi menjadi teror yg meruntuhkan sendi2 kemanusiaan,hanya karena perbedaan dalam melihat kebenaran diantara agama yg ada atau bahkan diantara komunitas mereka sendiri.Lha…,yg saya lihat disini diantara mereka sendiri ‘biasanya’ mereka suka memvonis pihak lain.Saya sendiri suka perbedaan,karna perbedaan itu indah…! Salam kenal Adif.thx
@ Edy: Ya saya akui memang begitu kenyataannya, menurut saya ini karena sikap keberagamaan yang masih kekanak2an. Sebagai sebuah fase dalam perjalanan pengalaman keberagamaan itu wajar2 saja, tapi akan menjadi masalah manakala sikap kekanak2an itu terus dipelihara. Di sinilah perlunya pendidikan yang terus menerus untuk mendewasakan umat beragama.
Untuk mendewasakan umat beragama maka itu adalah tugas dari umat beragama itu sendiri. Di sini diperlukan peran dari kaum intelektual religius dan para pemuka agama yang tercerahkan. Jika peran ini dilakukan kaum intelektual sekuler yang cenderung sudah bersikap apriori terhadap agama maka bukannya menyelesaikan masalah malah bakal menambah masalah baru. Jadi biarkan peran ini dijalankan saja oleh ahlinya.
Salam kenal juga bung Edy!
Assalamualaikum
Hehheehheee, mas ini pintar luar biasa, inti cerita ini adalah bahwa apa yang tercantum saat ini hanya sebatas dari karangan para pengagumnya Yesus, dimanipulasi agar terlihat hebat. Ujung-ujungnya banyak pengikutinya dikemudian hari.
Weleh weleh tentunya cerita ini analog dengan apa yang terjadi di sirah nabi Muhammad, banyak bumbu yang ditambahkan. Itulah sebabnya banyak anggautanya menganggap luar biasa, dengan kata lain di Tuhankan, diharapkan banyak pengikutnya, ujung-ujung yaa duit lahhh.
Fakta nya, hehheeehheee baca sendili di internet, misalnya mas Qimni dari universitas al Azhar.
Wassalam
H. Bebey
@H. Bebey: memang kita harus kritis untuk membaca kisah-kisah masa lalu, akan tetapi tidak semua penambahan-2 kisah masa lalu itu karena alasan yang tidak baik misalnya faktor ekonomi.
Banyak orang yang karena kekagumannya terhadap tokoh masa lalu tergoda untuk melebih-lebihkan cerita tentangnya.
Besarnya pelebih-lebihan tersebut dapat dilihat dari kisah Bukhari yang menyeleksi lebih dari 1 juta catatan perkataan & perbuatan Nabi (hadis) dan hanya 7 ribuan yang dapat diverifikasikan jalur penyampaiannya. Sisanya (93%) palsu dan harus ditolak.
Terima kasih.
Mas Yudhi, memang sejarah itu suka berubah jika ada fakta baru. Itulah orang suka mencari kebenaran sejarah, diantaranya mengais dari data yang telah diakui, yang sebelumnya tabu untuk dibahas. Seperti, saat di Mekah, pengikut beliau tidak lebih dari jari tangan, katanya diajari solat dan sebagainya. Kalau kita bahas mengenai solat itu, caranya bagaimana yahh, kan surat fahtihah belum ada, karena surat itu merupakan inti al Qur’an, tentunya kesimpulannya itu didapat setelah semua wahyu diselesaikan.
Boleh-kan mas Yudhi, kita membahas itu, dan banyak lagi-lahh……. Apakah Buchori juga melakukan, sehingga catatan 93 % itu dianggap tidak sahih. Pasti prosesnya sangat memusingkan, wonggg dikerjakan 200 tahun setelah nabi meninggal, mau naya sama siapa, paling-paling pada rumput yang bergoyang, kasian kasian Untunglah aku punya Sang Guru Mursyid, hehehhheeee
@H. Babey: kalau pakai bahasa birokrat: masukan ditampung dulu…
Mengenai kesimpulan kan gak mesti dibelakang, bisa jadi itu semacam konsep yg dibuat dulu, baru detilnya dijabarkan belakangan.
Oh ya, saya salah, kalau Bukhari menyeleksi 7 ribu sahih dari 1 juta hadis –> berarti 0,7% sahih, yang gak sahih 99,3%
Begini ini baru ngaji beneran, dapat ilmu yang selama ini tak pernah terkuak. Mengkaji llmu agama, seharusnya tidak perlu ada yang disembunyikan, sperti contoh almarhum Gus Dur menyampaikan bahwa Quran kitab paling porno, pernyataan ini tidak perlu ditanggapi dengan marah-marah, karena didalam quran ada ayat yang mengatur cara perempuan menyusui anaknya. Seperti banyaknya hadis palsu, ini bisa jadi karena Cak Buchori terlalu capek menyeleksi 1 juta kisah nabi. ingat pada masa itu belum ada komputer, inipun disusun 200 tahun stelah nabi meninggal, bagaimana kira2 validitas hadis-hadis yang ada saat ini.?
@Geloaku: kita hidup di era dimana lebih banyak metode yg bisa digunakan untuk menilai suatu kisah.
Menggunakan metode tsb akan bisa membantu menilai secara jernih inti pesan-pesan agama.
Terima kasih
kalau ada mesin waktu untuk sekedar melihat sejarah, kita ga akan perlu mendebatkan hal hal ini….
seandainya…..
@ikent: sayangnya belum ada mesin waktu, jadi kita pakai yang ada saja yaitu fakta dan akal sehat untuk menilai kisah masa lalu.
Saat ini banyak sekali referensi yang bisa didapat lewat internet yang tidak mungkin didapatkan pada masa lalu, tentang penyangkalan terhadap keberadaan para Nabi maupun Kitab Suci. Dan tentu saja ada buku-buku tentang itu dan tidak akan pernah masuk ke negara kita. Menurutku kita tidak harus menutup mata terhadap semua itu dan harus meyakini walaupun itu berasal dari penelitian ilmiah. Seperti waktu dulu dalam pelajaran biologi SMA ada pelajaran tentang evolusi, kita menganggapnya itu sebagai karya ilmiah titik. Mungkin bisa dibilang “memahami dan belum meyakini”, sebab saya juga bukan ahli tentang hal itu. Yang sering mengganggu pikiran saya adalah, ada banyak teori ilmiah yang muncul dan bertentangan dengan apa yang dituliskan dengan kitab suci. Sementara itu kitab suci adalah sesuatu yang mutlak kebenarannya (berdasar kitab kitab suci itu sendiri). Walaupun ada banyak usaha pembenaran agama berdasarkan sains. Ada sebuah video menarik, orang ini menjabarkan dari buku “homeric epics and the gospel of mark” http://youtu.be/4jOzCMy9e5E. Dan saya berpikir itu juga logis. Tetapi jika saya harus mulai berpikir bahwa kisah kisah dalam kitab suci adalah sebuah pesan moral yang harus ditafsirkan, dibagian mana harus saya tafsirkan dan bagian mana yang tidak boleh ditafsirkan. Kalau Ibn Rusyd menyatakan “Semua orang lain wajib membaca Al-Quran secara harafiah, tetapi kaum faylasuf mampu mengupayakan penafsiran simbolis”. Yang jadi masalah, apa kriteria faylasuf, siapa yang berhak menggolongkan orang ini faylasuf atau bukan? Atau jangan-jangan itu adalah sebuah pembenaran yang buta terhadap logika? Bukankah tragedi galileo galilei adalah kesalahan berdasarkan penafsiran kitab suci? Kenapa Tuhan menciptakan akal jika itu akan menolak eksistensinya? Mungkin di neraka kelak isinya adalah para ilmuwan yang dianggap telah menentang Tuhannya yang telah memberinya akal untuk berpikir dan berkarnya untuk kebaikan umat manusia. Dan jika Tuhan memang eksis, He must be love drama….
@Qurious: Kitab Suci pada masa lalu mungkin sebagai sumber kebenaran satu-satunya. Pada saat ini, ia hanya satu di antara banyak sumber untuk membentuk perilaku dan dasar tindakan manusia.
Mungkin kita bisa menganalogikan kisah kitab suci dengan cerita yang pernah dikisahkan oleh ibu kita di masa kecil dulu. Apakah setelah kita tahu bahwa kancil tidak bisa bicara seperti dalam dongeng kancil, kita akan menganggap ibu kita pembohong? atau semua petuahnya omong kosong? tentu tidak…
Cinta dan hormat kita kepada Ibu kita tak akan terpengaruh oleh fakta itu, hanya sekarang kita sadar bahwa kancil hanyalah sarana yang dipakai Ibu dan disesuaikan dengan pemahaman kita saat kita masih kecil dulu. Bahkan kita mungkin akan bacakan terus cerita kancil itu kepada anak-anak kita sebelum mereka tidur, itu masih cara yang efektif untuk menyampaikan pesan dan mempererat hubungan kasih kita dengan anak kita.
Di bagian mana yang boleh ditafsirkan dan dimana yang tidak? saya pikir tidak ada yang bisa memberikan batasan ini selain diri kita sendiri. Silakan anda pilih batasnya dan jangan paksa orang lain untuk memahami kitab suci sesuai dengan pilihan anda.
Terima kasih.
Hihi… sayangnya Yesus bukan Nabi Isa a.s.
http://debu-semesta.blogspot.com/2011/06/nabi-isa-alaihis-salam-yesus-jebakan.html
Alhamdulillah….
Om, headernya feminin sekali…
@Samaranji: Yesus bukan Nabi Isa?
Yesus yang merupakan figur yang terekam dalam sejarah, kalau bukan dia, lalu siapa Nabi Isa? semacam pahlawan Hercules yang hidup dalam dunia khayal?
Terima kasih komentarnya.
Nabi Isa a.s ya seorang Nabi… dalam perjalanan sejarah wajar dong jika kisahnya didramatisir oleh para agamawan Yahudi en politikus Yunani-Romawi menjadi Yesus (plesetan dari Zeus kaleee)
Yaaaa… anggap aja kaya kisahnya Guru Budha yang mengajak monotheis tapi terdistorsi menjadi ajaran nihilisme… tong kosong tapi isi gitulaah http://debu-semesta.blogspot.com/2012/05/kosong.html
Ajaran Sri Krishna dari Acintya terdistorsi jadi brahman – bhagavan – paramatma…
Hmmmmm… emang Sejarah kalo didramatisir jadi kayak dongeng Naruto
@Samaranji: tengkyu komennya
saya jadi ingat sebuah sabda Illahi begini,”…janganlah memberikan emas berlian kepada anjing dan babi karena hanya akan di injak-injak dan dikotori lantas ditinggalkan pergi..”.
oleh karena itulah saya tetap menyimpan sejajar dan berderet beberapa kitab suci yg ada di dunia ini apapun latar belakang saya, bukan menyimpan satu dan membuang yg lain..
semoga tercerahkan…
Awal dari persimpangan antara umat islam dan kristen. Yang dikemudian hari sejak diturunkannya nabi Muhammad S.A.W menambah besar jarak simpangan antara keduanya.
@Yanileviathan Ahmad: terima kasih
Saya seorang katolik, tapi saya juga tidak peduli mana yg benar dan mana yg salah. Yg penting adalah apa yang diajarkan Yesus kepada kita, Yaitu Cinta Kasih
@Lomo: benar, yang penting manfaatnya bagi seluruh manusia.
Terima kasih.
Marilah kita merenung sejenak dengan hati putih dan hati yg adem tanpa sekat paham dan agama kita…
Misalnya saja kita belum pernah melihat gajah, maka untuk mempresentasikan seekor gajah dg baik, kita minimal mesti merangkum beberapa keterangan/data lantas baru bisa bikin kesimpulan/gambaran secara utuh tentang gajah setelah bertanya kepada si A, B, C, D, E, F, G, H yg masing-2 secara berurutan hanya memiliki keterangan/data tentang ; belalai, mata, gading, kuping, kaki, perut, ekor dan mulutnya.
Apa yg terjadi bila kita hanya mengutip keterangan/data dari A, B saja..? Tentu kita akan mendapatkan bentuk gajah yg aneh, karena gajah akan kita presentasikan/gambarkan hanya terdiri dari belalai dan mata saja.!! Akan sangat berbahaya bila ini kita presentasikan di kelas dg murid yg masih lugu-lugu dan ndak banyak nanya.
Kita akan dianggap lucu juga bila kita malah mengutip keterangan/data dari K, L, M yg mendapatkan pemaparan/data dari A dan B saja dan atau dg menambah mengutip keterangan/data dari P, Q, R, S yg kesemuanya sama-sama mendapatkan pemaparan/data dari A, B tapi sambil kita tetap TIDAK MAU atau menolak/menafikkan keterangan/data dari C, D, E, F, G dan H walaupun ini sangat berguna untuk melengkapi keterangan/data agar presentasi/penggambaran kita tentang gajah menjadi lengkap dan baik.
Namun demikian, walaupun kita misalkan saja memang belum pernah melihat gajah, maka akan terkesan bhw pemaparan/penggambaran kita tentang gajah seolah-olah didukung keterangan/data dari berbagai sumber data yg sahih karena mengutip berbagai sumber, misalnya; A,B,K,L,M,N,P,Q,R,S. Tapi tetap saja gambaran yg kita presentasikan adalah gajah yg TANPA kaki, gading, perut, ekor, kuping, dan mulut…. sehingga gajah yg kita presentasikan/gambarkan adalah gajah yg cacat karena hanya terdiri dari belalai dan mata saja…
Semoga semua makhluk berbahagia….
wassalam…
@Tan: memang untuk mendapatkan informasi yang mendekati kebenaran, kita harus berani mencari keterangan dari banyak sumber dengan lapang dada.
Terima kasih.